Akhir September 2012 yang lalu, saya terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dari perusahaan tempat saya bekerja waktu itu. Tidak pernah ada diskusi sebelumnya untuk PHK ini (sebagaimana diatur dalam Undang-undang Ketenagakerjaan No. 13 tahun 2009), diputuskan begitu saja dari pemilik perusahaan. Mengagetkan? Memang. Bagaimana tidak? Pihak manajemen datang pada jam kerja, minta bertemu saya, dan begitu bertemu secara tertutup, langsung memberitahukan bahwa saya diberhentikan. Mengherankan juga, karena saya tidak pernah melalaikan tugas, bahkan semua tugas (baik yang saya "sukai" maupun yang tidak) selalu bisa saya selesaikan dengan semua laporannya, bahkan sebelum tenggat waktunya.
Saya sendiri merasa tidak punya kesalahan. Mungkin Anda bertanya, bagaimana saya tahu bahwa itu semua bukan kesalahan saya? Ya tentu saja dari alasan yang disampaikan pihak manajemen kepada saya. Kalau alasannya karena kesalahan saya, ya mestinya ada peringatan dulu sebelumnya, semacam SP (Surat Peringatan) lah: SP1, SP2, dst sampai PHK.
Tapi sudahlah, tidak usah membahas yang begituan. Secara prinsip, itu qadar dari Allah, sekalipun qadar yang buruk. Sebagai orang beriman, ya harus tetap mengimani qadar Allah, baik atau buruk. Dan seharusnya orang beriman selalu berpikir positif dan bersikap dengan benar: kalau mendapat kebaikan ya bersyukur, kalau mendapat keburukan ya bersabar, maka in syaa'allaah semua keadaan menjadi kebaikan. Secara khusus, bahkan jika mendapat musibah, Nabi Muhammad mengajarkan untuk membaca doa: "Allaahumma'jurnii fii mushiibatii wakh-luf lii khairan minhaa" (Ya Allah, berilah aku ganjaran dalam musibahku dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya).
Oh ya, karena saya masih diberi perpanjangan bekerja selama satu bulan (yang sebenarnya hanyalah waktu untuk mentransfer kerjaan kepada teman satu departemen yang "selamat"), maka pada hari pemberitahuan PHK itu, saya masih bekerja sampai sore dengan semestinya. Malamnya setelah di rumah dan setelah semua anak-anak tidur, baru saya ajak istri saya untuk mengobrol. Dengan pelan-pelan saya ceritakan kejadian pemberitahuan PHK tadi kepadanya. Pada awalnya istri saya cukup terkejut dengan apa yang telah terjadi itu, terlihat dari perubahan wajahnya. Tapi kemudian wajahnya kembali biasa lagi.
Satu hal yang membuat saya merasa bersemangat adalah ketika saya kemudian bertanya kepada istri saya, apakah dia tetap akan mendukung saya dalam kondisi begini, sekalipun nanti saya tidak lagi bisa memberi sebanyak sebelum saya kena PHK? Jawabnya ya, dia akan tetap mendukung saya. Dia katakan bahwa rizqi sudah ada yang mengatur, yaitu Allah.
Sampai saat tulisan ini ditulis, memang ternyata apa yang saya dapat dari pekerjaan saya sekarang tidaklah sebanyak saat saya bekerja di perusahaan sebelumnya yang melakukan PHK di atas. Bahkan bisa dikatakan bahwa yang saya dapat sekarang jauh lebih kecil. Tapi hebatnya istri saya, tetap saja dia tidak mengeluh atau menunjukkan ketidaksukaan dengan kondisi saya saat ini. Memang ada saja kondisi keuangan yang membuat kami kadang-kadang harus berpikir dalam-dalam, memutar otak supaya dapat mengatasi kondisi yang ada. Dan alhamdulillaah, sekalipun bisa kami jalani dengan tertatih-tatih karena kondisi yang berat ini, dengan entengnya istri saya berkata bahwa tetap saja kami dapat hidup, bukan?
Hmm..memang kepasrahan yang luar biasa...
Aji yang sekarang bukanlah Aji... Aji yang sekarang baru menuju menjadi Aji... Aji yang sebenarnya adalah Aji saat sakaratul maut...
Rabu, Mei 29, 2013
Rabu, Agustus 15, 2012
Gampang Makan, Susah Shaum..Susah Makan, Gampang Shaum
Ramadhan ini kami mencoba mengajak anak ke-3 kami untuk ikut shaum. Anak kami ini laki-laki, umur hampir 5 1/2 tahun, masih sekolah di TK. Sebenarnya kami sendiri tidak begitu serius mengajaknya ikut shaum, karena maklum bahwa dia masih cukup kecil, masih suka ngemil, belum sadar benar tentang kewajiban ibadah. Namun karena kami merasa perlu melakukan pengenalan dan tentu saja pembiasaan, kami ajak begitu saja diiringi optimisme yang rendah, karena terus terang kami tidak yakin anak kami ini bisa menjalani shaum secara penuh.
Hari-hari awal Ramadhan sepertinya tidak ada yang berubah buat anak kami ini: makannya tetap saja pagi, siang, sore. Artinya belum bisa ikut shaum. Yah..tidak apa-apa, namanya juga anak-anak. Namun selanjutnya ternyata berbeda!
Hari-hari kemudiannya, ternyata dia bisa menurut ketika "ditahan" untuk tidak makan dan minum. Tentu bukan hal yang mudah buat dia, apalagi melihat adiknya yang masih sekolah di Play Group, belum berumur 4 tahun, makan siang di depannya. Tidak jarang dia merayu-rayu ibunya untuk memberinya makan juga. Namun alhamdu lillaah, cukup dengan diminta sabar sampai maghrib, mau menurut juga. Akhirnya tentu hari-hari selanjutnya bisa dilalui dengan shaum sampai maghrib. Pasti tidak mudah baginya, apalagi melihat anak-anak tetangga yang umurnya tidak jauh dengannya (bahkan ada yang di atasnya) makan siang begitu saja.
Bagi kami orang tuanya, perjuangan anak kami ini sudah dimulai dari saat sahur. Sebelum Ramadhan, biasanya anak kami ini bangun shubuh sebagaimana umumnya untuk shalat shubuh. Ini sendiri sudah menjadi sesuatu yang berat, bukan? Dan sekarang, harus bangun sebelum shubuh, yang tentu saja lebih berat lagi. Dengan masih terkantuk-kantuk, makan sendiri sahurnya merupakan proses yang panjang, karena sering terhenti karena matanya terpejam. Yah..akhirnya tentu saja, harus disuapi ibunya, sambil terus menegakkan badannya dan membukakan matanya. Kalau tidak, proses makan berhenti, badannya condong, dan akhirnya gubrak!!..berbaring lagi.
