Selasa, November 22, 2016

Jangan Suka Mencari Kesalahan Bawahan

Tulisan di bawah adalah kutipan dari http://djajendra-motivator.com/?p=1101 diakses pada 17 Nov 2016 jam 11:34

Mudah-mudahan jadi motivasi bagi kita untuk jadi pemimpin yang bijak.

“Sikap Suka Mencari Kesalahan  Akan Menjadi Kontra Produktif .”-Djajendra

Salah satu sikap buruk yang harus dihindari pemimpin adalah sikap mencari – cari kesalahan dari bawahan. Bawahan tak mungkin berani berkutik atas lemparan kesalahan kepada diri mereka oleh pemimpin mereka. Sikap diam dan pura – pura patuh pada pemimpin adalah perilaku bawahan yang terjajah. Pemimpin yang suka melempar kesalahan pada bawahan adalah tipe pemimpin yang tidak bertanggung jawab.

Perilaku yang suka mencari kesalahan diakibatkan oleh rendahnya kemampuan dan rasa percaya diri. Hal ini disebabkan oleh upaya untuk menutupi kelemahan dan kekurangan diri sendiri.

Kerugian organisasi atas perilaku kepemimpinan yang suka mencari kesalahan adalah sangat besar. Kinerja organisasi hanya akan berjalan di tempat tanpa kemajuan apa pun, dan rasa tidak suka dari para bawahan kepada pemimpin berpotensi merusak keharmonisan hubungan kerja.

Pemimpin yang bijak pasti menyadari bahwa sikap suka menyalahkan bawahan adalah sikap buruk. Pemimpin yang tak mampu memikul tanggung jawab organisasi dengan integritas tinggi akan kehilangan kredibilitas. Pemimpin harus bisa membuka diri untuk melihat semua hal secara positif, dan tidak menyudutkan bawahan dengan kesalahan.

Pemimpin adalah seseorang yang dianggap oleh para bawahannya mampu membantu mereka dengan berbagai macam solusi jitu. Oleh karena itu, pemimpin harus mampu merangkul semua bawahan. Dan mendorong bawahan untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab melalui etika kerja yang baik.

Pemimpin bijak tidak akan duduk diam sambil melihat kesalahan dan kelalaian berlalu-lalang dalam sistem organisasi, tapi secara proaktif ia akan membimbing dan mengarahkan semua bawahan menuju kinerja maksimal.

Pemimpin bijak pasti mengerti manfaat besar dari sikap tidak menyalahkan orang lain, serta memahami sikap merangkul dan memotivasi semua kekuatan sumber daya manusia sebagai perilaku terbaik untuk menghasilkan kinerja terbaik.

Jumat, Oktober 28, 2016

Beramal dengan Benar dengan Bahasa

Beberapa waktu yang lalu dalam grup WA koperasi syariah masjid saya, ada beberapa kerancuan
yang muncul dalam hal ucapan "doa" untuk kesembuhan anggota keluarga dari anggota koperasi.
Masalahnya sih sederhana, yaitu dari penggunaan kata ganti (dhamir) yang terdapat dapat
ucapan "syafakallah", "syafakillah", "syafahullah", dan "syafahallah" (Ini tidak saya tulis
dengan hukum mad-nya ya).

Sebenarnya sih, ucapan-ucapan di atas tidak dapat kita temui secara tegas dalam hadits-
hadits Nabi ya. Dalam hadits, yang ada malah lafaz doa yang tegas. Ucapan-ucapan ini dalam
pandangan saya, ya boleh saja, karena ini adalah ucapan yang secara wajar akan muncul dalam
berbahasa Arab pergaulan sebagai harapan baik kita. Tentu harapan baik ini secara tidak
langsung adalah doa. Saya ambil contoh jika ada saudara kita akan bepergian ke luar kota,
kemudian kita berkata kepadanya: "Hati-hati di jalan ya. Mudah-mudahan Allah memberikan
kelancaran dan keselamatan selama kamu bepergian".

