Barusan sore tadi ada mahasiswa saya yang menghadap saya ke ruangan saya. Singkat kata, dia mau mengundurkan diri karena ada 2-3 mata kuliah pada semester ini yang dia tidak bisa pahami.
Saya heran karena sebenarnya mahasiswa ini sejak dia masuk, menunjukkan prestasi yang bagus. Nilainya kalau bukan A, ya B. Jadi saya pandang, dia ini punya potensi besar dalam memahami kuliah, bahkan jika dibandingkan teman-temannya yang lain. Tentu saya sekali jika potensinya "diputus" begitu saja dengan pengunduran dirinya.
Setelah saya mendengar kemauannya tersebut, saya katakan bahwa saya berkeberatan dengan pengunduran dirinya. Kemudian saya coba gali latar belakang atau sebab yang membuatnya menyatakan kemauan mengundurkan diri tersebut.
Dia bercerita bahwa pada awalnya dia mengalami kesulitan memahami beberapa mata kuliah tersebut. Dia sudah coba bertanya kepada teman-temannya yang paham, bahkan dosen-dosennya, tapi tetap saja tidak paham. Puncaknya pada saat UAS pada salah satu mata kuliah tersebut, dia tidak bisa jawab sama sekali. Lembar jawabannya sampai kosong. Sejak itulah dia down.
Saya tanyakan apakah ada kegiatan-kegiatan atau sesuatu yang lain di luar yang mengganggu belajarnya, dia katakan tidak ada. Tapi kemudian dia katakan bahwa dia merasa dengan kondisi yang dia alami di atas, nilai semester ini akan turun. Yang dia khawatirkan adalah nilai kumulatif nantinya akan turun. Selain itu juga harapan orang tuanya yang mungkin jadi tidak terpenuhi, karena nilai yang tidak sesuai ekspektasinya.
Setelah mendengar penuturannya, saya kemudian bercerita, kilas balik tentang perjalanan kuliah S1 saya. Saya ceritakan bahwa dulu nilai-nilai saya banyak C-nya. Bahkan ada kuliah-kuliah yang saya ulang sampai jadi hattrick, maksudnya diulang sampai 4 kali. Tapi saya sampaikan juga, bahwa mungkin dia dan saya berbeda. Saya katakan bahwa saya pernah beberapa kali gagal, sampai sekarang. Jadi kalau kemudian gagal lagi, ya seakan biasa saja. Sedangkan dia, mungkin selama ini selalu mendapatkan hasil yang bagus, yang sesuai keinginannya. Tapi begitu dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, langsung down. Oleh karena itu, saya sampaikan kepadanya bahwa itulah hidup, tidak semua yang dia inginkan akan dia dapatkan. Saya sampaikan bahwa mungkin ada hal lagi nantinya yang lebih parah daripada yang sekarang. Kalau dia down sekarang, bagaimana nanti?
Saudara-saudara,
Saya bukannya memberikan alasan kegagalan sehingga orang harus merasa biasa kalau gagal. Saya cuma perlu menyampaikan bahwa dalam hidup, ada saja kemungkinan di mana kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Pada sebagian kondisi/perkara, bisa saja kita sebut itu ujian. Kalau sudah begini, ingat bahwa tiap manusia pasti akan diuji. Saya ambil dari https://almanhaj.or.id/3450-setiap-muslim-akan-menghadapi-ujian-dan-cobaan.html:
لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan [Âli ‘Imrân/3 : 186]
Catatan:
Sebagai bahan pemikiran juga, perlu dilihat juga bagaimana proses pendidikan anak oleh orang tua. Orang yang pada masa kecil atau remaja selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, tidak pernah merasakan kerasnya hidup atau kegagalan, bahkan mungkin semua hal dipenuhi atau dilayani orang tua, bisa mudah down ketika mengalami sekali kegagalan atau tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Dia mungkin akan membentuk anaknya dengan cara serupa. Dan akhirnya akan membentuk karakter anaknya serupa dengan karakter dirinya.
Sekedar selingan, saya kutip potongan puisi yang katanya dari Jendral McArthur berjudul "Doa Untuk Putraku" dari http://www.kompasiana.com/elynrambukaborang/doa-untuk-putraku-dari-jenderal-douglas-macarthur_55009537a333113072511514:
----
----
Ya Tuhan, bimbinglah ia bukan di jalan yang gampang dan mudah tetapi di jalan penuh desakan, tantangan dan kesukaran Ajarilah ia: agar ia sanggup berdiri tegak di tengah badai dan belajar mengasihi mereka yang tidak berhasil
---
---
Ditulis di Bandung untuk materi Kuliah via WA grup Alumni Al-Ikhlash, Kubang Selatan, Coblong, Bandung
Aji yang sekarang bukanlah Aji... Aji yang sekarang baru menuju menjadi Aji... Aji yang sebenarnya adalah Aji saat sakaratul maut...
Tampilkan postingan dengan label Tumbuh kembang anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tumbuh kembang anak. Tampilkan semua postingan
Jumat, Oktober 14, 2016
Rabu, April 02, 2014
Anak Perempuanku Sudah ABG!
Kata orang, anak-anak pada usia belasan tahun itu adalah anak-anak yang sedang dalam masa pubertas. Masa di mana tubuh dan jiwa mereka berkembang menjadi remaja. Masa di mana mereka mencari identitas diri dan mulai menjadi diri sendiri. Masa di mana mereka mungkin mendapat kegalauan-kegalauan baru yang tidak mereka alami semasa kanak-kanak sebelumnya. Masa di mana sebagian sudah harus menanggung beban syariat sebagai mukallaf yang mana dosa dan pahala sudah dihitung buat mereka karena sudah mengalami haidh (buat perempuan) atau mimpi basah (buat laki-laki).
Masa remaja adalah masa di mana tubuh dan jiwa di dalamnya berkembang menuju puncak kinerja yang akan dapat menghasilkan hasil maksimal di tengah godaan lingkungan remaja yang cenderung bisa menyimpangkan dari syariat. Makanya tidak heran jika pemuda yang hatinya tergantung di masjid akan mendapat naungan Allah di padang mahsyar nanti pada hari akhir. Jadi masa remaja harus mendapat perhatian khusus dari orang tua yang tentu dalam hal ini adalah pengarah mereka dalam keluarga.
Bagi saya sebagai orang tua yang mempunyai anak yang berusia belasan tahun seperti itu, tentu masa pubertas anak merupakan "sesuatu" yang penting untuk dicermati dan disikapi dengan bijak. Kenapa? Karena jika saya sebagai orang tua tidak bisa mencermati dan menyikapi pubertas anak dengan baik, tentulah akan menjadi masalah besar, buat saya dan tentunya buat anak saya juga. Ini perlu penekanan buat saya sendiri karena saya tidak ingin penyikapan yang salah akan membuat anak saya berjalan menyimpang dari syariat.
Ngomong-ngomong, beberapa pekan yang lalu ketika semua anak-anak saya sudah tidur (berarti waktunya saya dan istri benar-benar bisa beberes rumah), sambil membereskan buku-buku anak-anak yang cukup berantakan, istri saya bergumam: "Anak pertama kita sudah ABG..." Lah, apa pula ini?
Ternyata di antara buku-buku anak-anak kami yang dibereskan istri saya itu terdapat buku catatan anak pertama kami, perempuan, sudah masuk usia belasan tahun. Karena asalnya tergeletak begitu saja, halaman-halamannya mudah terbuka dan isinya dapat terbaca oleh istri saya. Apa isinya? Yah, "kegalauan-kegalauan" yang mulai muncul pada anak-anak yang dalam masa pubertas itu deh.
Istilah ABG (Anak Baru Gede) sendiri saya kira cukup dipahami, mewakili kondisi anak yang mulai beranjak remaja, mulai kelihatan meninggi tubuhnya, secara fisik mulai berkembang ke arah tubuh dewasa. Yah, umumnya anak yang sedang dalam masa pubertas lah. Dan inilah yang terjadi sekarang: anak saya sudah menjadi ABG.
Dahulu (ketika anak perempuan pertama saya ini masih kecil tetapi sudah kelihatan tumbuh bongsor) saya pernah berpikir panjang mengenai bagaimana kondisinya ketika dia nanti menginjak remaja, mengingat tantangan masa sekarang yang semakin membutuhkan perhatian orang tua, di samping perkembangan fisik anak saya ini yang memang cenderung sangat cepat (Saya kira tidak akan butuh lama lagi untuk menandingi tinggi badan ibunya, termasuk untuk memiliki tubuh "dewasa"). Tantangan yang saya maksud tentu juga termasuk mendidik agar tahu batasan aurat yang betul, menjaga amalan wajib dengan konsisten, dan yang juga tak kalah penting adalah untuk tahu batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang benar karena kegalauan masa pubertas yang timbul juga saya kira diakibatkan oleh pergaulan antar lain jenis ini.
Pada akhirnya saya dan istri saya mengambil sikap untuk mengajak bicara anak kami ini supaya kami tahu apa yang ada dalam pikirannya dan supaya kami bisa menanamkan nilai-nilai syariat yang seharusnya dia pahami pada kondisinya sekarang ini. Tentu ini dengan harapan bahwa dia dapat mengambil sikap yang tepat sesuai syariat tanpa keterlibatan sikap "keras" kami kepadanya. Sikap keras? Ya, karena tidak jarang orang tua kemudian mengambil sikap frontal terhadap anak yang mengalami masa pubertas, tetapi hasilnya malah membuat anak memberontak, lari, dan tidak lagi bisa diakses oleh orang tuanya.
