Rabu, Maret 12, 2008

Jangan Meremehkan Pertanyaan Anak

Saya ingat pada saat musim kemarau yang baru lalu ketika pulang dari masjid bersama anak pertama saya, ia bertanya kenapa tidak turun hujan. Saya jawab bahwa sekarang musim kemarau sehingga tidak turun hujan.

Suatu saat (masih dalam musim kemarau), ketika lagi-lagi saya pergi berboncengan naik motor bersama anak pertama saya, kami melewati sebuah jalan yang di sampingnya terdapat pohon-pohon yang berguguran daunnya dengan jumlah yang sangat banyak sehingga menutupi sebagian besar badan jalan itu. Di situ saya berkata kepadanya, “Di musim kemarau pohon-pohon ini meranggas, artinya mengugurkan daun-daunnya supaya mereka tidak cepat kekeringan.”

Sekarang tibalah akhir musim kemarau yang kebetulan juga disertai dengan beberapa kali hujan (Kata orang BMG mah: “Kemarau Basah”). Pada saat itu saya bepergian naik motor bersama anak pertama saya lagi melewati suatu jalan besar yang tertutupi sebagian badannya oleh dedaunan pohon-pohon yang meranggas. Oh ya, kebetulan kemarin hujan. Melihat dedaunan yang banyak ini, anak saya kemudian berkata: “Ayah, sekarang kemarau, tapi kemarin hujan.”

Kata-kata anak saya ini memang pendek, tapi membuat saya jadi berpikir bahwa anak ini mengingat penjelasan-penjelasan saya yang dulu, menyambungnya, lalu membuat kesimpulan dengan logika yang berbeda dengan penjelasan saya, tapi benar. Dengan kata lain, sebenarnya anak saya juga mempertanyakan penjelasan saya yang dulu itu.

Benar bahwa pada dasarnya anak punya keinginan untuk tahu, kemampuan untuk menyerap suatu informasi dari mana saja (bahkan yang cuma terlintas sepersekian detik), mengingat, menalar, dan mengambil kesimpulan, tidak peduli apakah informasi yang diterimanya lengkap atau tidak, atau kesimpulannya benar atau tidak. Karena ini pula, saya dan istri berusaha menjawab pertanyaan dengan jujur, tentunya disesuaikan dengan umur anak. Kalau sekiranya jawaban yang sebenarnya belum bisa dimengerti begitu saja oleh anak saya, ya terpaksa diberi jawaban lain yang juga benar karena kami tidak mau berbohong. Contohnya ketika istri saya mengalami haidh sehingga tidak melaksanakan shalat. Kalau anak-anak (yang pertama dan kedua) saya ajak ke masjid untuk shalat maghrib atau isya’ (saya sampai di rumah sepulang kerja sudah malam), mereka suka bertanya: “Ibu tidak shalat?”. Terus terang saya merasa anak-anak seumur mereka belum waktunya dijelaskan tentang haidh. Makanya saya jawab saja: “Ibu mau neteki dede bayi dulu.” Ini sebenarnya bukan jawaban sesungguhnya kenapa ibu mereka tidak shalat, tapi pada saat mereka bertanya memang merupakan saat tidurnya adik bayi mereka yang perlu diteteki dulu. Jadi benar juga, tidak bohong.

Sebagian orang mengatakan bahwa orang tua jangan menjawab “tidak tahu” atas pertanyaan anak. Bagi saya, tidak apa-apa orang tua menjawab “tidak tahu” kalau memang tidak tahu, daripada berbohong atau asal menjawab yang ujung-ujungnya bikin susah sendiri. Lebih baik apa adanya, tapi di lain waktu ketika kita sudah dapat jawabannya, kita berikan jawaban itu kepada mereka. Ingat, nanti pun dengan semakin besar dan semakin dewasanya anak-anak kita, mereka akan dapat tahu bahwa dahulu kita orang tua mereka menjawab dengan kebohongan atau asal.

Anak-anak kita itu makhluk luar biasa, cuma badannya saja yang masih kecil sehingga banyak orang tua “mengecilkan” mereka….