Yang jadi masalah adalah orang-orang menggunakan ucapan-ucapan ini secara salah, misalnya
kepada dia (laki-laki), diucapkan "syafakillah". Ya ini jelas salah. Mestinya "syafahullah".
Oleh karena itu, dalam grup yang saya sebut di atas, saya terangkan hal ihwalnya tentang
penggunaan ucapan-ucapan itu yang benar.

Nah, dari kejadian ini nampak bahwa amal yang diniatkan dengan baik, bisa keliru karena
salah ucap. Kelihatannya sederhana, tetapi bagi orang biasa yang tahu bahasa Arab, tentu
jadi terdengar aneh. Mudah-mudahan saja dimaafkan oleh Allah.

Paparan saya ini bukan mempermasalahkan penilaian atau maaf yang diberika Allah ya, tetapi
untuk mengajak supaya beramal yang sekalian benar dari segala aspeknya, termasuk dari segi
bahasanya. Mudah-mudahan Allah memudahkan upaya kita untuk ini.

Aamiin.

Ditulis untuk materi kuliah via WA grup Alumni Al-Ikhlash, Kubang Selatan, Coblong, Bandung.

Jumat, Oktober 14, 2016

Ujian Hidup

Barusan sore tadi ada mahasiswa saya yang menghadap saya ke ruangan saya. Singkat kata, dia mau mengundurkan diri karena ada 2-3 mata kuliah pada semester ini yang dia tidak bisa pahami.

Saya heran karena sebenarnya mahasiswa ini sejak dia masuk, menunjukkan prestasi yang bagus. Nilainya kalau bukan A, ya B. Jadi saya pandang, dia ini punya potensi besar dalam memahami kuliah, bahkan jika dibandingkan teman-temannya yang lain. Tentu saya sekali jika potensinya "diputus" begitu saja dengan pengunduran dirinya.

Setelah saya mendengar kemauannya tersebut, saya katakan bahwa saya berkeberatan dengan pengunduran dirinya. Kemudian saya coba gali latar belakang atau sebab yang membuatnya menyatakan kemauan mengundurkan diri tersebut.

Dia bercerita bahwa pada awalnya dia mengalami kesulitan memahami beberapa mata kuliah tersebut. Dia sudah coba bertanya kepada teman-temannya yang paham, bahkan dosen-dosennya, tapi tetap saja tidak paham. Puncaknya pada saat UAS pada salah satu mata kuliah tersebut, dia tidak bisa jawab sama sekali. Lembar jawabannya sampai kosong. Sejak itulah dia down.

Saya tanyakan apakah ada kegiatan-kegiatan atau sesuatu yang lain di luar yang mengganggu belajarnya, dia katakan tidak ada. Tapi kemudian dia katakan bahwa dia merasa dengan kondisi yang dia alami di atas, nilai semester ini akan turun. Yang dia khawatirkan adalah nilai kumulatif nantinya akan turun. Selain itu juga harapan orang tuanya yang mungkin jadi tidak terpenuhi, karena nilai yang tidak sesuai ekspektasinya.

Setelah mendengar penuturannya, saya kemudian bercerita, kilas balik tentang perjalanan kuliah S1 saya. Saya ceritakan bahwa dulu nilai-nilai saya banyak C-nya. Bahkan ada kuliah-kuliah yang saya ulang sampai jadi hattrick, maksudnya diulang sampai 4 kali. Tapi saya sampaikan juga, bahwa mungkin dia dan saya berbeda. Saya katakan bahwa saya pernah beberapa kali gagal, sampai sekarang. Jadi kalau kemudian gagal lagi, ya seakan biasa saja. Sedangkan dia, mungkin selama ini selalu mendapatkan hasil yang bagus, yang sesuai keinginannya. Tapi begitu dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, langsung down. Oleh karena itu, saya sampaikan kepadanya bahwa itulah hidup, tidak semua yang dia inginkan akan dia dapatkan. Saya sampaikan bahwa mungkin ada hal lagi nantinya yang lebih parah daripada yang sekarang. Kalau dia down sekarang, bagaimana nanti?