Pembicaraan dengan anak kami ini (waktu itu dilakukan oleh istri saya karena saya tidak bisa turut serta akibat harus pulang malam dari kantor) ternyata memunculkan cerita-cerita pergaulan di sekolahnya yang perlu jadi perhatian kami, mengingat cerita-cerita itu tidak semestinya jadi referensi bagi anak kami untuk berbuat yang sama. Apalagi kami dan juga guru-guru sekolahnya pasti juga menyampaikan tuntunan-tuntunan baik yang semestinya menjadi referensinya. Namun begitulah yang namanya tantangan masa pubertas: sekalipun orang tua dan guru sudah berusaha membentengi anak, tetap ada saja celah yang bisa menjadi sebab bagi mereka untuk mengenal hal-hal yang tidak semestinya. Celah ini bisa saja berasal dari lingkungan di luar rumah atau sekolah (bisa tetangga, teman sekitar rumah, saudara, atau orang lain lagi), tayangan televisi (atau media massa yang lain), film, dan lain-lain. Dan harus dimengerti juga bahwa anak-anak kita tidak perlu waktu lama untuk menyerap masukan dari celah-celah itu dan menirunya. Ya, saya kira kita harus paham bahwa anak-anak kita itu peniru yang terbaik (Contoh paling mudah: Siapakah yang mengajari mereka untuk berbahasa? Saya kira tidak ada, tetapi mereka meniru bahasa orang-orang dewasa di sekitarnya).
Kami sangat bersyukur karena anak kami dapat mengambil kesimpulan yang benar mengenai sikap yang semestinya dia ambil di tengah lingkungan yang memungkinkan terjadinya hal-hal yang tidak semestinya bagi remaja seusianya. Apalagi dia masih perlu berkonsentrasi pada sekolahnya. Dan saya kira dia sendiri sangat paham keinginannya untuk dapat bersekolah setinggi-tingginya mengingat semangat belajar dan prestasinya yang tidak bisa diabaikan.
Tentu saja, kami sebagai orang tua tidak pernah melepaskannya sendiri untuk berjuang melewati masa remaja tanpa bimbingan. Kami sendiri sangat prihatin memperhatikan kondisi remaja yang dibiarkan begitu saja oleh orang tuanya untuk menjalani masa remajanya tanpa bimbingan, bahkan diabaikan. Bagi kami, tanggung jawab ini melekat dan menuntut upaya keras berketerusan serta akan ditanyakan di akhirat nanti. Apalagi mengingat masih ada anak-anak kami yang lebih kecil. Sekarang adalah masanya anak pertama kami. Sesudah itu akan menyusul anak kedua kami, anak ketiga kami, anak keempat kami, dan seterusnya (jika Allah izinkan). Tentu pula, tanpa pertolongan Allah, mustahil kami bisa menjalani ini semua, dan hanya kepada Allah-lah kami memohon pertolongan.
Ya, Allah, bantulah kami...
Masa remaja adalah masa di mana tubuh dan jiwa di dalamnya berkembang menuju puncak kinerja yang akan dapat menghasilkan hasil maksimal di tengah godaan lingkungan remaja yang cenderung bisa menyimpangkan dari syariat. Makanya tidak heran jika pemuda yang hatinya tergantung di masjid akan mendapat naungan Allah di padang mahsyar nanti pada hari akhir. Jadi masa remaja harus mendapat perhatian khusus dari orang tua yang tentu dalam hal ini adalah pengarah mereka dalam keluarga.
Bagi saya sebagai orang tua yang mempunyai anak yang berusia belasan tahun seperti itu, tentu masa pubertas anak merupakan "sesuatu" yang penting untuk dicermati dan disikapi dengan bijak. Kenapa? Karena jika saya sebagai orang tua tidak bisa mencermati dan menyikapi pubertas anak dengan baik, tentulah akan menjadi masalah besar, buat saya dan tentunya buat anak saya juga. Ini perlu penekanan buat saya sendiri karena saya tidak ingin penyikapan yang salah akan membuat anak saya berjalan menyimpang dari syariat.
Ngomong-ngomong, beberapa pekan yang lalu ketika semua anak-anak saya sudah tidur (berarti waktunya saya dan istri benar-benar bisa beberes rumah), sambil membereskan buku-buku anak-anak yang cukup berantakan, istri saya bergumam: "Anak pertama kita sudah ABG..." Lah, apa pula ini?
Ternyata di antara buku-buku anak-anak kami yang dibereskan istri saya itu terdapat buku catatan anak pertama kami, perempuan, sudah masuk usia belasan tahun. Karena asalnya tergeletak begitu saja, halaman-halamannya mudah terbuka dan isinya dapat terbaca oleh istri saya. Apa isinya? Yah, "kegalauan-kegalauan" yang mulai muncul pada anak-anak yang dalam masa pubertas itu deh.
Istilah ABG (Anak Baru Gede) sendiri saya kira cukup dipahami, mewakili kondisi anak yang mulai beranjak remaja, mulai kelihatan meninggi tubuhnya, secara fisik mulai berkembang ke arah tubuh dewasa. Yah, umumnya anak yang sedang dalam masa pubertas lah. Dan inilah yang terjadi sekarang: anak saya sudah menjadi ABG.
Dahulu (ketika anak perempuan pertama saya ini masih kecil tetapi sudah kelihatan tumbuh bongsor) saya pernah berpikir panjang mengenai bagaimana kondisinya ketika dia nanti menginjak remaja, mengingat tantangan masa sekarang yang semakin membutuhkan perhatian orang tua, di samping perkembangan fisik anak saya ini yang memang cenderung sangat cepat (Saya kira tidak akan butuh lama lagi untuk menandingi tinggi badan ibunya, termasuk untuk memiliki tubuh "dewasa"). Tantangan yang saya maksud tentu juga termasuk mendidik agar tahu batasan aurat yang betul, menjaga amalan wajib dengan konsisten, dan yang juga tak kalah penting adalah untuk tahu batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang benar karena kegalauan masa pubertas yang timbul juga saya kira diakibatkan oleh pergaulan antar lain jenis ini.
Pada akhirnya saya dan istri saya mengambil sikap untuk mengajak bicara anak kami ini supaya kami tahu apa yang ada dalam pikirannya dan supaya kami bisa menanamkan nilai-nilai syariat yang seharusnya dia pahami pada kondisinya sekarang ini. Tentu ini dengan harapan bahwa dia dapat mengambil sikap yang tepat sesuai syariat tanpa keterlibatan sikap "keras" kami kepadanya. Sikap keras? Ya, karena tidak jarang orang tua kemudian mengambil sikap frontal terhadap anak yang mengalami masa pubertas, tetapi hasilnya malah membuat anak memberontak, lari, dan tidak lagi bisa diakses oleh orang tuanya.
Pembicaraan dengan anak kami ini (waktu itu dilakukan oleh istri saya karena saya tidak bisa turut serta akibat harus pulang malam dari kantor) ternyata memunculkan cerita-cerita pergaulan di sekolahnya yang perlu jadi perhatian kami, mengingat cerita-cerita itu tidak semestinya jadi referensi bagi anak kami untuk berbuat yang sama. Apalagi kami dan juga guru-guru sekolahnya pasti juga menyampaikan tuntunan-tuntunan baik yang semestinya menjadi referensinya. Namun begitulah yang namanya tantangan masa pubertas: sekalipun orang tua dan guru sudah berusaha membentengi anak, tetap ada saja celah yang bisa menjadi sebab bagi mereka untuk mengenal hal-hal yang tidak semestinya. Celah ini bisa saja berasal dari lingkungan di luar rumah atau sekolah (bisa tetangga, teman sekitar rumah, saudara, atau orang lain lagi), tayangan televisi (atau media massa yang lain), film, dan lain-lain. Dan harus dimengerti juga bahwa anak-anak kita tidak perlu waktu lama untuk menyerap masukan dari celah-celah itu dan menirunya. Ya, saya kira kita harus paham bahwa anak-anak kita itu peniru yang terbaik (Contoh paling mudah: Siapakah yang mengajari mereka untuk berbahasa? Saya kira tidak ada, tetapi mereka meniru bahasa orang-orang dewasa di sekitarnya).
Kami sangat bersyukur karena anak kami dapat mengambil kesimpulan yang benar mengenai sikap yang semestinya dia ambil di tengah lingkungan yang memungkinkan terjadinya hal-hal yang tidak semestinya bagi remaja seusianya. Apalagi dia masih perlu berkonsentrasi pada sekolahnya. Dan saya kira dia sendiri sangat paham keinginannya untuk dapat bersekolah setinggi-tingginya mengingat semangat belajar dan prestasinya yang tidak bisa diabaikan.
Tentu saja, kami sebagai orang tua tidak pernah melepaskannya sendiri untuk berjuang melewati masa remaja tanpa bimbingan. Kami sendiri sangat prihatin memperhatikan kondisi remaja yang dibiarkan begitu saja oleh orang tuanya untuk menjalani masa remajanya tanpa bimbingan, bahkan diabaikan. Bagi kami, tanggung jawab ini melekat dan menuntut upaya keras berketerusan serta akan ditanyakan di akhirat nanti. Apalagi mengingat masih ada anak-anak kami yang lebih kecil. Sekarang adalah masanya anak pertama kami. Sesudah itu akan menyusul anak kedua kami, anak ketiga kami, anak keempat kami, dan seterusnya (jika Allah izinkan). Tentu pula, tanpa pertolongan Allah, mustahil kami bisa menjalani ini semua, dan hanya kepada Allah-lah kami memohon pertolongan.
Ya, Allah, bantulah kami...
Kamis, Februari 27, 2014
Golden Light
Beberapa waktu yang lalu anak saya yang paling kecil pergi ke tempat outbound bersama teman-temannya satu sekolah. Saat itu memang merupakan jadwal acara keluar dari sekolahnya, sebuah Taman Kanak-kanak, berombongan bersama para guru dan orang tua. Dan biasanya, di tempat acara-acara seperti itu ada tukang foto keliling yang memfoto para peserta, kemudian secara cepat mencetak foto-foto yang mereka ambil sehingga bisa dipajang di sekitar pintu keluar tempat acara sebelum para peserta pulang. Tujuannya tentu saja supaya dibeli oleh para peserta, terutama yang tidak membawa kamera sendiri, termasuk istri saya yang mendampingi anak kami tadi.