Kamis, Februari 21, 2008

Allah itu Maha Kaya...

Alhamdu lillaah, setelah sekian lama tidak bisa melakukan posting ke blog ini, akhirnya tercapai juga sekarang. Sebabnya biasa saja…kerjaan kantor yang terus menerus datang, kerjaan dari kampus yang terus sambung menyambung, serta keriuhan rumah tangga dengan anak-anak yang suka bercanda ria dengan ributnya dan suka merebut waktu memakai komputer di rumah, membuat saya tidak bisa leluasa menulis di komputer kantor maupun komputer di rumah.

Kemarin mati listrik dari sore sampai malam berjam-jam. Ini mungkin gara-gara defisit energi listrik ya? Tapi lumayan, anak-anak bisa disuruh tidur cepat setelah shalat Isya’ dan saya bisa ngobrol lama dengan istri. Ngobrol tentang apa? Banyak, salah satunya tentang rizki.

Nostalgia nih…Setelah saya lulus kuliah S1, saya langsung mengajar di beberapa tempat di mana ada satu yang cukup memberikan penghasilan yang besar sedangkan yang lain jadi tambahan. Setahun kemudian, saya meneruskan kuliah S2 sambil tetap mengajar. Setahun berikutnya saya menikah dengan istri saya ini. Setahun kemudian lagi lahir anak pertama. Setahun berikutnya lagi lahir anak kedua. Selang empat tahunan kemudian, lahir anak ketiga.

Omong-omong, dengan tiga anak ini, kami masih belum punya rumah sendiri. Soal rumah ini salah satu bahasan yang saya obrolkan dengan istri. Ketika awal kami membangun rumah tangga, kami jadi kontraktor (maksudnya ngontrak rumah). Setelah anak pertama lahir, kami tinggal di paviliun milik orang tua istri saya agar dekat dengan ibunya untuk menemani beliau karena bapaknya baru saja meninggal. Baru setelah beberapa tahun di situ sebelum kelahiran anak ketiga, kami berpindah ke rumah kakaknya yang kebetulan kosong tidak dipakai, sampai sekarang. Praktis selama ini kami berpindah-pindah tempat tinggal di rumah-rumah yang bukan milik sendiri.

Kenapa belum punya rumah sendiri ya? Biasa…belum ada dana untuk itu. Ingin punya rumah sendiri? Jelas! Ini pula yang kami bicarakan. Kenapa? Karena jelas lebih bebas untuk mengelola rumah tangga di rumah sendiri. Kalau di rumah orang lain, sekalipun punya saudara sendiri, tetap saja tidak bisa leluasa.

Tapi kami tidak pernah menyalahkan Allah jika keadaan kami masih begini sementara banyak orang lain yang telah mempunyai rumah. Tidak pantas jika kami merasa iri dengki kepada mereka karena kami harus ridha dengan takdir yang Allah tetapkan ini. Yang pasti kami berdoa dan berusaha, salah satunya dengan berusaha menabung, agar suatu saat kami bisa mendapatkan yang kami inginkan ini. Oh ya, setelah menikah, istri saya yang semula bekerja di rumah sakit sebagai PNS, keluar dari sana untuk mengurus rumah tangga. Dengan kata lain, pendapatan keluarga hanya berasal dari penghasilan saya.

Mungkin ada yang mempertanyakan, memangnya penghasilan selama ini tidak cukup untuk mewujudkan keinginan mempunyai rumah? Terus terang, kami baru beberapa tahun membina rumah tangga. Dan selama waktu yang pendek ini, ada beberapa kejadian yang sangat menguras keuangan keluarga, misalnya istri dan anak-anak yang beberapa kali dirawat di rumah sakit karena istri mengalami beberapa kali keguguran, sedangkan anak-anak (pertama dan kedua) kena demam berdarah. Ditambah lagi saya kena PHK, justru dari tempat yang memberikan penghasilan paling besar, sekalipun saya tetap bersyukur bahwa gantinya ternyata lebih baik.