Saudara-saudara,
Saya bukannya memberikan alasan kegagalan sehingga orang harus merasa biasa kalau gagal. Saya cuma perlu menyampaikan bahwa dalam hidup, ada saja kemungkinan di mana kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Pada sebagian kondisi/perkara, bisa saja kita sebut itu ujian. Kalau sudah begini, ingat bahwa tiap manusia pasti akan diuji. Saya ambil dari https://almanhaj.or.id/3450-setiap-muslim-akan-menghadapi-ujian-dan-cobaan.html:

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan [Âli ‘Imrân/3 : 186]

Catatan:
Sebagai bahan pemikiran juga, perlu dilihat juga bagaimana proses pendidikan anak oleh orang tua. Orang yang pada masa kecil atau remaja selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, tidak pernah merasakan kerasnya hidup atau kegagalan, bahkan mungkin semua hal dipenuhi atau dilayani orang tua, bisa mudah down ketika mengalami sekali kegagalan atau tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Dia mungkin akan membentuk anaknya dengan cara serupa. Dan akhirnya akan membentuk karakter anaknya serupa dengan karakter dirinya.

Sekedar selingan, saya kutip potongan puisi yang katanya dari Jendral McArthur berjudul "Doa Untuk Putraku" dari http://www.kompasiana.com/elynrambukaborang/doa-untuk-putraku-dari-jenderal-douglas-macarthur_55009537a333113072511514:
----
----
Ya Tuhan, bimbinglah ia bukan di jalan yang gampang dan mudah tetapi di jalan penuh desakan, tantangan dan kesukaran Ajarilah ia: agar ia sanggup berdiri tegak di tengah badai dan belajar mengasihi mereka yang tidak berhasil
---
---
Ditulis di Bandung untuk materi Kuliah via WA grup Alumni Al-Ikhlash, Kubang Selatan, Coblong, Bandung

Jumat, September 30, 2016

Sepotong Tinjauan dalam Perniagaan Syar'iy

Dalam beberapa pekan ke belakang, saya membahas hadits-hadits tentang perniagaan menurut sunnah Nabi SAW dari kitab Bulughul Maram. Di sini saya tidak akan membahas hadits-hadits tersebut, tetapi saya akan singgung materi yang terkait ini dari Al-Quran, yaitu surat Al-Muthaffifiin ayat 1-6, sbb:

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (١) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (٢) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (٣) أَلا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ (٤) لِيَوْمٍ عَظِيمٍ (٥) يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ        (٦)

Terjemah:

  1. Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang),
  2. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,
  3. dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.
  4. Tidakkah orang-orang itu mengira, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,
  5. pada suatu hari yang besar,
  6. (yaitu) pada hari (ketika) semua orang bangkit menghadap Tuhan seluruh alam.

Dikutip dari: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-muthaffifin.html

Kalau kita ditanya, sebagai muslim, apakah pegangan hidup kita, maka kita akan mudah menjawab, yaitu Al-Quran dan Sunnah Nabi kita. Betul, bukan?

Terus, apa hubungannya dengan ayat-ayat ini?

Menilik pada apa yang terjadi di sekitar kita, bahkan termasuk yang ada pada kita, maka sebenarnya pernyataan kita tentang Al-Quran dan Sunnah Nabi kita di atas, mungkin perlu dipertanyakan. Kenapa? Karena jawaban kita pada dasarnya perlu pembuktian, dalam hal ini adalah pembuktian dalam kehidupan nyata sebagai konsekuensi dari pernyataan kita. Artinya harus nyata adanya penerapan Al-Quran dan Sunnah Nabi kita dalam kehidupan nyata ini.

Namun kalau melihat diri kita sendiri, maka ada saja hal, perbuatan atau sifat kita yang ternyata menyimpang dari tuntunan Al-Quran maupun Sunnah Nabi kita. Salah satunya adalah perilaku haram dalam perdagangan sebagaimana yang diancamkan dalam ayat-ayat di atas. Disebut ancaman, karena adanya celaan dan dikaitkan dengan kondisi pada hari kiamat. Artinya perilaku ini termasuk perbuatan dosa yang berat, sekalipun tidak disebutkan adanya hukum had dalam hal ini.