Pada malam hari sepulang kantor, istri saya menunjukkan foto hasil jepretan tukang foto keliling yang dibelinya di tempat acara outbond tadi. Tentu saja yang dibeli adalah foto-foto anak kami, beberapa lembar. Harganya cukup mahal juga, ya tidak apa-apa. Cukuplah untuk mengganti kerepotan kalau harus mencetak foto hasil jepretan kamera kami sendiri.
Ada satu lembar foto anak kami yang diambil secara close-up, dengan pose kepala dimiringkan dan senyum lebar yang manis sekali. Saya tertegun melihatnya cukup lama. Dalam hati saya berkata, "Aih..cantik sekali anakku ini." Kalau mengingat-ingat kembali pose anak kami ini pada foto-fotonya yang lain, saya pikir, anak kami ini photogenic juga. Kenapa? Ya karena pose-posenya begitu memperlihatkan kecantikan dirinya.
Terus apa hubungannya dengan Golden Light?
Saya mendengar istilah Golden Light pertama kali pada suatu tayangan teleivisi dahulu ketika ada komentator yang menanggapi foto-foto hasil jepretan seseorang yang dipujinya sebagai Golden Light. Artinya jepretannya sangat pas pada waktu di mana semua seginya bagus: momennya, sudutnya, pencahayaannya, posenya, dan sebagainya. Tentu ini luar biasa karena sebenarnya susah juga menemukan saat yang tepat untuk mengambil gambar. Ketika orang memfoto suatu peristiwa, mungkin dari sekian banyak foto yang dia buat, hanya sedikit yang bagus. Ya, tidak semua menjadi Golden Light.
Lalu apa hubungannya dengan foto anak saya?
Bagi saya, tentu anak-anak perempuan saya cantik-cantik semuanya. Kalau anak laki-laki saya, tentu saja ganteng (Seperti bapaknya? Oh tidak, tentu lebih ganteng daripada bapaknya!). Dan ada kalanya foto-foto mereka diambil pada saat yang tepat sehingga kecantikan atau kegantengan mereka begitu terlihat. Dan kalau sudah begini, orang tua (saya dan istri saya) yang melihatnya menjadi begitu tersentuh. Apa efeknya? Tentu jadi menggugah rasa sayang kami menjadi semakin besar, di tengah-tengah kejengkelan kami yang kadang muncul karena tingkah polah mereka sehari-hari.
Bukan berarti kalau tidak melihat foto anak-anak kami, rasa sayang kami tidak besar ya. Bukan begitu. Namun ini semacam pengingat atau semacam charging pada baterai kasih sayang di mana ada penguatan yang cukup berarti dengan saat seperti itu: memandangi foto-foto cantik dan gantengnya anak-anak.
Saya buka kembali foto-foto anak-anak kami yang dulu-dulu. Hmm..kalau disebut ada golden light, ya ada juga. Banyak, malah. Dan kalau sudah begitu, jadi teringat momen-momen yang kami lalui bersama yang direkam dalam foto-foto itu. Jadi teringat juga keceriaan mereka, tingkah polah mereka yang lucu, dan lain-lain hal yang terekam dalam foto. Ujung-ujungnya tentu perasaan sayang yang membuncah.
Anak-anakku...I love you full!
Pada malam hari sepulang kantor, istri saya menunjukkan foto hasil jepretan tukang foto keliling yang dibelinya di tempat acara outbond tadi. Tentu saja yang dibeli adalah foto-foto anak kami, beberapa lembar. Harganya cukup mahal juga, ya tidak apa-apa. Cukuplah untuk mengganti kerepotan kalau harus mencetak foto hasil jepretan kamera kami sendiri.
Ada satu lembar foto anak kami yang diambil secara close-up, dengan pose kepala dimiringkan dan senyum lebar yang manis sekali. Saya tertegun melihatnya cukup lama. Dalam hati saya berkata, "Aih..cantik sekali anakku ini." Kalau mengingat-ingat kembali pose anak kami ini pada foto-fotonya yang lain, saya pikir, anak kami ini photogenic juga. Kenapa? Ya karena pose-posenya begitu memperlihatkan kecantikan dirinya.
Terus apa hubungannya dengan Golden Light?
Saya mendengar istilah Golden Light pertama kali pada suatu tayangan teleivisi dahulu ketika ada komentator yang menanggapi foto-foto hasil jepretan seseorang yang dipujinya sebagai Golden Light. Artinya jepretannya sangat pas pada waktu di mana semua seginya bagus: momennya, sudutnya, pencahayaannya, posenya, dan sebagainya. Tentu ini luar biasa karena sebenarnya susah juga menemukan saat yang tepat untuk mengambil gambar. Ketika orang memfoto suatu peristiwa, mungkin dari sekian banyak foto yang dia buat, hanya sedikit yang bagus. Ya, tidak semua menjadi Golden Light.
Lalu apa hubungannya dengan foto anak saya?
Bagi saya, tentu anak-anak perempuan saya cantik-cantik semuanya. Kalau anak laki-laki saya, tentu saja ganteng (Seperti bapaknya? Oh tidak, tentu lebih ganteng daripada bapaknya!). Dan ada kalanya foto-foto mereka diambil pada saat yang tepat sehingga kecantikan atau kegantengan mereka begitu terlihat. Dan kalau sudah begini, orang tua (saya dan istri saya) yang melihatnya menjadi begitu tersentuh. Apa efeknya? Tentu jadi menggugah rasa sayang kami menjadi semakin besar, di tengah-tengah kejengkelan kami yang kadang muncul karena tingkah polah mereka sehari-hari.
Bukan berarti kalau tidak melihat foto anak-anak kami, rasa sayang kami tidak besar ya. Bukan begitu. Namun ini semacam pengingat atau semacam charging pada baterai kasih sayang di mana ada penguatan yang cukup berarti dengan saat seperti itu: memandangi foto-foto cantik dan gantengnya anak-anak.
Saya buka kembali foto-foto anak-anak kami yang dulu-dulu. Hmm..kalau disebut ada golden light, ya ada juga. Banyak, malah. Dan kalau sudah begitu, jadi teringat momen-momen yang kami lalui bersama yang direkam dalam foto-foto itu. Jadi teringat juga keceriaan mereka, tingkah polah mereka yang lucu, dan lain-lain hal yang terekam dalam foto. Ujung-ujungnya tentu perasaan sayang yang membuncah.
Anak-anakku...I love you full!
Jumat, Desember 20, 2013
Anak Bapak Itu Unik...
Tahukah Anda, apakah itu ADD dan ADHD?
Awal bulan ini istri saya meminta dicarikan bahan buat disampaikan dalam arisan ibu-ibu RT. Bahan buat arisan? Ya, maksudnya bahan diskusi atau paparan sebagai masukan atau tambahan ilmu buat ibu-ibu. Bagus juga nih, pikir saya. Kenapa? Karena tidak jarang ada ibu-ibu berkumpul arisan itu juga berkumpul untuk urusan yang tidak benar, misalnya ngerumpi ngomongin orang lain.
Sebenarnya tugas menyampaikan paparan di atas diberikan kepada yang menang arisan. Yang menang arisan kali ini adalah istri saya dan dua ibu yang lain. Namun karena dua ibu yang lain ini mempunyai bayi-bayi yang meyibukkan mereka, ya sudah, akhirnya istri saya yang dapat tugasnya. Sebenarnya istri saya juga sibuk karena harus mengurus anak-anak saudara yang harus mengurus orang tuanya yang dioperasi di rumah sakit.
Di kantor pada saat rehat kerja, saya cari-cari bahan yang diminta istri lewat internet. Setelah cukup lama berselancar, akhirnya saya pilih bahan tentang anak dengan ADHD dan ADD. Sekedar informasi, ADHD merupakan singkatan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Kalau dalam bahasa Indonesia berarti gangguan pemusatan perhatian disertai hiperaktivitas. Kalau ADD, ya berarti gangguan pemusatan perhatian, tapi tanpa disertai hiperaktivitas. Informasi lebih lanjut dapat dicari lewat internet, sebagaimana yang saya lakukan.
Mengapa saya pilih bahan ADHD dan ADD pada anak?
Sebenarnya ketertarikan saya untuk mengambil bahan tentang ADHD dan ADD pada anak ini cukup terdorong oleh adanya pembicaraan saya dan wali kelas dari anak kedua saya ketika pembagian rapor pada mid semester ini. Tentu saja bahasannya mengenai hasil yang dicapai oleh anak kedua saya sampai mid semester itu.
Pada dasarnya sih, secara akademik anak saya ini tidak bermasalah. Hasil pencapaian akademiknya bagus, bahkan rerata nilainya pada semester ini pun tertinggi di kelasnya. Tapi bukan itu masalahnya. Kenapa? Karena bagi saya dan istri saya, sebenarnya pencapaian akademik ini bukanlah satu-satunya yang harus diperhatikan. Bagi kami, hal-hal yang termasuk sikap pribadi anak juga penting untuk diperhatikan.
Nah, justru sikap pribadi anak kami ini sekarang yang lebih patut untuk diperhatikan: kurang perhatian, suka melakukan hal-hal yang "mengagetkan" atau tak terduga, kurang bisa mengendalikan penempatan sikap (di mana, kapan, dengan siapa) sehingga dikhawatirkan bisa dianggap tidak sopan oleh orang yang kurang paham. Namun anak kami ini aktif, kreatif (apa saja bisa menjadi "sesuatu" baginya), dan pemahaman akademiknya baik (Kurang perhatian saja hasilnya sudah sangat baik, apalagi jika bisa fokus. Tentu hasilnya akan maksimal).