Anak kami ini sebenarnya gampang makan, suka ngemil, apalagi kalau dapat makanan yang dia sukai, sekalipun badannya sendiri cukup kecil, kurus malah (Tapi karena makannya gampang, gerak dan aktivitasnya bagus, kami tidak khawatir). Bisa dibayangkan, ketika anak yang gampang makan, tiba-tiba akses ke makanan dihentikan (maksudnya dengan shaum), tentu ini masalah besar. Berbeda dengan anak yang memang biasanya susah makan, kalaupun tidak dikasih makan sama sekali pun (ekstremnya nih), tentu "tidak menjadi masalah" (Sebenarnya masalah juga, dari mana anak ini dapat nutrisi cukup kalau makannya seperti itu?).
Sekedar cerita saja, kebetulan ada anak tetangga yang seumuran dengan anak kami ini, bahkan satu sekolah, cuma beda kelas saja. Anak tetangga kami ini susah sekali makannya, bahkan dalam 1 sampai 2 hari bisa saja tidak kemasukan nasi, sekalipun minum susunya kuat sekali. Makanya bapaknya sendiri bisa bilang bahwa bagi anaknya ini, shaum atau tidak shaum sama saja, karena dasarnya susah makan.
Alhamdu lillaah, anak ke-3 kami ini bisa menjalani shaum sampai hari-hari terakhir Ramadhan dengan lancar. Godaan baginya tentu saja ada terus, apalagi pada hari-hari terakhir ini, waktunya bikin kue-kue lebaran (Kebetulan anak-anak kami sudah masuk libur lebaran. Untuk mengisi waktu, di samping membaca Al-Quran, mengaji di masjid dsb, anak-anak ingin membuat kue-kue lebaran. Ya sudah, akhirnya istri saya membeli bahan-bahannya untuk dibikin bersama-sama). Kegiatan membikin kue-kue ini tentu kegiatan yang menyenangkan, tapi sekaligus menggoda. Kenapa? Karena anak-anak membikin kue-kue kesukaan mereka, seperti Putri Salju dsb. Bagi anak-anak kami yang sudah besar, tentu saja sudah bukan masalah, tapi tidak bagi anak ke-3 kami ini. Lagi-lagi, dia merayu-rayu ibunya untuk mencicipi, sedikit saja. Tapi lagi-lagi, alhamdu lillaah dengan diminta sabar sampai maghrib, sudah cukup baginya sebagai penahan.
Menurut kami orang tuanya, anak ke-3 kami ini bukan tipe anak yang suka menuntut kalau punya mau, apalagi sampai tantrum segala. Mudah diberi pengertian, tidak suka protes kalau tidak mendapat apa yang dia maui. Pendeknya, gampang lah kalau berurusan dengan anak kami ini, termasuk urusan shaum ini.
Alhamdu lillaah...
Hari-hari awal Ramadhan sepertinya tidak ada yang berubah buat anak kami ini: makannya tetap saja pagi, siang, sore. Artinya belum bisa ikut shaum. Yah..tidak apa-apa, namanya juga anak-anak. Namun selanjutnya ternyata berbeda!
Hari-hari kemudiannya, ternyata dia bisa menurut ketika "ditahan" untuk tidak makan dan minum. Tentu bukan hal yang mudah buat dia, apalagi melihat adiknya yang masih sekolah di Play Group, belum berumur 4 tahun, makan siang di depannya. Tidak jarang dia merayu-rayu ibunya untuk memberinya makan juga. Namun alhamdu lillaah, cukup dengan diminta sabar sampai maghrib, mau menurut juga. Akhirnya tentu hari-hari selanjutnya bisa dilalui dengan shaum sampai maghrib. Pasti tidak mudah baginya, apalagi melihat anak-anak tetangga yang umurnya tidak jauh dengannya (bahkan ada yang di atasnya) makan siang begitu saja.
Bagi kami orang tuanya, perjuangan anak kami ini sudah dimulai dari saat sahur. Sebelum Ramadhan, biasanya anak kami ini bangun shubuh sebagaimana umumnya untuk shalat shubuh. Ini sendiri sudah menjadi sesuatu yang berat, bukan? Dan sekarang, harus bangun sebelum shubuh, yang tentu saja lebih berat lagi. Dengan masih terkantuk-kantuk, makan sendiri sahurnya merupakan proses yang panjang, karena sering terhenti karena matanya terpejam. Yah..akhirnya tentu saja, harus disuapi ibunya, sambil terus menegakkan badannya dan membukakan matanya. Kalau tidak, proses makan berhenti, badannya condong, dan akhirnya gubrak!!..berbaring lagi.
Anak kami ini sebenarnya gampang makan, suka ngemil, apalagi kalau dapat makanan yang dia sukai, sekalipun badannya sendiri cukup kecil, kurus malah (Tapi karena makannya gampang, gerak dan aktivitasnya bagus, kami tidak khawatir). Bisa dibayangkan, ketika anak yang gampang makan, tiba-tiba akses ke makanan dihentikan (maksudnya dengan shaum), tentu ini masalah besar. Berbeda dengan anak yang memang biasanya susah makan, kalaupun tidak dikasih makan sama sekali pun (ekstremnya nih), tentu "tidak menjadi masalah" (Sebenarnya masalah juga, dari mana anak ini dapat nutrisi cukup kalau makannya seperti itu?).
Sekedar cerita saja, kebetulan ada anak tetangga yang seumuran dengan anak kami ini, bahkan satu sekolah, cuma beda kelas saja. Anak tetangga kami ini susah sekali makannya, bahkan dalam 1 sampai 2 hari bisa saja tidak kemasukan nasi, sekalipun minum susunya kuat sekali. Makanya bapaknya sendiri bisa bilang bahwa bagi anaknya ini, shaum atau tidak shaum sama saja, karena dasarnya susah makan.