Secara nyata, dalam perdagangan, bisa sebagai pembeli atau penjual, orang bisa melakukan kecurangan. Apa bentuknya? Ya sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat di atas:

  • Sebagai pembeli, kalau ditimbang/ditakarkan, minta dipernuhi. Bahkan bisa jadi minta dilebihkan, tanpa ada keridhaan dari penjualnya.
  • Sebagai penjual, ketika menimbang/menakar, sengaja menguragi. Misalnya saja dengan merekayasa alat timbangan/takaran.

Perilaku di atas tentu sangat beresiko dunia dan akhirat, terutama dalam pengurangan timbangan/takaran. Di dunia, dalam hukum positif negara, hal ini termasuk perbuatan yang diancam dengan hukuman pidana. Di akhirat pun jelas ada ancaman siksaan sebagaimana tersirat dalam ayat-ayat di atas.

Sebagai orang yang ingin selamat di dunia dan akhirat, maka sudah semestinya kita menghindari praktek-praktek terlarang seperti ini. Ada ulama yang mengaitkan ini dengan dzikir seseorang kepada Allah. Kenapa? Karena seseorang yang ingat kepada Allah, pasti akan menjauhi perilaku seperti ini.

Berniaga yang bersih, pada dasarnya akan membawa keuntungan dunia dan akhirat. Kenapa? Karena dalam pandangan manusia, akan menimbulkan citra positif yang ujung-ujungnya akan membawa keuntungan juga. Dalam pandangan Allah, juga akan membawa kebahagiaan sampai akhirat. In syaa'allaah.

Ditulis untuk materi Kuliah via WA grup Alumni Al-Ikhlash, Kubang Selatan, Coblong, Bandung

Jumat, September 16, 2016

Sepotong Aspek Qira'atul-Qur'an

Materi kali ini saya buka dengan tanya jawab antara saya dan murid saya yang mengajukan pertanyaan via email sekira 2 tahun yang lalu. Begini potongan pertanyaannya:

"v dah nanya maksud yg ummi itu,
jd kata beliau ini sebetulnya rasulullah itu bukan tidak bisa baca bukan tidak paham.
seperti di surat al.mukminun ayat 108, 107, 111

penulisan قا ل
ayat 108 ditulis قا ل
ayat 107 dan 111 ditulis قل

dari sini bisa jadi rasulullah itu dibimbing oleh Allah.."

Saya jawab:

"Kalau saya menilai pernyataan beliau tentang definisi ummiy dan penulisan Al-Quran, sepertinya pakai logika ya.

Coba merujuk kembali sejarah bagaimana wahyu itu ditulis, baik di zaman Nabi hidup maupun sesudahnya, termasuk saat penyusunan mushhaf di masa kekhalifahan Utsman. Dari situ terlihat bahwa keterlibatan Nabi bisa dikatakan dalam penyusunan urutan/penempatan ayat, tetapi tidak dalam penulisannya. Adapun penulisannya, semata-mata dari para shahabat penulis wahyu.

Mungkin jadi timbul pertanyaan, bagaimana kalau shahabat itu asal menulis atau salah menulis?

Saya jawab, tidak mungkin. Kenapa? Karena pada saat penulisan wahyu (maksudnya yang kita kenal sekarang ada pada mushhaf yang kita pegang), pasti ada saksinya. Bahkan pada saat pengumpulan tulisan wahyu dalam satu mushhaf di masa Abu Bakar, tidak akan diterima tulisan tersebut, kecuali ada 2 saksi yang menyaksikan bahwa tulisan tersebut dibuat di hadapan Nabi.

Adapun perbedaan tulisan dalam satu mushhaf, saya pandang ini konsekuensi dari penulisan wahyu yang harus bisa dibaca dengan qira'ah sab'ah (tujuh qiraah). Para shahabat penulis wahyu di masa kekhalifahan Utsman berusaha menulis dengan tulisan yang bisa tetap menjaga qiraah-qiraah tersebut. Bahkan konsekuensinya, jumlah mushhaf resmi sebenarnya lebih dari satu, semata-mata untuk menjaga qiraah-qiraah tersebut.

Saya tidak tahu apakah Akang yang menerangkan tulisan Al-Quran itu belajar qira'ah sab'ah atau tidak. Kebetulan saya pernah belajar, jadi saya tahu benar bahwa lafazh  ?? itu bisa dibaca dengan cara berbeda, misalnya; "qoola" dan "qul", menurut qiraah yang berbeda. Bahkan saya punya satu mushhaf yang isinya mencakup cara bacanya dengan tujuh qiraah yang berbeda."