Pada dasarnya, itulah dinamika hidup. Ada saatnya di atas, ada saatnya di bawah. Tidak bisa dipastikan bahwa grafik hidup akan selalu naik. Tapi yang pasti, sebagai orang beriman, jika kita mengalami musibah maka kita harus bersabar, dan jika kita mendapat karunia maka kita harus bersyukur. Dan khusus untuk saya, sekalipun banyak orang yang “lebih sejahtera”, ternyata saya “masih bisa melakukan banyak hal” dengan kondisi saya sekarang, sementara banyak juga yang lain yang “tidak bisa berbuat apa-apa” dengan kondisi mereka. Bersyukur? Jelas!

Dan khusus untuk saya lagi, ternyata dengan bertambahnya anak, taraf kehidupan kami juga “lebih baik”. Sekalipun tadi, diselingi segala macam: keuangan yang kadang-kadang terkuras, PHK, dan sebagainya. Makanya saya bisa berkata:

ANAK-ANAK ADALAH MILIK ALLAH YANG DIA TITIPKAN KEPADA KITA. TIDAK MUNGKIN ALLAH YANG MAHA KAYA MENITIPKAN MAKHLUKNYA KEPADA KITA TANPA MEMBERI “BEKAL” YANG CUKUP BUAT MEREKA HIDUP.

Makanya jangan khawatir dengan masalah rizki. Tiap anak ada rizkinya masing-masing. Jangan khawatir dengan adanya anak (yang bertambah). Kita orang tua cukup berusaha sungguh-sungguh menjemput rizki dari-Nya. Allah pasti tetap akan menyediakan kebutuhan kita, termasuk rumah buat kami!

Kamis, November 15, 2007

Membentuk karakter anak

Suatu saat saya pernah melihat secara sekilas sinetron “Bajaj Bajuri” di TV. Dalam sinetron itu si Oneng sering disebut oleh Emak, ibunya Oneng, dengan “Blo’on” atau suaminya dengan “O’on”. Saya jadi teringat pembahasan sikap ibunya ini dalam majalah “Auladi” (http://www.klik-auladi.com/) oleh seorang pakar di mana disebutkan di situ bahwa sikap Emak tersebut tidaklah semestinya karena kata-kata ibu itu merupakan doa bagi anaknya. Makanya jangan heran kalau Oneng blo’on karena didoakan terus oleh si Emak untuk jadi blo’on.

Tidak bisa dipungkiri bagaimana kata-kata orang tua dapat membentuk karakter anak. Contohnya seperti cerita di atas. Contoh lain dalam hal peniruan anak terhadap contoh dari orang taunya. Salah seorang kerabat saya mempunyai anak kecil yang suka membentak dan membangkang ibunya. Saya tidak heran karena ibunya sendiri suka membentak dan membangkang nenek anaknya (ibunya si ibu itu) di hadapan anaknya itu. Contoh lain lagi adalah tetangga saya yang mempunyai anak kecil juga yang suka memaki-maki. Saya tidak heran juga karena bapak dan ibunya memang suka memaki-maki. Hal seperti ini biasa terjadi kalau orang tua tidak bisa mengendalikan emosinya. Makanya kalau kita orang tua sedang marah ke anak, jangan sebut ia dengan sebutan-sebutan yang jelek. Panggil saja dengan “Sholeh!” (kalau anak laki-laki) atau “Sholehah!” (kalau anak perempuan). Biar mereka jadi anak sholeh/ah gitu, sekalipun kita lagi jengkel dengan sikap mereka.

Makanya saya jadi berhati-hati kalau berbicara dan bersikap di depan anak-anak saya. Untungnya kalau saya salah, istri saya suka menegur. Bahkan anak-anak saya juga kalau mendapati saya bersikap tidak baik yang tidak sesuai dengan kata-kata yang saya berikan kepada mereka, mereka bisa mengkritik. Dan biasanya saya langsung meminta maaf di hadapan mereka dan saya katakan bahwa saya tidak akan lagi bersikap begitu (Begitulah, orang tua tidak perlu malu meminta maaf kepada anak-anaknya).