Terus terang, saya dan istri saya kadang-kadang suka merasa gusar dengan sikap anak kami ini. Tentu saja bukan marah karena manganggap anak kami ini "nakal". Sama sekali bukan. Hanya saja penempatan sikap anak kami yang tidak tepat itu yang menimbulkan kegusaran tadi. Sebenarnya kami sendiri tidak menganggap anak kami bermasalah, bahkan wali kelas anak kami ini mengatakan: "Anak Bapak ini unik".
Sebenarnya "keunikan" ini menimbulkan konsekuensi tersendiri. Maksudnya, anak saya ini mempunyai kebutuhan-kebutuhan khusus yang berbeda dengan anak-anak lain. Alhamdu lillaah bahwa saya dan istri saya sudah tahu tentang hal ini dan selama ini juga telah melakukan upaya-upaya untuk mendukung pemenuhan kebutuhan-kebutuhan ini. Tentu belum maksimal. Namun kami berharap bahwa upaya-upaya kami ini dapat memberikan hasil yang memadai bagi tumbuh kembangnya anak kami ini menjadi pribadi yang baik.
Kembali ke ADHD dan ADD pada anak di atas.
Menurut saya, jelas anak kedua saya ini tidak termasuk anak yang mempunyai ADHD atau ADD. Mungkin lebih tepatnya ke "Super aktif" atau "Aktif". Menurut saya ya. Buktinya ya itu, pencapaian akademiknya bagus. Tapi ya memang butuh penanganan khusus. Kebetulan dulu pernah ada teman, seorang fisioterapis, yang melakukan "penilaian" terhadap anak kami. Dari beliau inilah kami tahu beberapa hal yang mesti kami perhatikan buat anak kami ini.
Sebagaimana kata para ilmuwan sekarang, sebenarnya anak-anak yang memiliki ADHD atau ADD juga mempunyai kebutuhan-kebutuhan khusus yang patut diperhatikan oleh para orang tua. Secara umum, anak-anak seperti ini (tidak hanya yang memiliki ADHD atau ADD) termasuk ABK atau Anak Berkebutuhan Khusus. Salah satu hal yang patut disyukuri di masa sekarang ini adalah banyaknya penelitian tentang ABK ini sehingga pemahaman kita lebih baik, di samping tentunya karena penyebaran informasi yang cukup luas, misalnya lewat internet, sehingga para orang tua mempunyai akses yang lebih mudah dan lebih baik daripada masa lalu.
Seringkali saya meras gusar dengan adanya kasus yang muncul di media massa tentang orang atau anak yang dipasung. Kenapa? Karena bisa jadi mereka sebenarnya adalah ABK tetapi karena orang tua, keluarga, atau lingkungannya tidak mengerti bagaimana menangani ABK, jadinya diambil jalan (pintas) yang mereka tahu. Ya mungkin karena kebanyakan mereka kurang terpelajar dan tinggal di daerah yang susah mengakses informasi. Padahal bisa jadi, dengan perlakuan yang benar, orang atau anak tersebut dapat menjadi orang "normal".
Kata istri saya, ABK ini sebenarnya normal, hanya saja mempunyai kebutuhan khusus. Kalau ditangani dengan benar, ya tentu saja dia dapat berperilaku dengan "normal", berbaur dengan orang lain, bahkan memberikan manfaat bagi dirinya sendiri maupun masyarakat. Tidak sedikit orang yang tadinya adalah ABK dapat mencapai kesuksesan hidup yang menakjubkan.
Tentu sebagai orang tua, kita tidak boleh buru-buru memberi vonis, misalnya "nakal" atau "bermasalah", kepada anak kita ketika kita mendapati perilaku mereka tidak seperti anak-anak yang lain. Mungkin malah kita yang bermasalah, karena tidak melakukan tindakan yang seharusnya pada anak kita yang sebenarnya ABK. Jadi yang ada bukan anak yang bermasalah, tetapi justru orang tua yang bermasalah.
Oleh karena itu, pahamilah anak-anak kita. Pahamilah kebutuhan-kebutuhan mereka. Tentu bukalah dahulu wawasan kita tentang kebutuhan-kebutuhan anak-anak kita. Barangkali terdapat potensi besar di balik kebutuhan-kebutuhan khusus mereka. Siapa tahu?
Awal bulan ini istri saya meminta dicarikan bahan buat disampaikan dalam arisan ibu-ibu RT. Bahan buat arisan? Ya, maksudnya bahan diskusi atau paparan sebagai masukan atau tambahan ilmu buat ibu-ibu. Bagus juga nih, pikir saya. Kenapa? Karena tidak jarang ada ibu-ibu berkumpul arisan itu juga berkumpul untuk urusan yang tidak benar, misalnya ngerumpi ngomongin orang lain.
Sebenarnya tugas menyampaikan paparan di atas diberikan kepada yang menang arisan. Yang menang arisan kali ini adalah istri saya dan dua ibu yang lain. Namun karena dua ibu yang lain ini mempunyai bayi-bayi yang meyibukkan mereka, ya sudah, akhirnya istri saya yang dapat tugasnya. Sebenarnya istri saya juga sibuk karena harus mengurus anak-anak saudara yang harus mengurus orang tuanya yang dioperasi di rumah sakit.
Di kantor pada saat rehat kerja, saya cari-cari bahan yang diminta istri lewat internet. Setelah cukup lama berselancar, akhirnya saya pilih bahan tentang anak dengan ADHD dan ADD. Sekedar informasi, ADHD merupakan singkatan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Kalau dalam bahasa Indonesia berarti gangguan pemusatan perhatian disertai hiperaktivitas. Kalau ADD, ya berarti gangguan pemusatan perhatian, tapi tanpa disertai hiperaktivitas. Informasi lebih lanjut dapat dicari lewat internet, sebagaimana yang saya lakukan.
Mengapa saya pilih bahan ADHD dan ADD pada anak?
Sebenarnya ketertarikan saya untuk mengambil bahan tentang ADHD dan ADD pada anak ini cukup terdorong oleh adanya pembicaraan saya dan wali kelas dari anak kedua saya ketika pembagian rapor pada mid semester ini. Tentu saja bahasannya mengenai hasil yang dicapai oleh anak kedua saya sampai mid semester itu.
Pada dasarnya sih, secara akademik anak saya ini tidak bermasalah. Hasil pencapaian akademiknya bagus, bahkan rerata nilainya pada semester ini pun tertinggi di kelasnya. Tapi bukan itu masalahnya. Kenapa? Karena bagi saya dan istri saya, sebenarnya pencapaian akademik ini bukanlah satu-satunya yang harus diperhatikan. Bagi kami, hal-hal yang termasuk sikap pribadi anak juga penting untuk diperhatikan.
Nah, justru sikap pribadi anak kami ini sekarang yang lebih patut untuk diperhatikan: kurang perhatian, suka melakukan hal-hal yang "mengagetkan" atau tak terduga, kurang bisa mengendalikan penempatan sikap (di mana, kapan, dengan siapa) sehingga dikhawatirkan bisa dianggap tidak sopan oleh orang yang kurang paham. Namun anak kami ini aktif, kreatif (apa saja bisa menjadi "sesuatu" baginya), dan pemahaman akademiknya baik (Kurang perhatian saja hasilnya sudah sangat baik, apalagi jika bisa fokus. Tentu hasilnya akan maksimal).
Terus terang, saya dan istri saya kadang-kadang suka merasa gusar dengan sikap anak kami ini. Tentu saja bukan marah karena manganggap anak kami ini "nakal". Sama sekali bukan. Hanya saja penempatan sikap anak kami yang tidak tepat itu yang menimbulkan kegusaran tadi. Sebenarnya kami sendiri tidak menganggap anak kami bermasalah, bahkan wali kelas anak kami ini mengatakan: "Anak Bapak ini unik".
Sebenarnya "keunikan" ini menimbulkan konsekuensi tersendiri. Maksudnya, anak saya ini mempunyai kebutuhan-kebutuhan khusus yang berbeda dengan anak-anak lain. Alhamdu lillaah bahwa saya dan istri saya sudah tahu tentang hal ini dan selama ini juga telah melakukan upaya-upaya untuk mendukung pemenuhan kebutuhan-kebutuhan ini. Tentu belum maksimal. Namun kami berharap bahwa upaya-upaya kami ini dapat memberikan hasil yang memadai bagi tumbuh kembangnya anak kami ini menjadi pribadi yang baik.
Kembali ke ADHD dan ADD pada anak di atas.
Menurut saya, jelas anak kedua saya ini tidak termasuk anak yang mempunyai ADHD atau ADD. Mungkin lebih tepatnya ke "Super aktif" atau "Aktif". Menurut saya ya. Buktinya ya itu, pencapaian akademiknya bagus. Tapi ya memang butuh penanganan khusus. Kebetulan dulu pernah ada teman, seorang fisioterapis, yang melakukan "penilaian" terhadap anak kami. Dari beliau inilah kami tahu beberapa hal yang mesti kami perhatikan buat anak kami ini.
Sebagaimana kata para ilmuwan sekarang, sebenarnya anak-anak yang memiliki ADHD atau ADD juga mempunyai kebutuhan-kebutuhan khusus yang patut diperhatikan oleh para orang tua. Secara umum, anak-anak seperti ini (tidak hanya yang memiliki ADHD atau ADD) termasuk ABK atau Anak Berkebutuhan Khusus. Salah satu hal yang patut disyukuri di masa sekarang ini adalah banyaknya penelitian tentang ABK ini sehingga pemahaman kita lebih baik, di samping tentunya karena penyebaran informasi yang cukup luas, misalnya lewat internet, sehingga para orang tua mempunyai akses yang lebih mudah dan lebih baik daripada masa lalu.