Alhamdu lillaah, anak ke-3 kami ini bisa menjalani shaum sampai hari-hari terakhir Ramadhan dengan lancar. Godaan baginya tentu saja ada terus, apalagi pada hari-hari terakhir ini, waktunya bikin kue-kue lebaran (Kebetulan anak-anak kami sudah masuk libur lebaran. Untuk mengisi waktu, di samping membaca Al-Quran, mengaji di masjid dsb, anak-anak ingin membuat kue-kue lebaran. Ya sudah, akhirnya istri saya membeli bahan-bahannya untuk dibikin bersama-sama). Kegiatan membikin kue-kue ini tentu kegiatan yang menyenangkan, tapi sekaligus menggoda. Kenapa? Karena anak-anak membikin kue-kue kesukaan mereka, seperti Putri Salju dsb. Bagi anak-anak kami yang sudah besar, tentu saja sudah bukan masalah, tapi tidak bagi anak ke-3 kami ini. Lagi-lagi, dia merayu-rayu ibunya untuk mencicipi, sedikit saja. Tapi lagi-lagi, alhamdu lillaah dengan diminta sabar sampai maghrib, sudah cukup baginya sebagai penahan.
Menurut kami orang tuanya, anak ke-3 kami ini bukan tipe anak yang suka menuntut kalau punya mau, apalagi sampai tantrum segala. Mudah diberi pengertian, tidak suka protes kalau tidak mendapat apa yang dia maui. Pendeknya, gampang lah kalau berurusan dengan anak kami ini, termasuk urusan shaum ini.
Alhamdu lillaah...
Kamis, Agustus 09, 2012
Bongsornya Anakku
Tak terasa, anak pertama kami, perempuan, sudah menginjak usia 10 tahun. Pada saat tulisan ini dibuat, dia sudah masuk kelas V di sebuah madrasah ibtidaiyah swasta. Usia yang masih menunjukkan sangat mudanya dia sebenarnya, tapi tidak menunjukkan ukuran badannya. Kenapa?
Sudah beberapa tahun belakangan ini, saya selalu menemui kesulitan untuk mendapatkan sepatu sekolah pada tiap tahun ajaran baru. Dasarnya masih usia anak-anak, anak pertama saya ini ingin mendapatkan sepatu yang seperti teman-temannya punyai, katakanlah yang berwarna pink bergambar Barbie. Namun kenyataannya, selalu kami gagal mendapatkannya, sekalipun sudah mutar-muter, ngubek-ubek sekian banyak toko sepatu. Masalahnya sama: tidak ada sepatu dengan model begitu yang cukup untuknya. Semua sepatu dengan model begitu selalu tersedia dengan ukuran kecil, ukuran anak-anak. Akhirnya pada tahun ini,
dia mendapat sepatu berwarna ungu dengan ukuran yang sama dengan ukuran sepatu ibunya!!
Kata orang: anak-anak sekarang cepat gede ya. Bisa jadi. Bisa kita lihat sendiri, sekarang banyak anak-anak SD sudah terlihat sangat bongsor, bahkan tinggi badan mereka bisa melebihi tinggi badan guru-gurunya! Mungkin kalau mereka berfoto bersama guru, sang guru dari "generasi lama" akan tenggelam di tengah kumpulan murid-muridnya dari "generasi baru" karena kalah tinggi badan.
Kata orang: makanan anak-anak sekarang beda sama makanan orang-orang dulu. Bisa jadi. Inilah mungkin hasil dari makanan instan/segera siap saji dengan segala macam zat tambahan di dalamnya (sekalipun kami sudah berusaha supaya anak-anak kami tidak terbiasa jajan dan menghindari zat-zat tambahan dalam makanan, seperti MSG misalnya). Realitas di masyarakat menunjukkan kecenderungan munculnya kondisi-kondisi buruk akibat konsumsi berlebihan dari makanan seperti itu, seperti obesitas anak atau diabetes anak, yang di jaman orang tua dahulu dari generasi lama mungkin tidak kita dapati. Sebenarnya sih, yang kelihatan sangat bongsor dari anak-anak kami ya cuma anak pertama saja. Adik-adiknya cenderung punya badan
kecil-kecil. Orang bisa bilang: ini karena faktor genetika saja. Bisa jadi.
Yang jadi masalah besar akibat badan bongsor sebenarnya sih bukan urusan sepatunya. Atau lebih lanjut, bukan urusan baju yang tentu saja juga harus berukuran besar. Masalah besar sebenarnya adalah bagaimana menerapkan hukum syariat pada anak kecil yang bongsor ini. Kecil karena memang masih berusia sepuluh tahun, belum balighah, sehingga tentu saja dia belum mukallafah, yang sudah bisa menerima pembebanan syariat sehingga sudah ada hitungan pahala dan dosanya secara tegas. Tapi bongsor, yang tentu saja dalam pandangan orang lain akan terlihat sebagai anak "sudah gede".
Bagi orang tua yang paham syariat, kebingungan yang muncul, sebagai contoh, adalah karena anak kecil yang bongsor sepantasnya tidak berperilaku sebagai anak kecil lagi mengingat bentuk badan yang sudah cenderung seperti anak gede tadi, katakanlah dalam urusan berpakaian. Kalau anaknya laki-laki sih sepertinya tidak begitu masalah (mungkin...), tapi berbeda kalau anaknya perempuan. Ya tentu saja karena orang tua harus mengambil sikap: ini anak harus berpakaian sebagaimana perempuan dewasa, atau boleh seperti anak-anak kecil lainnya?
Bagi kami, tentu saja niat untuk mendidik anak dengan baik sesuai syariat adalah landasan bersikap yang benar. Sekalipun dari segi fiqih, anak kecil berpakaian seperti anak kecil lainnya mungkin tidak mengapa, kami sendiri tidak ingin bahwa "pembiaran" ini melenakan sehingga menjadi "keterlanjuran". Maksudnya adalah karena orang tua membiarkan anak perempuannya yang bongsor itu berpakaian tanpa menutup aurat dengan benar (karena masih dianggap seperti anak kecil), si anak akhirnya merasa nyaman berpakaian seperti itu, hingga ketika dia sudah mencapai usia balighah, dia masih saja berpakaian seperti itu. Makanya jangan heran, seandainya di luaran, di jalan-jalan, kita bisa temukan ibu-ibu yang berkerudung rapi didampingi anak-anak perempuannya yang berpakaian seksi.
Dulu, saya pernah mendengar penjelasan bahwa imam-imam berpendapat bahwa anak-anak perempuan yang masih kecil sudah seharusnya menutup kepala (berhijab) sebagai bagian dari pendidikan Islam dan adab/akhlaq yang baik. Memang bagi orang tua, ini butuh perjuangan karena perlu waktu untuk memberi pengertian kepada anak yang masih kecil. Namun paling tidak, pembiasaan haruslah dilakukan supaya menjadi perilaku dahulu bagi anak dan menanamkan sifat malu kepadanya agar selalu menutup aurat, sambil lambat laun seiring bertambah mengertinya dia tentang Al-Quran dan Al-hadits, dia seharusnya diberi pengertian tentang dalil-dalil dari Al-Quran dan Al-hadits yang bersangkutan.