Bahkan Nabi Muhammad telah memberi tuntunan kepada para suami yang mau “mendatangi” istrinya untuk berdoa sebelumnya dengan: “Bismillaah, Allaahumma jannibnasy-syaithaana wa jannibisy-syaithaana maa razaqtanaa” yang artinya kurang lebih: “Dengan nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah kami dari syetan dan jauhkanlah syetan dari apa yang Engkau rizqikan kepada kami (yaitu anak)”. Berarti dengan begini, orang tua sudah secara nyata membangun proteksi bagi anaknya, bahkan sebelum si anak itu “ada”. Tentunya proteksi dari syetan ini mempunyai maksud agar si anak tidak mudah tergelincir oleh syetan dan mempunyai “perilaku syetan”.

Disadari atau tidak, diakui atau tidak, kita sebagai orang tua berperan membentuk karakter anak-anak kita. Mau jadi apa dan mau bagaimana mereka, ya tergantung kita juga. Tinggal bagaimana kita bersikap yang semestinya.

Mudah-mudahan dapat menambah pencerahan yang sudah ada...

Rabu, Agustus 15, 2007

Ujian dari keluarga

Allah telah mengatakan: "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri kalian dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka; dan jika kalian memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah cobaan; di sisi Allah-lah pahala yang besar" (At-Taghabun: 14-15).

Dari beberapa sumber yang saya perolah, para ulama mengatakan tentang tafsir ayat ini dalam beberapa riwayat sebagaimana yang tercantum dalam Al-Jami` li ahkamil Quran-nya Al-Qurtuby. Pertama, ayat ini turun di Madinah kepada seorang laki-laki yang bernama Auf bin Malik Al-Asyja`i. Dia mengadu kepada Rasulullah SAW tentang perilaku anak dan istrinya yang selalu mengalanginya bila berjihad di jalan Allah SWT. Kedua, At-Thabary menyebutkan dari Atho` bin Yasar bahwa surat At-Taghabun ini semuanya turun di Mekkah, kecuali ayat-ayat ini saja. Yang ini turunnya dalam konteks Auf bin Malik Al-Asyja`i yang punya banyak anak dan istri. Bila dia akan berangkat jihad, mereka menangis dan menggendolinya seraya berkata,"Kepada siapakah kami ditinggalkan ?". Maka turunlah ayat ini.

Al-Qadhi Abu Bakar ibn al-Arabi berkata bahwa ayat ini menerangkan tentang kemungkinan adanya musuh di dalam anggota keluarga atau dari pihak istri sendiri. Namun bukan musuh seperti biasanya, tetapi musuh dalam selimut. Karena perbuatannya yang bisa membuat seseorang surut dari perjuangan atau surut dari ketaatan kepada Allah SWT. Dan tidak ada musuh yang lebih berbahaya dari pada musuh yang mampu memutuskan hubungan mesra antara seseorang dengan tuhannya.

Ketiga,
Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah dalam Sunan-nya (no. 3317) membawakan asbabun nuzul (sebab turunnya) surah At-Taghabun ayat 14 di atas, dari riwayat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma. Tatkala ada yang bertanya kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma tentang ayat ini, beliau menyatakan: “Mereka adalah orang-orang yang telah berislam dari penduduk Makkah dan mereka ingin mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, namun istri dan anak mereka enggan ditinggalkan mereka. Ketika mereka pada akhirnya mendatangi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka melihat orang-orang yang lebih dahulu berhijrah telah tafaqquh fid dien (mendalami agama), mereka pun berkeinginan untuk memberi hukuman kepada istri dan anak-anak mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala lalu menurunkan ayat 14 di atas.

Namun riwayat asbabun nuzul ini dha’if (lemah) sebagaimana dinyatakan oleh Asy-Syaikh Al-’Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah, dalam karya beliau Ash-Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul.