Ada beberapa hal yang patut jadi perhatian:

  1. Kita perlu mengerti tentang sejarah Islam. Sebenarnya kalau kita belajar hadits, kita dengan sendirinya juga belajar sejarah, karena sejarah Islam ditulis berdasarkan hadits juga.
  2. Kita perlu mengerti bahwa Al-Quran diturunkan dengan beberapa qira'aat. Mushhaf yang ditulis resmi pada zaman kekhalifahan Utsman, dapat mengakomodir qira'ah-qira'ah yang berbeda. Tetapi yang selama ini kita pelajari, bahkan mushhaf yang selama ini kita pakai, dapat dikatakan berdasarkan qiraah Imam Hafs. 
  3. Mempelajari Al-Quran tidak cukup hanya berlandaskan bisa bahasa Arab saja, apalagi cuma didukung logika. Belajar Al-Quran harus komprehensif ditinjau dari banyak ilmu-ilmu Al-Quran.
Ditulis untuk materi Kuliah via WA grup Alumni Al-Ikhlas, Kubang Selatan, Coblong, Bandung

Kamis, September 01, 2016

Fiqih, Bahasa Arab, dan Tahsin Al-Qur'an

Kodifikasi ilmu-ilmu agama Islam sudah berjalan sejak lama. Dr M Dhiauddin Rais dalam bukunya "Kajian Politik ISlam: TEORI POLITIK ISLAM" terbitan Gema Insani Press tahun 2001, menyebutkan bahwa periode kodifikasi ilmu-ilmu Islam dimulai pada perode Abbasiah. Adapun munculnya gerakan kodifikasi fiqih sendiri dikatakan oleh Umi Nurvitasari Al- Rimbany dalam artikel blognya yang berjudul "Pengertian Fiqh dan Sejarah perkembangannya" (http://surgaditelapakibu.blogspot.co.id/2011/05/pengertian-fiqh-dan-sejarah.html) dikatakan terjadi pada masa pemerintahan Turki Usmani. Dihitung dari periode-periode ini ke masa sekarang, tentu selisih waktunya sudah sangat panjang.

Pada zaman Nabi SAW hidup, tentu kita tidak akan mendapati ilmu-ilmu Islam dalam kodifikasi dengan nama-nama semacam judul di atas. Beliau mengajari para shahabat begitu saja. Jadi kita tidak akan dapati hadits yang menyebutkan, misalnya, hari ini beliau khusus mengajarkan fiqih, kemudian besoknya adalah jadwal beliau mengajar bahasa Arab, kemudian besoknya lagi adalah jadwal mengajar tahsin Al-Quran, dst.

Namun Ulama pada masa kemudiannya, mengkodifikasi apa yang diajarkan beliau demi manfaat bagi ummat seterusnya, sebagai tujuan umumnya. Adapun tujuan khusus dari kodifikasi itu karena masing-masing bagian/ilmu tadi mempunyai tujuan masing-masing.

Sedangkan sebagai hukum secara keseluruhan, mengacu kepada posting Rio Erlangga Maharja dalam blog yang berjudul "Koodifikasi dan Unifikasi" (http://acceleneun.blogspot.co.id/2013/03/koodifikasi-dan-unifikasi.html), kodifikasi tersebut dapat memberikan kepastian, penyederhanaan, dan kesatuan hukum. Kepastian berarti ilmu itu tertulis dalam kitab. Sederhana berarti umat dapat memperoleh, memiliki, dan mempelajarinya. Kesatuan berarti dapat mencegah dari kesimpangsiuran terhadap pengertian hukum yang bersangkutan, berbagai kemungkinan penyelewengan dalam pelaksanaanya, dan keadaan yang berlarut-larut dari masyarakat yang buta hukum.