Seringkali saya meras gusar dengan adanya kasus yang muncul di media massa tentang orang atau anak yang dipasung. Kenapa? Karena bisa jadi mereka sebenarnya adalah ABK tetapi karena orang tua, keluarga, atau lingkungannya tidak mengerti bagaimana menangani ABK, jadinya diambil jalan (pintas) yang mereka tahu. Ya mungkin karena kebanyakan mereka kurang terpelajar dan tinggal di daerah yang susah mengakses informasi. Padahal bisa jadi, dengan perlakuan yang benar, orang atau anak tersebut dapat menjadi orang "normal".
Kata istri saya, ABK ini sebenarnya normal, hanya saja mempunyai kebutuhan khusus. Kalau ditangani dengan benar, ya tentu saja dia dapat berperilaku dengan "normal", berbaur dengan orang lain, bahkan memberikan manfaat bagi dirinya sendiri maupun masyarakat. Tidak sedikit orang yang tadinya adalah ABK dapat mencapai kesuksesan hidup yang menakjubkan.
Tentu sebagai orang tua, kita tidak boleh buru-buru memberi vonis, misalnya "nakal" atau "bermasalah", kepada anak kita ketika kita mendapati perilaku mereka tidak seperti anak-anak yang lain. Mungkin malah kita yang bermasalah, karena tidak melakukan tindakan yang seharusnya pada anak kita yang sebenarnya ABK. Jadi yang ada bukan anak yang bermasalah, tetapi justru orang tua yang bermasalah.
Oleh karena itu, pahamilah anak-anak kita. Pahamilah kebutuhan-kebutuhan mereka. Tentu bukalah dahulu wawasan kita tentang kebutuhan-kebutuhan anak-anak kita. Barangkali terdapat potensi besar di balik kebutuhan-kebutuhan khusus mereka. Siapa tahu?
Rabu, Desember 11, 2013
Anak Kayak Gini, Kok Bisa Ya?
Pada suatu hari, salah satu stasiun TV swasta menayangkan suatu potongan wawancara dengan Kak Seto Mulyadi. Saya tidak ingat bahasan besar dari tayangan itu, tetapi yang saya ingat dari kata-kata Kak Seto itu adalah dialognya dengan seseorang yang dikritik oleh Kak Seto karena bersikap keras kepada anaknya. Kata Kak Seto, orang itu memberi tanggapan seperti ini: "Kak Seto, ini belum apa-apa. Dulu yang saya terima dari orang tua saya empat belas kali lebih keras daripada ini."
Empat belas kali? Bagaimana menghitungnya ya?
Sekedar cerita dulu: Pada mid semester kemarin, anak saya yang pertama dan kedua memberikan surat dari sekolah. Isinya tentang pembagian rapor, tapi kali ini disertai pembahasan hasil selama tri wulan ini dengan wali kelas selama 1/2 jam. Ya, masing-masing orang tua mendapat jadwal bertatap muka secara pribadi dengan wali kelas. Semacam konsultasi, begitu lah. Jadi kali ini tidak ada pembagian rapor di mana semua orang tua siswa berkumpul di satu ruangan kemudian dipanggil satu per satu ke depan ke meja guru untuk mengambil rapor anaknya.
Cerita saya kali ini tentang pertemuan dengan wali kelas anak saya yang pertama. Isi pertemuan pada awalnya membahas pencapaian akademik anak saya ini. Lumayan juga, rerata nilainya jika dibikin peringkat untuk satu kelasnya adalah nomor dua. Tapi terus terang, saya dan istri saya sebenarnya kurang begitu peduli tentang pencapaian akademik begituan. Bukan apa-apa ya, mungkin karena kami menganggap pencapaian akademik tadi hanya sebagian dari pencapaian anak kami, bukan satu-satunya yang harus diperhatikan. Ya, masih banyak lagi pencapaian anak kami yang harus kami perhatikan: sikap, kemandirian, kedewasaan, ...
Karena hal-hal selain pencapaian akademik bagi kami juga penting, makanya saya bertanya kepada wali kelas anak saya ini, apa saja sih kekurangan anak saya ini? Dijawab oleh wali kelas anak kami ini bahwa anak kami ini kurang teliti dan kurang bisa menegur temannya yang berbuat tidak baik atau tidak semestinya. Hmm...ya, saya pikir anak kami ini memang perlu lebih teliti. Sekalipun bisa mengerjakan soal, kalau tidak teliti ya sama saja, tentu hasilnya akan jelek. Adapun kalau anak kami ini kurang bisa menegur temannya, ya mungkin saja dia masih merasa segan untuk menegur langsung temannya. Paling-paling yang dia bisa adalah menyampaikan ke wali kelasnya untuk ditindaklanjuti. Ya tidak apa-apa, mungkin masih dalam proses dalam nahy munkar.
Lebih lanjut, saya bertanya kepada wali kelas anak saya ini, apakah anak saya ini bermasalah? Langsung saja wali kelas anak saya ini menjawab: "Oh, tidak, Pak. Justru saya bersyukur punya murid seperti anak Bapak ini yang tidak bermasalah". Iseng saja saya bertanya: "Apakah ada anak yang bermasalah?" Dijawab juga langsung oleh wali kelas anak saya ini: "Oh, banyak, Pak. Terutama yang laki-laki." Wah!
Lebih lanjut lagi, wali kelas anak saya ini menuturkan kelebihan-kelebihannya, misalnya mandiri dan hal-hal lain yang dimiliknya. Wah, saya sendiri cukup terkejut. Kok bisa ya? Padahal saya sendiri suka menegur anak saya ini yang kalau mengerjakan sesuatu di rumah masih belum menunjukkan kinerja yang sesuai standar saya.
Kinerja? Kok seperti bekerja di kantor saja ya? Terus apa hubungannya dengan kata-kata Kak Seto di atas?
Saya pikir, saya mungkin menggunakan standar "tinggi" buat anak saya. Padahal dengan usia seukuran anak saya ini, mungkin sebenarnya kinerjanya sudah cukup bagus, paling tidak di sekolahnya. Saya pikir lebih lanjut, ya barangkali karena saya memakai standar sebagaimana yang diterapkan orang tua saya dahulu kepada saya: bekerja harus sempurna menurut standar orang tua saya dan kalau tidak sesuai, ya harus terima "konsekuensi-konsekuensinya". Ini juga yang dipikir oleh istri saya tentang saya, yaitu bahwa sedikit banyak, "ajaran" orang tua ini kemudian menurun ke saya dan berpengaruh kepada saya dalam mengajari anak saya sendiri.
Bagus? Sebentar...
Kata-kata Kak Seto di atas sebenarnya menunjukkan hal yang sama, yaitu bahwa barangkali orang tua menerapkan sesuatu yang serupa dengan yang dilakukan oleh orang tuanya dulu kepada anaknya. Memang bisa jadi lebih "ringan". Namun tetap saja terjadi kecenderungan yang sama di mana praktik yang dulu terjadi, berulang di kemudian hari. Alhamdu lillaah kalau praktik yang diulang adalah yang baik, tetapi bisa saja kan, yang berulang adalah kekerasan atau penyiksaan. Tidak mustahil, bukan?
Nah, saya pikir, sudah saatnya kita sebagai orang tua melihat kembali apakah cara-cara kita mendidik anak sudah tepat? Apakah bukan sekedar karena dahulu orang tua kita begini, maka ya sekarang kita menerapkan yang serupa. Padahal, dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada orang tua kita, belum tentu apa yang dilakukan oleh orang tua kita itu benar semua. Kenapa? Karena tetap saja orang tua kita pun punya keterbatasan, sama dengan kita. Kalau karena keterbatasan kita kemudian kita berbuat sesuatu yang tidak tepat, berarti orang tua kita dahulu juga bisa begitu juga kan?
Selain itu, sebenarnya kita perlu untuk bisa menghargai kinerja yang sudah ditunjukkan oleh anak-anak kita. Bagaimana pun, kita harus menganggap bahwa mereka juga berupaya untuk menghasilkan kinerja yang bagus. Hanya saja, mungkin karena kita menggunakan standar yang terlalu tinggi buat mereka, akhirnya kita memandang mereka tidak berkinerja bagus. Padahal yang mereka tunjukkan sudah bagus, paling tidak buat usia dan lingkungan mereka.
Empat belas kali? Bagaimana menghitungnya ya?
Sekedar cerita dulu: Pada mid semester kemarin, anak saya yang pertama dan kedua memberikan surat dari sekolah. Isinya tentang pembagian rapor, tapi kali ini disertai pembahasan hasil selama tri wulan ini dengan wali kelas selama 1/2 jam. Ya, masing-masing orang tua mendapat jadwal bertatap muka secara pribadi dengan wali kelas. Semacam konsultasi, begitu lah. Jadi kali ini tidak ada pembagian rapor di mana semua orang tua siswa berkumpul di satu ruangan kemudian dipanggil satu per satu ke depan ke meja guru untuk mengambil rapor anaknya.
Cerita saya kali ini tentang pertemuan dengan wali kelas anak saya yang pertama. Isi pertemuan pada awalnya membahas pencapaian akademik anak saya ini. Lumayan juga, rerata nilainya jika dibikin peringkat untuk satu kelasnya adalah nomor dua. Tapi terus terang, saya dan istri saya sebenarnya kurang begitu peduli tentang pencapaian akademik begituan. Bukan apa-apa ya, mungkin karena kami menganggap pencapaian akademik tadi hanya sebagian dari pencapaian anak kami, bukan satu-satunya yang harus diperhatikan. Ya, masih banyak lagi pencapaian anak kami yang harus kami perhatikan: sikap, kemandirian, kedewasaan, ...