Seorang bujangan/lajang, bisa dikatakan “memiliki penuh dirinya sendiri”. 100% waktunya bisa dipakai untuk keperluannya sendiri. Makanya ia bisa memperhatikan dirinya dengan lebih baik. Lihat saja bagaimana seorang bujangan dapat “mendandani” dirinya dengan leluasa. Lebih dari itu, seandainya punya uang pun, uang itu dapat dibelanjakan sesuai keinginannya sendiri.

Bagaimana jika status lajang sudah lepas dengan bersuami/beristri? Waktu yang tadinya bisa 100% dipakai sendiri, sekarang harus “dipotong” buat istri/suami, karena masing-masing memang akan “mengiris” waktu pasangannya. Juga perhatian, dana, dsb. Kalau dahulu waktu masih lajang, mau pergi atau ada acara kemana pun bisa tinggal berangkat saja. Sekarang tidak bisa lagi, harus melihat dahulu apakah istri/suami tidak “terganggu”. Sekarang juga ada “orang yang harus diperhatikan” tiap hari, padahal dahulu tidak harus begitu.

Wajar? Tentu saja wajar. Berat? Ya dan tidak. Secara zhahir memang berat, tetapi kalau kita ingat bahwa itu adalah ketentuan dari Allah yang akan menghasilkan ganjaran baik, tentu akan menjadi ringan. Itulah pernikahan, membuat seseorang yang lain “masuk” dalam kehidupan kita. Membuat kita menjadi wajib memperhatikannya, memenuhi hak-haknya, dll, sesuai kehendak Allah dan Rasul-Nya.

Namun justru di sinilah masalahnya, sebagaimana telah diungkapkan di depan. Seringkali karena kita “merasa wajib” memenuhi hak-hak pasangan kita, malahan kita melakukan perbuatan-perbuatan yang menyalahi kehendak Allah dan Rasul-Nya. Contohnya seperti dalam riwayat asbabun-nuzul di depan, seperti menghalangi berperang jihad dan belajar agama dengan menyertai Nabi (mendatangi majlis-majlis ilmu beliau bersama shahabat-shahabat).

Dengan pernikahan, pasti ada yang berubah. Namun yang dimaksud di sini tentunya bukan perubahan amal shalih yang menjadikan kita mundur dari berjihad atau berkurang kesungguhan dalam mendatangi majlis ilmu. Pernikahan seharusnya membuat kita semakin kuat dalam beramal shalih, karena kita kedatangan “penguat”, yaitu istri/suami kita. Dengan pemikiran sederhana, sekalipun ada bagian dari diri kita yang dimiliki oleh pasangan kita, tetap ada bagian dari kita yang dibantu olehnya. Sekedar contoh, seorang laki-laki yang tadinya ketika lajang harus berjalan keluar rumah untuk makan, sekarang sudah tidak perlu lagi begitu karena istrinya sudah membuat makanan untuknya di rumah.

Dalam hal ini memang tergantung komitmen sejak awal pernikahan, misalnya bagaimana jika nanti begini, begitu, dst. Maksudnya tentunya bagaimana dengan amal shalih masing-masing, seperti bagaimana belajar agamanya, bagaimana dakwahnya, dsb. Dan selanjutnya juga termasuk juga bagaimana itu semua jika istri hamil, atau anak sudah lahir, atau anak bertambah, dst. Termasuk juga bagaimana jika tidak ada kendaraan, atau kendaraannya cuma angkot, atau sepeda. Atau bagaimana kalau rumahnya jauh dari tempat pengajian, dst, dst.

Rumit? Tidak juga. Kenapa? Karena ini demi kehidupan akhirat kita yang lebih baik. Kalau bukan karena ini, apa gunanya Allah mengatakan hal-hal di atas dalam Kalam-Nya. Tinggal bagaimana kita menyikapi peringatan-Nya dalam ayat-ayat di atas.

Seringkali memang kita beralasan dengan alasan ini dan itu yang banyak, yang belum tentu itu cukup sebagai alasan bagi kita untuk “kendor” dalam beramal shalih. Salah satunya bisa jadi karena ada lagi orang lain yang kondisinya jauh lebih buruk dari pada kita, tetapi ia tetap dapat beramal shalih dengan kuat.