Berbicara mengenai keuntungan adanya kodifikasi ilmu-ilmu Islam, dalam perjalanan sejarah penyebaran dan pengajaran ilmu-ilmu Islam, kodifikasi tersebut sangatlah bermanfaat bagi umat. Tujuan-tujuan yang disebutkan dalam paragraf di atas pada dasarnya tercapai sehingga banyak kemaslahatan umat yang dapat terjaga. Namun berbicara pula mengenai kerugiannya, tentu ada juga.

Berikut diberikan contoh-contoh sederhana:
- Seorang imam di Indonesia mempunyai bacaan Al-Quran yang sangat bagus, bahkan kebagusan bacaannya diakui oleh Imam Masjidil Haram. Tetapi kalau melihat caranya shalat, ternyata ada gerakan atau sikap shalat yang tidak tepat. Kesimpulan mudahnya: dia kurang paham fiqih shalat. Dalam hal ini bacaan Al-Qurannya yang bagus diperoleh dari belajar Tahsin Al-Quran, sedangkan gerakan atau sikap shalat semestinya didapat dari belajar Fiqih.
- Seorang hafizh di Bandung mempunyai bacaan dan hafalan Al-Quran yang bagus, tetapi terdapat kesalahan-kesalahan dari cara memotong bacaan atau ayat Al-Quran yang dia baca. Kesimpulan mudahnya: dia tidak mengerti makna ayat. Dalam hal ini bacaan Al-Qurannya yang bagus diperoleh dari belajar Tahsin Al-Quran, sedangkan makna ayat semestinya didapat dari belajar Tafsir Al-Quran, atau paling tidak Bahasa Arab.

Kejadian-kejadian di atas adalah fakta dan barangkali pula terjadi pada orang-orang di sekitar kita. Atau malah kita sendiri yang termasuk dalam contoh-contoh seperti ini. Kalau ditanyakan, kenapa terjadi hal-hal seperti ini? Dalam pandangan saya, ini terjadi karena dengan adanya kodifikasi ilmu-ilmu Islam di atas, orang-orang sekarang kemudian "memilih" untuk mempelajari ilmu-ilmu yang dia mau, bukan ilmu-ilmu yang dia butuhkan. Bukan berarti kodifikasi ilmu itu salah, tetapi dapat membuat orang hanya memilih sebagiannya dan merasa cukup dengan itu. Jadi masalah sebenarnya sih adalah "merasa cukup dengan itu". Juga bukan berarti mempelajari ilmu yang dimaui itu salah, karena yang dia mau bisa jadi memang dia butuhkan, tetapi masalahnya yang dia butuhkan sebenarnya lebih dari yang dia mau.

Sebagai tambahan, kalau ada pertanyaan tentang belajar ilmu-ilmu Islam: "Jadi saya mesti belajar apa?". Jawabannya: "Ya belajar semua". Kalau direspon: "Wah, saya tidak sanggup". Jawabannya: "Ya semampunya". Dengan demikian, semestinya seseorang berusaha mempelajari semua ilmu, tetapi dalam prakteknya karena ada hal-hal yang mungkin merintangi dalam usahanya ini, misalnya dana, kondisi kesehatan, dan adanya kewajiban lain yang mesti dikerjakan dahulu, maka dia bisa melakukan usaha tersebut semampunya.

Judul di atas pada dasarnya hanyalah contoh, tetapi saya kemukakan dengan mempertimbangkan bahwa ilmu-ilmu di atas adalah cabang-cabang yang relatif paling mudah dicari gurunya, didapatkan kitabnya, dan dipelajari oleh kita. Cabang-cabang lain ada juga yang relatif mudah, sedangkan yang lain lagi relatif susah. Namun pengambilan judul di atas juga dimaksudkan supaya kita lebih berupaya untuk "mendapatkan" ilmu-ilmu ini karena amal-amal yang kita lakukan sehari-hari bisa dikatakan terkait langsung dengan adanya "modal" dari fiqih, bahasa Arab, dan tahsin Al-Quran.

Ambillah contoh: kita melakukan shalat. Paling tidak untuk shalat yang benar, butuh gerakan/sikap dan bacaan yang benar. Sebagaimana telah disampaikan di atas, gerakan/sikap yang benar (ditambah dengan bacaan shalatnya) dapat kita peroleh dari belajar fiqih. Adapun bacaan yang benar (khususnya bacaan Al-Quran) dapat kita peroleh dari belajar tahsin Al-Quran. Tentunya bacaan yang benar akan mencakup pengertian kita terhadap makna ayat, dan ini dapat kita peroleh dari belajar bahasa Arab/tafsir Al-Quran.