Mendidik anak perempuan memang butuh perjuangan khusus. Makanya tidak heran bahwa ada keutamaan mendidik anak perempuan bagi orang tua yang sabar menghadapinya dan mencukupi kebutuhannya. Mudah-mudahan Allah memudahkan urusan kami mendidik anak-anak perempuan kami. Aamiin.
Sudah beberapa tahun belakangan ini, saya selalu menemui kesulitan untuk mendapatkan sepatu sekolah pada tiap tahun ajaran baru. Dasarnya masih usia anak-anak, anak pertama saya ini ingin mendapatkan sepatu yang seperti teman-temannya punyai, katakanlah yang berwarna pink bergambar Barbie. Namun kenyataannya, selalu kami gagal mendapatkannya, sekalipun sudah mutar-muter, ngubek-ubek sekian banyak toko sepatu. Masalahnya sama: tidak ada sepatu dengan model begitu yang cukup untuknya. Semua sepatu dengan model begitu selalu tersedia dengan ukuran kecil, ukuran anak-anak. Akhirnya pada tahun ini,
dia mendapat sepatu berwarna ungu dengan ukuran yang sama dengan ukuran sepatu ibunya!!
Kata orang: anak-anak sekarang cepat gede ya. Bisa jadi. Bisa kita lihat sendiri, sekarang banyak anak-anak SD sudah terlihat sangat bongsor, bahkan tinggi badan mereka bisa melebihi tinggi badan guru-gurunya! Mungkin kalau mereka berfoto bersama guru, sang guru dari "generasi lama" akan tenggelam di tengah kumpulan murid-muridnya dari "generasi baru" karena kalah tinggi badan.
Kata orang: makanan anak-anak sekarang beda sama makanan orang-orang dulu. Bisa jadi. Inilah mungkin hasil dari makanan instan/segera siap saji dengan segala macam zat tambahan di dalamnya (sekalipun kami sudah berusaha supaya anak-anak kami tidak terbiasa jajan dan menghindari zat-zat tambahan dalam makanan, seperti MSG misalnya). Realitas di masyarakat menunjukkan kecenderungan munculnya kondisi-kondisi buruk akibat konsumsi berlebihan dari makanan seperti itu, seperti obesitas anak atau diabetes anak, yang di jaman orang tua dahulu dari generasi lama mungkin tidak kita dapati. Sebenarnya sih, yang kelihatan sangat bongsor dari anak-anak kami ya cuma anak pertama saja. Adik-adiknya cenderung punya badan
kecil-kecil. Orang bisa bilang: ini karena faktor genetika saja. Bisa jadi.
Yang jadi masalah besar akibat badan bongsor sebenarnya sih bukan urusan sepatunya. Atau lebih lanjut, bukan urusan baju yang tentu saja juga harus berukuran besar. Masalah besar sebenarnya adalah bagaimana menerapkan hukum syariat pada anak kecil yang bongsor ini. Kecil karena memang masih berusia sepuluh tahun, belum balighah, sehingga tentu saja dia belum mukallafah, yang sudah bisa menerima pembebanan syariat sehingga sudah ada hitungan pahala dan dosanya secara tegas. Tapi bongsor, yang tentu saja dalam pandangan orang lain akan terlihat sebagai anak "sudah gede".
Bagi orang tua yang paham syariat, kebingungan yang muncul, sebagai contoh, adalah karena anak kecil yang bongsor sepantasnya tidak berperilaku sebagai anak kecil lagi mengingat bentuk badan yang sudah cenderung seperti anak gede tadi, katakanlah dalam urusan berpakaian. Kalau anaknya laki-laki sih sepertinya tidak begitu masalah (mungkin...), tapi berbeda kalau anaknya perempuan. Ya tentu saja karena orang tua harus mengambil sikap: ini anak harus berpakaian sebagaimana perempuan dewasa, atau boleh seperti anak-anak kecil lainnya?
Bagi kami, tentu saja niat untuk mendidik anak dengan baik sesuai syariat adalah landasan bersikap yang benar. Sekalipun dari segi fiqih, anak kecil berpakaian seperti anak kecil lainnya mungkin tidak mengapa, kami sendiri tidak ingin bahwa "pembiaran" ini melenakan sehingga menjadi "keterlanjuran". Maksudnya adalah karena orang tua membiarkan anak perempuannya yang bongsor itu berpakaian tanpa menutup aurat dengan benar (karena masih dianggap seperti anak kecil), si anak akhirnya merasa nyaman berpakaian seperti itu, hingga ketika dia sudah mencapai usia balighah, dia masih saja berpakaian seperti itu. Makanya jangan heran, seandainya di luaran, di jalan-jalan, kita bisa temukan ibu-ibu yang berkerudung rapi didampingi anak-anak perempuannya yang berpakaian seksi.
Dulu, saya pernah mendengar penjelasan bahwa imam-imam berpendapat bahwa anak-anak perempuan yang masih kecil sudah seharusnya menutup kepala (berhijab) sebagai bagian dari pendidikan Islam dan adab/akhlaq yang baik. Memang bagi orang tua, ini butuh perjuangan karena perlu waktu untuk memberi pengertian kepada anak yang masih kecil. Namun paling tidak, pembiasaan haruslah dilakukan supaya menjadi perilaku dahulu bagi anak dan menanamkan sifat malu kepadanya agar selalu menutup aurat, sambil lambat laun seiring bertambah mengertinya dia tentang Al-Quran dan Al-hadits, dia seharusnya diberi pengertian tentang dalil-dalil dari Al-Quran dan Al-hadits yang bersangkutan.
Mendidik anak perempuan memang butuh perjuangan khusus. Makanya tidak heran bahwa ada keutamaan mendidik anak perempuan bagi orang tua yang sabar menghadapinya dan mencukupi kebutuhannya. Mudah-mudahan Allah memudahkan urusan kami mendidik anak-anak perempuan kami. Aamiin.
Jumat, Juli 13, 2012
Law of Attraction
Alhamdulillaah, setelah beberapa tahun vakum, akhirnya bisa juga melakukan posting ke blog ini lagi.
Dalam posting-posting awal saya, saya pernah sebut bahwa sampai anak ketiga lahir, saya belum punya rumah. Kondisi sekarang sudah berbeda: anak empat dan sudah punya rumah sendiri (meskipun dengan mencicil...). Alhamdulillaah sekali lagi.