Sekedar pengingat, saya mau bertanya, apakah istri/suami kita membuat kita bertambah sungguh-sungguh dalam mendatangi majlis ilmu, berdakwah dan berjihad? Atau malah karenanya, kita tidak lagi mendatangi majlis ilmu, dan mencukupkan diri dengan apa-apa yang kita pandang sudah baik (menurut kita, padahal belum tentu, menurut Allah)?

Selasa, Juli 24, 2007

Mujahadah!

Saya pernah mendapat cerita dari kakak kelas SMA. Ceritanya tentang seseorang dari desa terpencil di luar kota Surakarta (Solo), tepatnya di Kabupaten Sragen, yang jaraknya ada puluhan kilometer. Cerita ini tentang bagaimana ia mendapatkan sesuatu yang dianggapnya penting.

Orang yang diceritakan ini sangatlah sederhana. Biasalah, orang desa terpencil. Fasilitas angkutan yang ia punyai hanyalah sepeda miliknya. Untuk naik angkutan umum, sepertinya sangat susah baginya. Terbukti ketika ia mendapat informasi untuk mendapatkan ilmu Al-Quran dan Al-Hadits, dan kebetulan tempatnya ada di kota Solo, ia tempuh perjalanan jauh dari rumahnya ke tempat pengajian yang dimaksud dengan hanya bersepeda. Beberapa jam sebelum acara pengajian dimulai, ia telah berangkat dari rumah. Ia susuri jalan dengan bersepeda, kecuali ketika ia harus melintasi sungai tanpa jembatan, ia angkat sepedanya tinggi-tinggi dan dibiarkannya badannya basah. Jangan bayangkan ini usaha mudah, karena kepalanya pernah terluka dan berdarah ketika arus sungai terlampau deras. Jangan bayangkan pula ia mempunyai tenaga yang sangat berlebih karena bekal makan-minum yang memadai, karena bekal makannya pun hanya singkong yang dibawanya.

Saudara, dalam keadaan demikian itu, ia tak pernah mengeluh. Bahkan teman-teman sepengajiannya pun tidak ada yang tahu kondisinya ini. Sampai suatu saat, ia tidak hadir dalam pengajian, padahal ia sebelumnya tidak pernah absen untuk hadir. Pada saat itulah, teman-temannya baru tahu kondisinya itu ketika mereka mencari rumahnya di pelosok Sragen dan mendapati teman mereka tidak dapat hadir gara-gara sepedanya rusak.

Sejak itu, para ustadz pengajarnya "melarang" ia untuk hadir lagi karena kehadirannya menuntut ia harus bersusah payah menempuh perjalanan jauh dan memayahkan. Sebagai gantinya, dikirimlah ustadz pengajar ke desanya untuk mengajarnya dan mengajar orang-orang lain yang dapat diajaknya. Dan akhirnya, desa itu jadi "terbuka" terhadap syariat dengan ditegakkannya majlis ta'lim yang asalnya dari satu orang yang mau bersusah payah.

Subhaanallaah. Inilah buah mujahadah! Mujahadah dalam bahasa mudah kita adalah kesungguh-sungguhan. Kita patut meniru kesungguh-sungguhan satu orang ini dalam beramal shalih, terutama dalam mencari ilmu. Ditambah dengan mujahadahnya ini, diturunkannya pula hidayah Allah atas orang-orang lain di desanya.

Coba kita lihat diri-diri kita. Dengan tubuh yang sehat, keuangan yang cukup, dan fasilitas kendaraan yang memadai, apalagi dengan kedekatan terhadap tempat-tempat pencarian ilmu, ternyata banyak dari kita yang masih enggan mencurahkan upaya sungguh-sungguh dalam belajar Al-Quran dan Al-Hadits. Dengan alasan yang banyak (atau dibanyak-banyakkan?), kita seringkali memberikan pembelaan diri yang tidak pada tempatnya. Seolah-olah, kita mempunyai masalah yang sangat berat dan kondisi yang sangat tidak memungkinkan, di mana tidak ada orang lain yang mempunyai masalah dan kondisi yang lebih parah daripada kita. Padahal bisa jadi ada banyak orang lain yang keadaannya lebih buruk daripada kita, tetapi mereka tetap bisa beramal. Kenapa? Karena mereka mau bermujahadah!