Karena hal-hal selain pencapaian akademik bagi kami juga penting, makanya saya bertanya kepada wali kelas anak saya ini, apa saja sih kekurangan anak saya ini? Dijawab oleh wali kelas anak kami ini bahwa anak kami ini kurang teliti dan kurang bisa menegur temannya yang berbuat tidak baik atau tidak semestinya. Hmm...ya, saya pikir anak kami ini memang perlu lebih teliti. Sekalipun bisa mengerjakan soal, kalau tidak teliti ya sama saja, tentu hasilnya akan jelek. Adapun kalau anak kami ini kurang bisa menegur temannya, ya mungkin saja dia masih merasa segan untuk menegur langsung temannya. Paling-paling yang dia bisa adalah menyampaikan ke wali kelasnya untuk ditindaklanjuti. Ya tidak apa-apa, mungkin masih dalam proses dalam nahy munkar.
Lebih lanjut, saya bertanya kepada wali kelas anak saya ini, apakah anak saya ini bermasalah? Langsung saja wali kelas anak saya ini menjawab: "Oh, tidak, Pak. Justru saya bersyukur punya murid seperti anak Bapak ini yang tidak bermasalah". Iseng saja saya bertanya: "Apakah ada anak yang bermasalah?" Dijawab juga langsung oleh wali kelas anak saya ini: "Oh, banyak, Pak. Terutama yang laki-laki." Wah!
Lebih lanjut lagi, wali kelas anak saya ini menuturkan kelebihan-kelebihannya, misalnya mandiri dan hal-hal lain yang dimiliknya. Wah, saya sendiri cukup terkejut. Kok bisa ya? Padahal saya sendiri suka menegur anak saya ini yang kalau mengerjakan sesuatu di rumah masih belum menunjukkan kinerja yang sesuai standar saya.
Kinerja? Kok seperti bekerja di kantor saja ya? Terus apa hubungannya dengan kata-kata Kak Seto di atas?
Saya pikir, saya mungkin menggunakan standar "tinggi" buat anak saya. Padahal dengan usia seukuran anak saya ini, mungkin sebenarnya kinerjanya sudah cukup bagus, paling tidak di sekolahnya. Saya pikir lebih lanjut, ya barangkali karena saya memakai standar sebagaimana yang diterapkan orang tua saya dahulu kepada saya: bekerja harus sempurna menurut standar orang tua saya dan kalau tidak sesuai, ya harus terima "konsekuensi-konsekuensinya". Ini juga yang dipikir oleh istri saya tentang saya, yaitu bahwa sedikit banyak, "ajaran" orang tua ini kemudian menurun ke saya dan berpengaruh kepada saya dalam mengajari anak saya sendiri.
Bagus? Sebentar...
Kata-kata Kak Seto di atas sebenarnya menunjukkan hal yang sama, yaitu bahwa barangkali orang tua menerapkan sesuatu yang serupa dengan yang dilakukan oleh orang tuanya dulu kepada anaknya. Memang bisa jadi lebih "ringan". Namun tetap saja terjadi kecenderungan yang sama di mana praktik yang dulu terjadi, berulang di kemudian hari. Alhamdu lillaah kalau praktik yang diulang adalah yang baik, tetapi bisa saja kan, yang berulang adalah kekerasan atau penyiksaan. Tidak mustahil, bukan?
Nah, saya pikir, sudah saatnya kita sebagai orang tua melihat kembali apakah cara-cara kita mendidik anak sudah tepat? Apakah bukan sekedar karena dahulu orang tua kita begini, maka ya sekarang kita menerapkan yang serupa. Padahal, dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada orang tua kita, belum tentu apa yang dilakukan oleh orang tua kita itu benar semua. Kenapa? Karena tetap saja orang tua kita pun punya keterbatasan, sama dengan kita. Kalau karena keterbatasan kita kemudian kita berbuat sesuatu yang tidak tepat, berarti orang tua kita dahulu juga bisa begitu juga kan?
Selain itu, sebenarnya kita perlu untuk bisa menghargai kinerja yang sudah ditunjukkan oleh anak-anak kita. Bagaimana pun, kita harus menganggap bahwa mereka juga berupaya untuk menghasilkan kinerja yang bagus. Hanya saja, mungkin karena kita menggunakan standar yang terlalu tinggi buat mereka, akhirnya kita memandang mereka tidak berkinerja bagus. Padahal yang mereka tunjukkan sudah bagus, paling tidak buat usia dan lingkungan mereka.
Rabu, November 20, 2013
Speaking Freely
Apa ya, terjemahan bahasa Indonesia yang pas untuk speaking freely? Berbicara dengan bebas? Yah, apa sajalah, yang penting saya dapat ungkapan untuk "berbicara dengan bebas, dengan pengungkapan yang berasal dari olah pikir sendiri, tanpa tekanan atau didikte oleh orang lain". Mungkin ada yang tidak setuju dengan pengertian saya. Ya tidak apa-apa. Barangkali ada ungkapan lain yang lebih tepat, silakan koreksi saya.
Saya ingat waktu anak pertama kami masih kecil, sebelum usianya setahun. Kebetulan pada waktu itu, neneknya (ibunya istri saya) dan bibi-bibinya (saudari-saudari istri saya) ikut mengasuhnya. Kalau mengasuh, ya tentu saja ikut mengajak/mengajari bicara kepada anak saya ini. Kebetulan anak saya ini juga mau segera mengikuti kata-kata yang diajarkan tiap kali dia diminta untuk mengucapkan kata-kata itu. Hasilnya? Anak saya ini jadi lebih cepat dapat berbicara dengan lancar pada usia segitu.
Tapi ternyata metode yang diterapkan untuk anak saya yang pertama itu, tidak cocok untuk anak saya yang kedua. Kenapa? Karena anak saya yang ini tidak segera mau mengikuti kata-kata yang diajarkan kepadanya. Bahkan boleh dikata, setiap kali dia diminta untuk mengucapkan kata-kata itu, dianya cenderung diam. Sampai umur menjelang dua tahun pun, bisa dikatakan dia sedikit sekali bicara.
Namun siapa sangka, sekalipun anak kedua saya ini sedikit bicara, ternyata ketika dia bicara, dia bisa mengungkapkan kata-kata dengan jelas dan pas sesuai maknanya, bahkan dengan kata-kata atau kalimat yang saya pikir belum masanya diucapkan anak seusianya. Contohnya begini: Pada suatu malam, ketika anak kedua kami ini belum genap berusia setahun, dia tidur sekasur bersama kakaknya (Memang waktu itu begitu: dia dan kakaknya tidur bersama pada kasur besar). Kebetulan guling atau bantalnya (saya lupa) terpakai oleh kakaknya. Tentu saja tidak sengaja, karena mereka dalam keadaan tidur. Tapi kemudian anak kedua kami ini terbangun dan melihat miliknya dipakai oleh kakaknya. Dia segera mengambil miliknya sambil berkata: "Enak aja!"
Saya dan istri sebagai orang tuanya yang kebetulan waktu itu belum tidur tentu saja terkejut. Bagaimana tidak? Anak kami yang belum genap setahun dan kelihatannya susah diajari bicara ternyata mengucapkan kata-kata dengan jelas dan pas! (Siapa juga yang mengajari dia mengucapkan kata-kata itu?) Ini tentu saja tidak dinyana. Anak kami yang kelihatannya "terlambat bicara" ternyata sebenarnya sudah bisa bicara dengan semestinya, walaupun tidak "seramai" anak-anak lain seusianya (paling tidak yang kami kenal/ketahui).
Selanjutnya kami sebagai orang tua sebenarnya bisa dikatakan tidak pernah menuntun (atau mendikte) anak pertama dan kedua kami ini untuk mengucapkan sebuah kata atau kalimat. Kami biarkan saja keduanya berkomunikasi langsung dengan orang lain meskipun ada kata atau kalimat yang tidak jelas (Namanya juga masih kecil). Kalau ada kata atau kalimat yang tidak jelas seperti ini, biasanya kami meminta untuk mengulang omongan mereka sampai kami mengerti apa yang mereka maksud. Memang sepertinya ini memberatkan mereka, tetapi menurut pengamatan kami, cara seperti ini membuat tutur kata mereka menjadi berkembang karena mereka mudah menyerap tutur kata yang luas, tidak terbatas tutur kata yang dicontohkan kedua orang tua mereka. Sekalipun tentu saja ada tutur kata yang membuat kami terkaget-kaget, seperti yang saya contohkan di atas itu.
Cara kami seperti di atas kami terapkan juga untuk anak ketiga dan keempat kami. Kebetulan kedua anak kami ini seperti anak kedua kami ketika kecil. Maksudnya tidak mudah didiktekan suatu kata atau kalimat untuk ditiru. Sampai umur menjelang dua tahun pun bisa dikatakan kosa kata yang keluar dari mulut mereka tidak sebanyak anak-anak seusia mereka. Ya paling tidak yang kami kenal/ketahui. Kebetulan ada saudara juga yang mempunyai anak-anak seusia anak ketiga dan keempat kami ini. Karena kebetulan waktu itu dia tinggal bersama ibunya dan dapat dikatakan banyak urusan rumah tangga yang tidak dia urusi, bisa dikatakan urusan sehari-harinya ya hanya mengurus anak-anaknya saja. Makanya kosa kata anak-anaknya itu bisa cukup banyak, sebagaimana yang diajarkan ibunya. Oh ya, kebetulan saudara kami ini cukup dominan dalam mendikte anak-anaknya dalam bertutur kata. Makanya tidak aneh kalau cara bertutur kata anak-anaknya, termasuk dalam merespon sesuatu, persis benar dengan yang diajarkan ibunya.
Namun siapa sangka, anak ketiga dan keempat kami ini setelah berumur dua tahun mempunyai perkembangan bahasa yang sangat pesat. Tutur kata yang keluar menjadi sangat banyak dan seperti anak kami yang kedua, banyak di antara tutur kata mereka yang membuat kami terkaget-kaget. Mungkin karena banyak "guru"-nya, cara mereka bertutur kata pun sangat beragam. Ada cara tutur kata kami yang mereka serap, tapi ada pula cara tutur kata dari "luar" yang sering membuat dahi kami berkerut, marah, atau malah tertawa-tawa. Dan jangan heran, mereka pun bisa berkomentar, atau mengajukan protes dengan "lancar". Yah, begitulah..speaking freely!