Dalam posting-posting awal saya juga, saya pernah sebut bahwa dengan bertambahnya anak, kehidupan kami sekeluarga jadi "lebih baik" lagi. Sekalipun lagi-lagi harus dilalui dengan sesuatu yang cukup menyesakkan dada dahulu. Tapi saya dan istri saya selalu percaya bahwa Allah sudah mengurus rizki kami sehingga kami tidak perlu khawatir. Dan memang benar, Allah sudah mengatur rizki buat kami. Alhamdulillaah sekali lagi.
Mungkin ada yang bertanya, apa hubungannya dengan judul di atas?
Sebenarnya judul di atas tidak akan saya bahas secara terperinci. Saya memakai judul di atas karena terinspirasi oleh perbincangan dalam milis alumni almamater tempat saya kuliah dulu tentang "Law of Attraction". Mungkin kalau ada yang bertanya, Law of Attraction itu hukum apa sih? Secara singkat (dalam uraian yang bukan bahasan pelajaran Fisika), inti dari hukum ini adalah kekuatan pikiran dan semesta yang mendorong sesuatu yang kita pikirkan bisa menjadi kenyataan. Sebenarnya sih, dalam uraian orang-orang awal yang menyebut-nyebut hukum ini tidak melibatkan Allah di dalamnya. Namun kalau saya pakai cara pandang saya sebagai muslim, pendekatan yang bisa diterima adalah ketika kita menginginkan sesuatu maka secara tidak sadar kita akan mengarahkan diri kita ke arah sana dengan doa dan usaha, entah mempersiapkan dana, atau yang lainnya, dan dengan izin Allah maka apa yang kita inginkan bisa terwujud.
Alhamdulillaah sekali lagi, saya dikaruniai istri yang sangat mendorong dalam banyak kebaikan. Salah satunya dalam urusan mempunyai rumah sendiri. Apakah belum punya rumah sendiri adalah jelek? Ya tentu saja tidak. Tetapi motivasi untuk mempunyai rumah sendiri dengan tujuan agar lebih bisa leluasa menerapkan syariat dalam keluarga tentu baik, bukan? Motivasi inilah yang membuat istri saya mendorong-dorong saya untuk bisa punya rumah sendiri. Jujur saja, sebenarnya saya sendiri berpikir, duit dari mana untuk beli rumah? Dalam keluarga kami, hanya saya yang bekerja mencari penghasilan buat keluarga, sedangkan istri saya bekerja dengan tugas mulianya: mengurus rumah tangga.
Oh ya, pada awalnya kami membina rumah tangga, kami tinggal di rumah saudara yang sudah saya kontrak sebelum saya menikah, bahkan jauh sebelum saya melamar istri saya. Ketika kami tinggal di situlah, anak pertama kami lahir. Namun karena bapak mertua saya (bapak istri saya) meninggal, kami kemudian pindah ke rumah paviliun orang tua istri saya yang menempel ke rumahnya supaya ada laki-laki (saya) yang dekat dengan rumahnya. Ketika kami tinggal di situlah, lahir anak kedua kami. Namun waktu yang berjalan menunjukkan bahwa lingkungan sekitar (kota dengan pertumbuhan dan pergaulannya) tidak mendukung tumbuh kembang anak-anak kami sesuai syariat. Maka begitu kami tahu bahwa rumah salah satu kakak istri saya kosong (letaknya di pinggir kota) dan boleh kami tempati, kami segera pindah ke sana yang lebih sepi dan lebih tenang. Ketika kami tinggal di sinilah, anak ketiga kami lahir. Nah di sini pulalah pikiran untuk mempunyai rumah sendiri benar-benar muncul.
Sebenarnya rumah kakak istri saya ini cukup nyaman. Tetapi namanya rumah orang lain, tetap saja kami merasa tidak leluasa untuk "ngapa-ngapain" di situ. Lagipula, bagaimana seandainya kakak istri saya ini tiba-tiba membutuhkan rumah yang kami tempati? Terpaksa harus cari rumah lagi, bukan? Karena itulah, dorongan istri saya cukup membuat hati saya tergerak dan badan saya bergerak. Maksudnya cari-cari rumah. Benar-benar cari rumah, bukan untuk beli, karena belum ada uang untuk beli. Di waktu senggang, saya ke sana ke mari lihat-lihat rumah, dan juga tanah, di kampung-kampung atau komplek-komplek di pinggir kota. Bukan di tengah kota ya, karena kami sudah merasa sumpek kalau tinggal di tengah kota. Namun karena uang untuk beli belum ada juga, terus terang kami juga berpikir untuk hutang. Kalau kata istri saya mah, kadang-kadang dengan hutang kita bisa memaksakan diri untuk bisa punya sesuatu (Memang benar, asalkan kita bisa mengelola hutang dan pembayarannya dengan baik. Tapi itu masalah lain ya, tidak akan dibahas di sini). Pada saat itu, terus terang doa saya kepada Allah untuk bisa memiliki rumah sendiri semakin gencar terpanjatkan (Dari dulu sudah berdoa begini, tetapi intensitasnya yang kurang) hingga akhirnya saat "itu" datang...
Awal tahun 2008, pada saat istri saya mengandung calon anak keempat, rizki dari Allah yang tak disangka-sangka datang dari keluarga saya sendiri (Terima kasih kepada ibu dan kakak saya). Relatif kecil sehingga tidak cukup untuk membeli rumah yang mencukupi kebutuhan kami, tetapi relatif besar untuk menjadi uang muka pembelian rumah tipe 36 di salah satu komplek perumahan di Kabupaten Bandung. Kekurangan uangnya dari mana lagi? Ya terpaksa meminta pembiayaan KPR dari salah satu bank syariah (Mengapa bank syariah? Karena kami ingin berhutang dengan "selamat" dari segi syariat. Tapi itu masalah lain ya, tidak akan dibahas di sini). Setelah menyelesaikan urusan ini-itu dengan pihak pengembang dan bank, rumah kami mulai dibangun pertengahan tahun 2008. Setelah beberapa bulan dibangun dan jadi serta ditambah ini-itu buat keperluan keluarga, akhirnya rumah kami siap dihuni pada akhir tahun 2008.
Akhir tahun 2008, anak keempat kami lahir. Dua pekan setelah kelahiran anak kami ini (awal tahun 2009), kami pindah ke rumah kami sendiri. Kata istri saya mah, ini rizki dari Allah dengan adanya tambahan anak kami. Alhamdulillaah sekali lagi, bahkan alhamdulillaah tiada henti...
Dalam posting-posting awal saya, saya pernah sebut bahwa sampai anak ketiga lahir, saya belum punya rumah. Kondisi sekarang sudah berbeda: anak empat dan sudah punya rumah sendiri (meskipun dengan mencicil...). Alhamdulillaah sekali lagi.