Bagaimana dengan kita?

Kamis, Juli 19, 2007

Mengabaikan aqiqah?

Dua hari yang lalu, adik istri saya mengadakan aqiqah buat anaknya. Saya sendiri mengantarkan suaminya untuk mencari domba buat acara ini. Ini aqiqah buat anak pertama mereka. Perempuan. Jadi yang dibeli cuma satu domba.

Alhamdulillaah, ketiga anak saya sudah diaqiqahi semua, sekalipun yang ketiga memang tidak begitu sreg. Buat aqiqah anak pertama, perempuan, cukup satu domba. Buat yang kedua, perempuan, cukup satu domba juga. Buat yang ketiga laki-laki, ternyata juga cuma satu domba. Biasalah, gara-gara dana yang tidak cukup. Memang sih, melihat hadits-hadits yang ada, buat anak laki-laki kewajibannya juga cuma satu kambing, tetapi dua lebih utama. Jadi bagi saya, tetep sudah lepas kewajiban saya sebagai orang tua.

Omong-omong tentang kewajiban orang tua, ternyata banyak orang tua yang tidak tahu bahwa salah satu kewajibannya adalah mengadakan aqiqah buat anak-anaknya. Haditsnya sudah jelas ada dan shahih. Bahkan sebagian ulama pun berpendapat, karena saking pentingnya syariat aqiqah ini, seandainya tidak ada dana pun, lebih baik orang tuanya berhutang untuk mengadakan aqiqah ini. Seperti pentingnya makan bagi anak-anak kita barangkali, sehingga saking pentingnya, kita orang tua rela berhutang untuk memberi makan mereka.

Barangkali penyebab itu semua adalah kurangnya ilmu agama sang orang tua. Ditambah lebih diutamakannya adat yang tidak jelas asalnya, yang lebih dituruti daripada syariat. Makanya jangan heran kalau banyak orang tua yang rela membuang banyak uang demi melaksanakan acara adat yang berkenaan dengan anak (dan istrinya) bahkan sebelum anaknya lahir, seperti 4 bulanan atau 7 bulanan kandungan istrinya. Namun pada saat anaknya harus diaqiqahi, ternyata malah tidak diadakan. Padahal dari segi biaya, kadang-kadang acara adat itu malah lebih menghabiskan banyak dana daripada aqiqah.

Aqiqah itu syariat yang penting. Maka dari itu, tiap orang tua mestinya menyiapkan dana untuk itu sebelum waktunya. Bahkan lebih tepat bahwa biaya aqiqah itu termasuk biaya kelahiran anak yang dipersiapkan. Maksudnya kalau biaya melahirkan sudah diselesaikan, ada dana lagi untuk mengadakan aqiqah di hari ke-7. Jadinya satu paket, gitu lho.

Makanya sudah barang tentu, tiap muslim yang sudah jadi orang tua maupun yang belum jadi orang tua, harus mempunyai ilmu yang memadai agar tidak ada kewajiban yang diabaikan karena kurangnya ilmu. Anda bagaimana?

Selasa, Juli 17, 2007

Mencoba Blogger


Kemarin itu adalah hari di mana saya mulai mencoba bikin blog pribadi. Karena saya masih belum terampil, ya saya pakai yang gratisan saja dengan template yang sudah ada. Jadi jangan cemoohkan saya karena bentuk blog ini yang sederhana, kering, dan tak menarik.

Saya berharap, blog ini dapat menjadi wadah berbagi wacana dan untuk mendulang masukan bagi saya, termasuk kritik, yang diharapkan bisa jadi bahan pembelajaran dan perbaikan pribadi. Semoga Allah menjadikan keberkahan pada usaha ini.