Saya ingat waktu anak pertama kami masih kecil, sebelum usianya setahun. Kebetulan pada waktu itu, neneknya (ibunya istri saya) dan bibi-bibinya (saudari-saudari istri saya) ikut mengasuhnya. Kalau mengasuh, ya tentu saja ikut mengajak/mengajari bicara kepada anak saya ini. Kebetulan anak saya ini juga mau segera mengikuti kata-kata yang diajarkan tiap kali dia diminta untuk mengucapkan kata-kata itu. Hasilnya? Anak saya ini jadi lebih cepat dapat berbicara dengan lancar pada usia segitu.
Tapi ternyata metode yang diterapkan untuk anak saya yang pertama itu, tidak cocok untuk anak saya yang kedua. Kenapa? Karena anak saya yang ini tidak segera mau mengikuti kata-kata yang diajarkan kepadanya. Bahkan boleh dikata, setiap kali dia diminta untuk mengucapkan kata-kata itu, dianya cenderung diam. Sampai umur menjelang dua tahun pun, bisa dikatakan dia sedikit sekali bicara.
Namun siapa sangka, sekalipun anak kedua saya ini sedikit bicara, ternyata ketika dia bicara, dia bisa mengungkapkan kata-kata dengan jelas dan pas sesuai maknanya, bahkan dengan kata-kata atau kalimat yang saya pikir belum masanya diucapkan anak seusianya. Contohnya begini: Pada suatu malam, ketika anak kedua kami ini belum genap berusia setahun, dia tidur sekasur bersama kakaknya (Memang waktu itu begitu: dia dan kakaknya tidur bersama pada kasur besar). Kebetulan guling atau bantalnya (saya lupa) terpakai oleh kakaknya. Tentu saja tidak sengaja, karena mereka dalam keadaan tidur. Tapi kemudian anak kedua kami ini terbangun dan melihat miliknya dipakai oleh kakaknya. Dia segera mengambil miliknya sambil berkata: "Enak aja!"
Saya dan istri sebagai orang tuanya yang kebetulan waktu itu belum tidur tentu saja terkejut. Bagaimana tidak? Anak kami yang belum genap setahun dan kelihatannya susah diajari bicara ternyata mengucapkan kata-kata dengan jelas dan pas! (Siapa juga yang mengajari dia mengucapkan kata-kata itu?) Ini tentu saja tidak dinyana. Anak kami yang kelihatannya "terlambat bicara" ternyata sebenarnya sudah bisa bicara dengan semestinya, walaupun tidak "seramai" anak-anak lain seusianya (paling tidak yang kami kenal/ketahui).
Selanjutnya kami sebagai orang tua sebenarnya bisa dikatakan tidak pernah menuntun (atau mendikte) anak pertama dan kedua kami ini untuk mengucapkan sebuah kata atau kalimat. Kami biarkan saja keduanya berkomunikasi langsung dengan orang lain meskipun ada kata atau kalimat yang tidak jelas (Namanya juga masih kecil). Kalau ada kata atau kalimat yang tidak jelas seperti ini, biasanya kami meminta untuk mengulang omongan mereka sampai kami mengerti apa yang mereka maksud. Memang sepertinya ini memberatkan mereka, tetapi menurut pengamatan kami, cara seperti ini membuat tutur kata mereka menjadi berkembang karena mereka mudah menyerap tutur kata yang luas, tidak terbatas tutur kata yang dicontohkan kedua orang tua mereka. Sekalipun tentu saja ada tutur kata yang membuat kami terkaget-kaget, seperti yang saya contohkan di atas itu.
Cara kami seperti di atas kami terapkan juga untuk anak ketiga dan keempat kami. Kebetulan kedua anak kami ini seperti anak kedua kami ketika kecil. Maksudnya tidak mudah didiktekan suatu kata atau kalimat untuk ditiru. Sampai umur menjelang dua tahun pun bisa dikatakan kosa kata yang keluar dari mulut mereka tidak sebanyak anak-anak seusia mereka. Ya paling tidak yang kami kenal/ketahui. Kebetulan ada saudara juga yang mempunyai anak-anak seusia anak ketiga dan keempat kami ini. Karena kebetulan waktu itu dia tinggal bersama ibunya dan dapat dikatakan banyak urusan rumah tangga yang tidak dia urusi, bisa dikatakan urusan sehari-harinya ya hanya mengurus anak-anaknya saja. Makanya kosa kata anak-anaknya itu bisa cukup banyak, sebagaimana yang diajarkan ibunya. Oh ya, kebetulan saudara kami ini cukup dominan dalam mendikte anak-anaknya dalam bertutur kata. Makanya tidak aneh kalau cara bertutur kata anak-anaknya, termasuk dalam merespon sesuatu, persis benar dengan yang diajarkan ibunya.
Namun siapa sangka, anak ketiga dan keempat kami ini setelah berumur dua tahun mempunyai perkembangan bahasa yang sangat pesat. Tutur kata yang keluar menjadi sangat banyak dan seperti anak kami yang kedua, banyak di antara tutur kata mereka yang membuat kami terkaget-kaget. Mungkin karena banyak "guru"-nya, cara mereka bertutur kata pun sangat beragam. Ada cara tutur kata kami yang mereka serap, tapi ada pula cara tutur kata dari "luar" yang sering membuat dahi kami berkerut, marah, atau malah tertawa-tawa. Dan jangan heran, mereka pun bisa berkomentar, atau mengajukan protes dengan "lancar". Yah, begitulah..speaking freely!
Selasa, November 19, 2013
Itu Cuma Wadahnya, Tergantung Kita Yang mengisinya
Tahun 2013 ini adalah waktunya bagi anak kami yang ketiga untuk masuk Sekolah Dasar. Namun atas dasar pertimbangan ini dan itu, akhirnya kami mendaftarkannya ke Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) tempat kakak-kakaknya bersekolah. Sebagaimana beberapa sekolah Islam yang lain, di MIS ini dilakukan tes kematangan kepada anak-anak yang didaftarkan untuk masuk. Dan pada awal tahun ini anak kami menjalani tes kematangan tersebut di MIS itu.
Karena kebetulan saya harus bekerja dan ibunya (maksud saya: istri saya) harus mengantar jemput adiknya (anak kami yang keempat) yang bersekolah juga di suatu PAUD yang jaraknya berjauhan dengan MIS itu, maka kami orang tuanya tidak bisa menungguinya selama menjalani tes. Kami titipkan saja dia kepada kakak-kakaknya. Maksudnya titip untuk dilihat-lihat selama tes dan kalau sudah selesai tes, ya ditemani.
Setelah menjemput anak kami yang keempat, istri saya langsung menjemput anak kami yang ketiga. ALhamdu lillaah anak kami ini bisa menjalani tes dengan lancar. Setelah selesai tes juga tidak ribut mencari-cari orang tuanya. Kata istri saya, anak kami ini setelah selesai tes, ya asyik saja lihat kakak-kakaknya bermain bersama teman-temannya. Bahkan ketika dia diajak pulang pun, masih sempat berkata "tunggu dulu". Mungkin masih merasa asyik melihat calon kakak-kakak angkatannya bermain-main di sekolah itu.
Beberapa bulan kemudian, ada undangan atau panggilan dari pihak sekolah (MIS di atas) kepada kami untuk melakukan konsultasi dengan psikolog yang melakukan tes kematangan pada anak kami. Karena istri saya tidak bisa hadir, akhirnya saya yang hadir sendirian untuk keperluan konsultasi ini. Dan singkat cerita, akhirnya saya datang pada hari dan jam yang ditentukan untuk konsultasi dengan sang psikolog.
Pada sesi konsultasi di atas, sang psikolog menerangkan terlebih dahulu istilah-istilah dan pengertian-pengertiannya dari skala yang dipakai untuk mengukur kematangan anak kami. Dan singkat cerita, pada kesempatan itu, sang psikolog menyampaikan bahwa anak kami mempunyai tingkat kemampuan yang di atas rata-rata, bahkan untuk beberapa hal, kemampuannya setingkat dengan anak yang usianya jauh di atasnya.
Saya pikir, "Ah masa sih?". Saya sendiri merasa bahwa anak saya itu biasa-biasa saja. Memang ada hal-hal yang sejujurnya saya bisa katakan istimewa atau tidak biasa pada anak saya itu, dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya (paling tidak yang kami kenal/temui). Makanya saya kemudian menanyakan, bagaimana metode yang dipakai untuk pengukuran itu, demi untuk meyakinkan diri saya sendiri atas pernyataan sang psikolog. Sang psikolog kemudian membeberkan secara singkat metode-metode yang dipakai dalam pengukuran untuk menjawab pertanyaan saya di atas. Memang ada hal-hal yang tetap tidak bisa saya mengerti, tapi secara umum saya bisa terima penjelasannya.
Ada hal yang cukup membuat saya berpikir cukup dalam dari penjelasan sang psikolog, yaitu kemampuan-kemampuan anak kami yang di atas rata-rata anak seusianya menurut hasil tes: "Itu cuma wadahnya saja, tergantung kita yang mengisinya". Saya memahaminya seperti ini: Hasil tes cuma menunjukkan potensi-potensinya saja, tergantung orang tuanya untuk menumbuhkembangkannya setelah itu dalam proses pendidikan anaknya.
Saya jadi teringat hadits Nabi Muhammad SAW di mana beliau menyebutkan bahwa tiap anak itu dilahirkan atas fitrahnya. Kemudian orang tuanya yang akan mengislamkannya, atau membuatnya jadi yahudi, nasrani, atau majusi. Dalam hadits ini jelas sekali diindikasikan bahwa anak itu sudah diberi potensi untuk baik dan dipastikan bahwa orang tua sangat berperan dalam membentuk si anak tersebut.