Dalam posting-posting awal saya juga, saya pernah sebut bahwa dengan bertambahnya anak, kehidupan kami sekeluarga jadi "lebih baik" lagi. Sekalipun lagi-lagi harus dilalui dengan sesuatu yang cukup menyesakkan dada dahulu. Tapi saya dan istri saya selalu percaya bahwa Allah sudah mengurus rizki kami sehingga kami tidak perlu khawatir. Dan memang benar, Allah sudah mengatur rizki buat kami. Alhamdulillaah sekali lagi.
Mungkin ada yang bertanya, apa hubungannya dengan judul di atas?
Sebenarnya judul di atas tidak akan saya bahas secara terperinci. Saya memakai judul di atas karena terinspirasi oleh perbincangan dalam milis alumni almamater tempat saya kuliah dulu tentang "Law of Attraction". Mungkin kalau ada yang bertanya, Law of Attraction itu hukum apa sih? Secara singkat (dalam uraian yang bukan bahasan pelajaran Fisika), inti dari hukum ini adalah kekuatan pikiran dan semesta yang mendorong sesuatu yang kita pikirkan bisa menjadi kenyataan. Sebenarnya sih, dalam uraian orang-orang awal yang menyebut-nyebut hukum ini tidak melibatkan Allah di dalamnya. Namun kalau saya pakai cara pandang saya sebagai muslim, pendekatan yang bisa diterima adalah ketika kita menginginkan sesuatu maka secara tidak sadar kita akan mengarahkan diri kita ke arah sana dengan doa dan usaha, entah mempersiapkan dana, atau yang lainnya, dan dengan izin Allah maka apa yang kita inginkan bisa terwujud.
Alhamdulillaah sekali lagi, saya dikaruniai istri yang sangat mendorong dalam banyak kebaikan. Salah satunya dalam urusan mempunyai rumah sendiri. Apakah belum punya rumah sendiri adalah jelek? Ya tentu saja tidak. Tetapi motivasi untuk mempunyai rumah sendiri dengan tujuan agar lebih bisa leluasa menerapkan syariat dalam keluarga tentu baik, bukan? Motivasi inilah yang membuat istri saya mendorong-dorong saya untuk bisa punya rumah sendiri. Jujur saja, sebenarnya saya sendiri berpikir, duit dari mana untuk beli rumah? Dalam keluarga kami, hanya saya yang bekerja mencari penghasilan buat keluarga, sedangkan istri saya bekerja dengan tugas mulianya: mengurus rumah tangga.
Oh ya, pada awalnya kami membina rumah tangga, kami tinggal di rumah saudara yang sudah saya kontrak sebelum saya menikah, bahkan jauh sebelum saya melamar istri saya. Ketika kami tinggal di situlah, anak pertama kami lahir. Namun karena bapak mertua saya (bapak istri saya) meninggal, kami kemudian pindah ke rumah paviliun orang tua istri saya yang menempel ke rumahnya supaya ada laki-laki (saya) yang dekat dengan rumahnya. Ketika kami tinggal di situlah, lahir anak kedua kami. Namun waktu yang berjalan menunjukkan bahwa lingkungan sekitar (kota dengan pertumbuhan dan pergaulannya) tidak mendukung tumbuh kembang anak-anak kami sesuai syariat. Maka begitu kami tahu bahwa rumah salah satu kakak istri saya kosong (letaknya di pinggir kota) dan boleh kami tempati, kami segera pindah ke sana yang lebih sepi dan lebih tenang. Ketika kami tinggal di sinilah, anak ketiga kami lahir. Nah di sini pulalah pikiran untuk mempunyai rumah sendiri benar-benar muncul.
Sebenarnya rumah kakak istri saya ini cukup nyaman. Tetapi namanya rumah orang lain, tetap saja kami merasa tidak leluasa untuk "ngapa-ngapain" di situ. Lagipula, bagaimana seandainya kakak istri saya ini tiba-tiba membutuhkan rumah yang kami tempati? Terpaksa harus cari rumah lagi, bukan? Karena itulah, dorongan istri saya cukup membuat hati saya tergerak dan badan saya bergerak. Maksudnya cari-cari rumah. Benar-benar cari rumah, bukan untuk beli, karena belum ada uang untuk beli. Di waktu senggang, saya ke sana ke mari lihat-lihat rumah, dan juga tanah, di kampung-kampung atau komplek-komplek di pinggir kota. Bukan di tengah kota ya, karena kami sudah merasa sumpek kalau tinggal di tengah kota. Namun karena uang untuk beli belum ada juga, terus terang kami juga berpikir untuk hutang. Kalau kata istri saya mah, kadang-kadang dengan hutang kita bisa memaksakan diri untuk bisa punya sesuatu (Memang benar, asalkan kita bisa mengelola hutang dan pembayarannya dengan baik. Tapi itu masalah lain ya, tidak akan dibahas di sini). Pada saat itu, terus terang doa saya kepada Allah untuk bisa memiliki rumah sendiri semakin gencar terpanjatkan (Dari dulu sudah berdoa begini, tetapi intensitasnya yang kurang) hingga akhirnya saat "itu" datang...
Awal tahun 2008, pada saat istri saya mengandung calon anak keempat, rizki dari Allah yang tak disangka-sangka datang dari keluarga saya sendiri (Terima kasih kepada ibu dan kakak saya). Relatif kecil sehingga tidak cukup untuk membeli rumah yang mencukupi kebutuhan kami, tetapi relatif besar untuk menjadi uang muka pembelian rumah tipe 36 di salah satu komplek perumahan di Kabupaten Bandung. Kekurangan uangnya dari mana lagi? Ya terpaksa meminta pembiayaan KPR dari salah satu bank syariah (Mengapa bank syariah? Karena kami ingin berhutang dengan "selamat" dari segi syariat. Tapi itu masalah lain ya, tidak akan dibahas di sini). Setelah menyelesaikan urusan ini-itu dengan pihak pengembang dan bank, rumah kami mulai dibangun pertengahan tahun 2008. Setelah beberapa bulan dibangun dan jadi serta ditambah ini-itu buat keperluan keluarga, akhirnya rumah kami siap dihuni pada akhir tahun 2008.
Akhir tahun 2008, anak keempat kami lahir. Dua pekan setelah kelahiran anak kami ini (awal tahun 2009), kami pindah ke rumah kami sendiri. Kata istri saya mah, ini rizki dari Allah dengan adanya tambahan anak kami. Alhamdulillaah sekali lagi, bahkan alhamdulillaah tiada henti...