Mumpung kita masih diberi waktu, tentunya kita seharusnya berupaya untuk "mendapatkan" ilmu-ilmu ini. Tidak ada kata terlambat untuk ini. Tinggal upaya kita untuk mengalokasikan waktu, tenaga, dan pikiran untuk belajar. Mungkin dana juga.

Betul?

Ditulis untuk materi Kuliah via WA grup Alumni Al-Ikhlash, Kubang Selatan, Coblong, Bandung

Rabu, April 02, 2014

Anak Perempuanku Sudah ABG!

Kata orang, anak-anak pada usia belasan tahun itu adalah anak-anak yang sedang dalam masa pubertas. Masa di mana tubuh dan jiwa mereka berkembang menjadi remaja. Masa di mana mereka mencari identitas diri dan mulai menjadi diri sendiri. Masa di mana mereka mungkin mendapat kegalauan-kegalauan baru yang tidak mereka alami semasa kanak-kanak sebelumnya. Masa di mana sebagian sudah harus menanggung beban syariat sebagai mukallaf yang mana dosa dan pahala sudah dihitung buat mereka karena sudah mengalami haidh (buat perempuan) atau mimpi basah (buat laki-laki).

Masa remaja adalah masa di mana tubuh dan jiwa di dalamnya berkembang menuju puncak kinerja yang akan dapat menghasilkan hasil maksimal di tengah godaan lingkungan remaja yang cenderung bisa menyimpangkan dari syariat. Makanya tidak heran jika pemuda yang hatinya tergantung di masjid akan mendapat naungan Allah di padang mahsyar nanti pada hari akhir. Jadi masa remaja harus mendapat perhatian khusus dari orang tua yang tentu dalam hal ini adalah pengarah mereka dalam keluarga.

Bagi saya sebagai orang tua yang mempunyai anak yang berusia belasan tahun seperti itu, tentu masa pubertas anak merupakan "sesuatu" yang penting untuk dicermati dan disikapi dengan bijak. Kenapa? Karena jika saya sebagai orang tua tidak bisa mencermati dan menyikapi pubertas anak dengan baik, tentulah akan menjadi masalah besar, buat saya dan tentunya buat anak saya juga. Ini perlu penekanan buat saya sendiri karena saya tidak ingin penyikapan yang salah akan membuat anak saya berjalan menyimpang dari syariat.

Ngomong-ngomong, beberapa pekan yang lalu ketika semua anak-anak saya sudah tidur (berarti waktunya saya dan istri benar-benar bisa beberes rumah), sambil membereskan buku-buku anak-anak yang cukup berantakan, istri saya bergumam: "Anak pertama kita sudah ABG..." Lah, apa pula ini?

Ternyata di antara buku-buku anak-anak kami yang dibereskan istri saya itu terdapat buku catatan anak pertama kami, perempuan, sudah masuk usia belasan tahun. Karena asalnya tergeletak begitu saja, halaman-halamannya mudah terbuka dan isinya dapat terbaca oleh istri saya. Apa isinya? Yah, "kegalauan-kegalauan" yang mulai muncul pada anak-anak yang dalam masa pubertas itu deh.

Istilah ABG (Anak Baru Gede) sendiri saya kira cukup dipahami, mewakili kondisi anak yang mulai beranjak remaja, mulai kelihatan meninggi tubuhnya, secara fisik mulai berkembang ke arah tubuh dewasa. Yah, umumnya anak yang sedang dalam masa pubertas lah. Dan inilah yang terjadi sekarang: anak saya sudah menjadi ABG.