Rabu, Maret 12, 2008
Jangan Meremehkan Pertanyaan Anak
Saya ingat pada saat musim kemarau yang baru lalu ketika pulang dari masjid bersama anak pertama saya, ia bertanya kenapa tidak turun hujan. Saya jawab bahwa sekarang musim kemarau sehingga tidak turun hujan.
Suatu saat (masih dalam musim kemarau), ketika lagi-lagi saya pergi berboncengan naik motor bersama anak pertama saya, kami melewati sebuah jalan yang di sampingnya terdapat pohon-pohon yang berguguran daunnya dengan jumlah yang sangat banyak sehingga menutupi sebagian besar badan jalan itu. Di situ saya berkata kepadanya, “Di musim kemarau pohon-pohon ini meranggas, artinya mengugurkan daun-daunnya supaya mereka tidak cepat kekeringan.”
Sekarang tibalah akhir musim kemarau yang kebetulan juga disertai dengan beberapa kali hujan (Kata orang BMG mah: “Kemarau Basah”). Pada saat itu saya bepergian naik motor bersama anak pertama saya lagi melewati suatu jalan besar yang tertutupi sebagian badannya oleh dedaunan pohon-pohon yang meranggas. Oh ya, kebetulan kemarin hujan. Melihat dedaunan yang banyak ini, anak saya kemudian berkata: “Ayah, sekarang kemarau, tapi kemarin hujan.”
Kata-kata anak saya ini memang pendek, tapi membuat saya jadi berpikir bahwa anak ini mengingat penjelasan-penjelasan saya yang dulu, menyambungnya, lalu membuat kesimpulan dengan logika yang berbeda dengan penjelasan saya, tapi benar. Dengan kata lain, sebenarnya anak saya juga mempertanyakan penjelasan saya yang dulu itu.
Benar bahwa pada dasarnya anak punya keinginan untuk tahu, kemampuan untuk menyerap suatu informasi dari mana saja (bahkan yang cuma terlintas sepersekian detik), mengingat, menalar, dan mengambil kesimpulan, tidak peduli apakah informasi yang diterimanya lengkap atau tidak, atau kesimpulannya benar atau tidak. Karena ini pula, saya dan istri berusaha menjawab pertanyaan dengan jujur, tentunya disesuaikan dengan umur anak. Kalau sekiranya jawaban yang sebenarnya belum bisa dimengerti begitu saja oleh anak saya, ya terpaksa diberi jawaban lain yang juga benar karena kami tidak mau berbohong. Contohnya ketika istri saya mengalami haidh sehingga tidak melaksanakan shalat. Kalau anak-anak (yang pertama dan kedua) saya ajak ke masjid untuk shalat maghrib atau isya’ (saya sampai di rumah sepulang kerja sudah malam), mereka suka bertanya: “Ibu tidak shalat?”. Terus terang saya merasa anak-anak seumur mereka belum waktunya dijelaskan tentang haidh. Makanya saya jawab saja: “Ibu mau neteki dede bayi dulu.” Ini sebenarnya bukan jawaban sesungguhnya kenapa ibu mereka tidak shalat, tapi pada saat mereka bertanya memang merupakan saat tidurnya adik bayi mereka yang perlu diteteki dulu. Jadi benar juga, tidak bohong.
Sebagian orang mengatakan bahwa orang tua jangan menjawab “tidak tahu” atas pertanyaan anak. Bagi saya, tidak apa-apa orang tua menjawab “tidak tahu” kalau memang tidak tahu, daripada berbohong atau asal menjawab yang ujung-ujungnya bikin susah sendiri. Lebih baik apa adanya, tapi di lain waktu ketika kita sudah dapat jawabannya, kita berikan jawaban itu kepada mereka. Ingat, nanti pun dengan semakin besar dan semakin dewasanya anak-anak kita, mereka akan dapat tahu bahwa dahulu kita orang tua mereka menjawab dengan kebohongan atau asal.
Anak-anak kita itu makhluk luar biasa, cuma badannya saja yang masih kecil sehingga banyak orang tua “mengecilkan” mereka….
Kamis, Februari 21, 2008
Allah itu Maha Kaya...
Alhamdu lillaah, setelah sekian lama tidak bisa melakukan posting ke blog ini, akhirnya tercapai juga sekarang. Sebabnya biasa saja…kerjaan kantor yang terus menerus datang, kerjaan dari kampus yang terus sambung menyambung, serta keriuhan rumah tangga dengan anak-anak yang suka bercanda ria dengan ributnya dan suka merebut waktu memakai komputer di rumah, membuat saya tidak bisa leluasa menulis di komputer kantor maupun komputer di rumah.
Kemarin mati listrik dari sore sampai malam berjam-jam. Ini mungkin gara-gara defisit energi listrik ya? Tapi lumayan, anak-anak bisa disuruh tidur cepat setelah shalat Isya’ dan saya bisa ngobrol lama dengan istri. Ngobrol tentang apa? Banyak, salah satunya tentang rizki.
Nostalgia nih…Setelah saya lulus kuliah S1, saya langsung mengajar di beberapa tempat di mana ada satu yang cukup memberikan penghasilan yang besar sedangkan yang lain jadi tambahan. Setahun kemudian, saya meneruskan kuliah S2 sambil tetap mengajar. Setahun berikutnya saya menikah dengan istri saya ini. Setahun kemudian lagi lahir anak pertama. Setahun berikutnya lagi lahir anak kedua. Selang empat tahunan kemudian, lahir anak ketiga.
Omong-omong, dengan tiga anak ini, kami masih belum punya rumah sendiri. Soal rumah ini salah satu bahasan yang saya obrolkan dengan istri. Ketika awal kami membangun rumah tangga, kami jadi kontraktor (maksudnya ngontrak rumah). Setelah anak pertama lahir, kami tinggal di paviliun milik orang tua istri saya agar dekat dengan ibunya untuk menemani beliau karena bapaknya baru saja meninggal. Baru setelah beberapa tahun di situ sebelum kelahiran anak ketiga, kami berpindah ke rumah kakaknya yang kebetulan kosong tidak dipakai, sampai sekarang. Praktis selama ini kami berpindah-pindah tempat tinggal di rumah-rumah yang bukan milik sendiri.
Kenapa belum punya rumah sendiri ya? Biasa…belum ada dana untuk itu. Ingin punya rumah sendiri? Jelas! Ini pula yang kami bicarakan. Kenapa? Karena jelas lebih bebas untuk mengelola rumah tangga di rumah sendiri. Kalau di rumah orang lain, sekalipun punya saudara sendiri, tetap saja tidak bisa leluasa.