Dahulu (ketika anak perempuan pertama saya ini masih kecil tetapi sudah kelihatan tumbuh bongsor) saya pernah berpikir panjang mengenai bagaimana kondisinya ketika dia nanti menginjak remaja, mengingat tantangan masa sekarang yang semakin membutuhkan perhatian orang tua, di samping perkembangan fisik anak saya ini yang memang cenderung sangat cepat (Saya kira tidak akan butuh lama lagi untuk menandingi tinggi badan ibunya, termasuk untuk memiliki tubuh "dewasa"). Tantangan yang saya maksud tentu juga termasuk mendidik agar tahu batasan aurat yang betul, menjaga amalan wajib dengan konsisten, dan yang juga tak kalah penting adalah untuk tahu batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang benar karena kegalauan masa pubertas yang timbul juga saya kira diakibatkan oleh pergaulan antar lain jenis ini.

Pada akhirnya saya dan istri saya mengambil sikap untuk mengajak bicara anak kami ini supaya kami tahu apa yang ada dalam pikirannya dan supaya kami bisa menanamkan nilai-nilai syariat yang seharusnya dia pahami pada kondisinya sekarang ini. Tentu ini dengan harapan bahwa dia dapat mengambil sikap yang tepat sesuai syariat tanpa keterlibatan sikap "keras" kami kepadanya. Sikap keras? Ya, karena tidak jarang orang tua kemudian mengambil sikap frontal terhadap anak yang mengalami masa pubertas, tetapi hasilnya malah membuat anak memberontak, lari, dan tidak lagi bisa diakses oleh orang tuanya.

Pembicaraan dengan anak kami ini (waktu itu dilakukan oleh istri saya karena saya tidak bisa turut serta akibat harus pulang malam dari kantor) ternyata memunculkan cerita-cerita pergaulan di sekolahnya yang perlu jadi perhatian kami, mengingat cerita-cerita itu tidak semestinya jadi referensi bagi anak kami untuk berbuat yang sama. Apalagi kami dan juga guru-guru sekolahnya pasti juga menyampaikan tuntunan-tuntunan baik yang semestinya menjadi referensinya. Namun begitulah yang namanya tantangan masa pubertas: sekalipun orang tua dan guru sudah berusaha membentengi anak, tetap ada saja celah yang bisa menjadi sebab bagi mereka untuk mengenal hal-hal yang tidak semestinya. Celah ini bisa saja berasal dari lingkungan di luar rumah atau sekolah (bisa tetangga, teman sekitar rumah, saudara, atau orang lain lagi), tayangan televisi (atau media massa yang lain), film, dan lain-lain. Dan harus dimengerti juga bahwa anak-anak kita tidak perlu waktu lama untuk menyerap masukan dari celah-celah itu dan menirunya. Ya, saya kira kita harus paham bahwa anak-anak kita itu peniru yang terbaik (Contoh paling mudah: Siapakah yang mengajari mereka untuk berbahasa? Saya kira tidak ada, tetapi mereka meniru bahasa orang-orang dewasa di sekitarnya).

Kami sangat bersyukur karena anak kami dapat mengambil kesimpulan yang benar mengenai sikap yang semestinya dia ambil di tengah lingkungan yang memungkinkan terjadinya hal-hal yang tidak semestinya bagi remaja seusianya. Apalagi dia masih perlu berkonsentrasi pada sekolahnya. Dan saya kira dia sendiri sangat paham keinginannya untuk dapat bersekolah setinggi-tingginya mengingat semangat belajar dan prestasinya yang tidak bisa diabaikan.

Tentu saja, kami sebagai orang tua tidak pernah melepaskannya sendiri untuk berjuang melewati masa remaja tanpa bimbingan. Kami sendiri sangat prihatin memperhatikan kondisi remaja yang dibiarkan begitu saja oleh orang tuanya untuk menjalani masa remajanya tanpa bimbingan, bahkan diabaikan. Bagi kami, tanggung jawab ini melekat dan menuntut upaya keras berketerusan serta akan ditanyakan di akhirat nanti. Apalagi mengingat masih ada anak-anak kami yang lebih kecil. Sekarang adalah masanya anak pertama kami. Sesudah itu akan menyusul anak kedua kami, anak ketiga kami, anak keempat kami, dan seterusnya (jika Allah izinkan). Tentu pula, tanpa pertolongan Allah, mustahil kami bisa menjalani ini semua, dan hanya kepada Allah-lah kami memohon pertolongan.

Ya, Allah, bantulah kami...