Tapi kami tidak pernah menyalahkan Allah jika keadaan kami masih begini sementara banyak orang lain yang telah mempunyai rumah. Tidak pantas jika kami merasa iri dengki kepada mereka karena kami harus ridha dengan takdir yang Allah tetapkan ini. Yang pasti kami berdoa dan berusaha, salah satunya dengan berusaha menabung, agar suatu saat kami bisa mendapatkan yang kami inginkan ini. Oh ya, setelah menikah, istri saya yang semula bekerja di rumah sakit sebagai PNS, keluar dari sana untuk mengurus rumah tangga. Dengan kata lain, pendapatan keluarga hanya berasal dari penghasilan saya.
Mungkin ada yang mempertanyakan, memangnya penghasilan selama ini tidak cukup untuk mewujudkan keinginan mempunyai rumah? Terus terang, kami baru beberapa tahun membina rumah tangga. Dan selama waktu yang pendek ini, ada beberapa kejadian yang sangat menguras keuangan keluarga, misalnya istri dan anak-anak yang beberapa kali dirawat di rumah sakit karena istri mengalami beberapa kali keguguran, sedangkan anak-anak (pertama dan kedua) kena demam berdarah. Ditambah lagi saya kena PHK, justru dari tempat yang memberikan penghasilan paling besar, sekalipun saya tetap bersyukur bahwa gantinya ternyata lebih baik.
Pada dasarnya, itulah dinamika hidup. Ada saatnya di atas, ada saatnya di bawah. Tidak bisa dipastikan bahwa grafik hidup akan selalu naik. Tapi yang pasti, sebagai orang beriman, jika kita mengalami musibah maka kita harus bersabar, dan jika kita mendapat karunia maka kita harus bersyukur. Dan khusus untuk saya, sekalipun banyak orang yang “lebih sejahtera”, ternyata saya “masih bisa melakukan banyak hal” dengan kondisi saya sekarang, sementara banyak juga yang lain yang “tidak bisa berbuat apa-apa” dengan kondisi mereka. Bersyukur? Jelas!
Dan khusus untuk saya lagi, ternyata dengan bertambahnya anak, taraf kehidupan kami juga “lebih baik”. Sekalipun tadi, diselingi segala macam: keuangan yang kadang-kadang terkuras, PHK, dan sebagainya. Makanya saya bisa berkata:
ANAK-ANAK ADALAH MILIK ALLAH YANG DIA TITIPKAN KEPADA KITA. TIDAK MUNGKIN ALLAH YANG MAHA KAYA MENITIPKAN MAKHLUKNYA KEPADA KITA TANPA MEMBERI “BEKAL” YANG CUKUP BUAT MEREKA HIDUP.
Makanya jangan khawatir dengan masalah rizki. Tiap anak ada rizkinya masing-masing. Jangan khawatir dengan adanya anak (yang bertambah). Kita orang tua cukup berusaha sungguh-sungguh menjemput rizki dari-Nya. Allah pasti tetap akan menyediakan kebutuhan kita, termasuk rumah buat kami!
Kamis, November 15, 2007
Membentuk karakter anak
Suatu saat saya pernah melihat secara sekilas sinetron “Bajaj Bajuri” di TV. Dalam sinetron itu si Oneng sering disebut oleh Emak, ibunya Oneng, dengan “Blo’on” atau suaminya dengan “O’on”. Saya jadi teringat pembahasan sikap ibunya ini dalam majalah “Auladi” (http://www.klik-auladi.com/) oleh seorang pakar di mana disebutkan di situ bahwa sikap Emak tersebut tidaklah semestinya karena kata-kata ibu itu merupakan doa bagi anaknya. Makanya jangan heran kalau Oneng blo’on karena didoakan terus oleh si Emak untuk jadi blo’on.
Tidak bisa dipungkiri bagaimana kata-kata orang tua dapat membentuk karakter anak. Contohnya seperti cerita di atas. Contoh lain dalam hal peniruan anak terhadap contoh dari orang taunya. Salah seorang kerabat saya mempunyai anak kecil yang suka membentak dan membangkang ibunya. Saya tidak heran karena ibunya sendiri suka membentak dan membangkang nenek anaknya (ibunya si ibu itu) di hadapan anaknya itu. Contoh lain lagi adalah tetangga saya yang mempunyai anak kecil juga yang suka memaki-maki. Saya tidak heran juga karena bapak dan ibunya memang suka memaki-maki. Hal seperti ini biasa terjadi kalau orang tua tidak bisa mengendalikan emosinya. Makanya kalau kita orang tua sedang marah ke anak, jangan sebut ia dengan sebutan-sebutan yang jelek. Panggil saja dengan “Sholeh!” (kalau anak laki-laki) atau “Sholehah!” (kalau anak perempuan). Biar mereka jadi anak sholeh/ah gitu, sekalipun kita lagi jengkel dengan sikap mereka.
Makanya saya jadi berhati-hati kalau berbicara dan bersikap di depan anak-anak saya. Untungnya kalau saya salah, istri saya suka menegur. Bahkan anak-anak saya juga kalau mendapati saya bersikap tidak baik yang tidak sesuai dengan kata-kata yang saya berikan kepada mereka, mereka bisa mengkritik. Dan biasanya saya langsung meminta maaf di hadapan mereka dan saya katakan bahwa saya tidak akan lagi bersikap begitu (Begitulah, orang tua tidak perlu malu meminta maaf kepada anak-anaknya).
Bahkan Nabi Muhammad telah memberi tuntunan kepada para suami yang mau “mendatangi” istrinya untuk berdoa sebelumnya dengan: “Bismillaah, Allaahumma jannibnasy-syaithaana wa jannibisy-syaithaana maa razaqtanaa” yang artinya kurang lebih: “Dengan nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah kami dari syetan dan jauhkanlah syetan dari apa yang Engkau rizqikan kepada kami (yaitu anak)”. Berarti dengan begini, orang tua sudah secara nyata membangun proteksi bagi anaknya, bahkan sebelum si anak itu “ada”. Tentunya proteksi dari syetan ini mempunyai maksud agar si anak tidak mudah tergelincir oleh syetan dan mempunyai “perilaku syetan”.
Disadari atau tidak, diakui atau tidak, kita sebagai orang tua berperan membentuk karakter anak-anak kita. Mau jadi apa dan mau bagaimana mereka, ya tergantung kita juga. Tinggal bagaimana kita bersikap yang semestinya.
Mudah-mudahan dapat menambah pencerahan yang sudah ada...
Langganan:
Postingan (Atom)