Makanya saya kemudian berpikir bahwa bisa jadi pada anak yang dipandang orang tuanya biasa-biasa saja, terdapat potensi yang besar sekali. Tinggal orang tuanya apakah bisa melihat potensi tersebut ataukah tidak. Mungkin perlu bantuan orang lain dalam menggali potensi anak (Kenapa tidak?). Kemudian ya tinggal orang tuanya lagi yang harus bisa membentuk anak dengan segala potensinya itu untuk tumbuh dan berkembang dengan baik.
Semoga Allah SWT memudahkan jalan kami dalam mendidik anak-anak kami sehingga dapat menjadi orang-orang yang shalih-shalihah yang dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain/masyarakat.
Karena kebetulan saya harus bekerja dan ibunya (maksud saya: istri saya) harus mengantar jemput adiknya (anak kami yang keempat) yang bersekolah juga di suatu PAUD yang jaraknya berjauhan dengan MIS itu, maka kami orang tuanya tidak bisa menungguinya selama menjalani tes. Kami titipkan saja dia kepada kakak-kakaknya. Maksudnya titip untuk dilihat-lihat selama tes dan kalau sudah selesai tes, ya ditemani.
Setelah menjemput anak kami yang keempat, istri saya langsung menjemput anak kami yang ketiga. ALhamdu lillaah anak kami ini bisa menjalani tes dengan lancar. Setelah selesai tes juga tidak ribut mencari-cari orang tuanya. Kata istri saya, anak kami ini setelah selesai tes, ya asyik saja lihat kakak-kakaknya bermain bersama teman-temannya. Bahkan ketika dia diajak pulang pun, masih sempat berkata "tunggu dulu". Mungkin masih merasa asyik melihat calon kakak-kakak angkatannya bermain-main di sekolah itu.
Beberapa bulan kemudian, ada undangan atau panggilan dari pihak sekolah (MIS di atas) kepada kami untuk melakukan konsultasi dengan psikolog yang melakukan tes kematangan pada anak kami. Karena istri saya tidak bisa hadir, akhirnya saya yang hadir sendirian untuk keperluan konsultasi ini. Dan singkat cerita, akhirnya saya datang pada hari dan jam yang ditentukan untuk konsultasi dengan sang psikolog.
Pada sesi konsultasi di atas, sang psikolog menerangkan terlebih dahulu istilah-istilah dan pengertian-pengertiannya dari skala yang dipakai untuk mengukur kematangan anak kami. Dan singkat cerita, pada kesempatan itu, sang psikolog menyampaikan bahwa anak kami mempunyai tingkat kemampuan yang di atas rata-rata, bahkan untuk beberapa hal, kemampuannya setingkat dengan anak yang usianya jauh di atasnya.
Saya pikir, "Ah masa sih?". Saya sendiri merasa bahwa anak saya itu biasa-biasa saja. Memang ada hal-hal yang sejujurnya saya bisa katakan istimewa atau tidak biasa pada anak saya itu, dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya (paling tidak yang kami kenal/temui). Makanya saya kemudian menanyakan, bagaimana metode yang dipakai untuk pengukuran itu, demi untuk meyakinkan diri saya sendiri atas pernyataan sang psikolog. Sang psikolog kemudian membeberkan secara singkat metode-metode yang dipakai dalam pengukuran untuk menjawab pertanyaan saya di atas. Memang ada hal-hal yang tetap tidak bisa saya mengerti, tapi secara umum saya bisa terima penjelasannya.
Ada hal yang cukup membuat saya berpikir cukup dalam dari penjelasan sang psikolog, yaitu kemampuan-kemampuan anak kami yang di atas rata-rata anak seusianya menurut hasil tes: "Itu cuma wadahnya saja, tergantung kita yang mengisinya". Saya memahaminya seperti ini: Hasil tes cuma menunjukkan potensi-potensinya saja, tergantung orang tuanya untuk menumbuhkembangkannya setelah itu dalam proses pendidikan anaknya.
Saya jadi teringat hadits Nabi Muhammad SAW di mana beliau menyebutkan bahwa tiap anak itu dilahirkan atas fitrahnya. Kemudian orang tuanya yang akan mengislamkannya, atau membuatnya jadi yahudi, nasrani, atau majusi. Dalam hadits ini jelas sekali diindikasikan bahwa anak itu sudah diberi potensi untuk baik dan dipastikan bahwa orang tua sangat berperan dalam membentuk si anak tersebut.
Makanya saya kemudian berpikir bahwa bisa jadi pada anak yang dipandang orang tuanya biasa-biasa saja, terdapat potensi yang besar sekali. Tinggal orang tuanya apakah bisa melihat potensi tersebut ataukah tidak. Mungkin perlu bantuan orang lain dalam menggali potensi anak (Kenapa tidak?). Kemudian ya tinggal orang tuanya lagi yang harus bisa membentuk anak dengan segala potensinya itu untuk tumbuh dan berkembang dengan baik.
Semoga Allah SWT memudahkan jalan kami dalam mendidik anak-anak kami sehingga dapat menjadi orang-orang yang shalih-shalihah yang dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain/masyarakat.
Kamis, Agustus 09, 2012
Bongsornya Anakku
Tak terasa, anak pertama kami, perempuan, sudah menginjak usia 10 tahun. Pada saat tulisan ini dibuat, dia sudah masuk kelas V di sebuah madrasah ibtidaiyah swasta. Usia yang masih menunjukkan sangat mudanya dia sebenarnya, tapi tidak menunjukkan ukuran badannya. Kenapa?
Sudah beberapa tahun belakangan ini, saya selalu menemui kesulitan untuk mendapatkan sepatu sekolah pada tiap tahun ajaran baru. Dasarnya masih usia anak-anak, anak pertama saya ini ingin mendapatkan sepatu yang seperti teman-temannya punyai, katakanlah yang berwarna pink bergambar Barbie. Namun kenyataannya, selalu kami gagal mendapatkannya, sekalipun sudah mutar-muter, ngubek-ubek sekian banyak toko sepatu. Masalahnya sama: tidak ada sepatu dengan model begitu yang cukup untuknya. Semua sepatu dengan model begitu selalu tersedia dengan ukuran kecil, ukuran anak-anak. Akhirnya pada tahun ini,
dia mendapat sepatu berwarna ungu dengan ukuran yang sama dengan ukuran sepatu ibunya!!
Kata orang: anak-anak sekarang cepat gede ya. Bisa jadi. Bisa kita lihat sendiri, sekarang banyak anak-anak SD sudah terlihat sangat bongsor, bahkan tinggi badan mereka bisa melebihi tinggi badan guru-gurunya! Mungkin kalau mereka berfoto bersama guru, sang guru dari "generasi lama" akan tenggelam di tengah kumpulan murid-muridnya dari "generasi baru" karena kalah tinggi badan.
Kata orang: makanan anak-anak sekarang beda sama makanan orang-orang dulu. Bisa jadi. Inilah mungkin hasil dari makanan instan/segera siap saji dengan segala macam zat tambahan di dalamnya (sekalipun kami sudah berusaha supaya anak-anak kami tidak terbiasa jajan dan menghindari zat-zat tambahan dalam makanan, seperti MSG misalnya). Realitas di masyarakat menunjukkan kecenderungan munculnya kondisi-kondisi buruk akibat konsumsi berlebihan dari makanan seperti itu, seperti obesitas anak atau diabetes anak, yang di jaman orang tua dahulu dari generasi lama mungkin tidak kita dapati. Sebenarnya sih, yang kelihatan sangat bongsor dari anak-anak kami ya cuma anak pertama saja. Adik-adiknya cenderung punya badan
kecil-kecil. Orang bisa bilang: ini karena faktor genetika saja. Bisa jadi.
Yang jadi masalah besar akibat badan bongsor sebenarnya sih bukan urusan sepatunya. Atau lebih lanjut, bukan urusan baju yang tentu saja juga harus berukuran besar. Masalah besar sebenarnya adalah bagaimana menerapkan hukum syariat pada anak kecil yang bongsor ini. Kecil karena memang masih berusia sepuluh tahun, belum balighah, sehingga tentu saja dia belum mukallafah, yang sudah bisa menerima pembebanan syariat sehingga sudah ada hitungan pahala dan dosanya secara tegas. Tapi bongsor, yang tentu saja dalam pandangan orang lain akan terlihat sebagai anak "sudah gede".
Bagi orang tua yang paham syariat, kebingungan yang muncul, sebagai contoh, adalah karena anak kecil yang bongsor sepantasnya tidak berperilaku sebagai anak kecil lagi mengingat bentuk badan yang sudah cenderung seperti anak gede tadi, katakanlah dalam urusan berpakaian. Kalau anaknya laki-laki sih sepertinya tidak begitu masalah (mungkin...), tapi berbeda kalau anaknya perempuan. Ya tentu saja karena orang tua harus mengambil sikap: ini anak harus berpakaian sebagaimana perempuan dewasa, atau boleh seperti anak-anak kecil lainnya?
Bagi kami, tentu saja niat untuk mendidik anak dengan baik sesuai syariat adalah landasan bersikap yang benar. Sekalipun dari segi fiqih, anak kecil berpakaian seperti anak kecil lainnya mungkin tidak mengapa, kami sendiri tidak ingin bahwa "pembiaran" ini melenakan sehingga menjadi "keterlanjuran". Maksudnya adalah karena orang tua membiarkan anak perempuannya yang bongsor itu berpakaian tanpa menutup aurat dengan benar (karena masih dianggap seperti anak kecil), si anak akhirnya merasa nyaman berpakaian seperti itu, hingga ketika dia sudah mencapai usia balighah, dia masih saja berpakaian seperti itu. Makanya jangan heran, seandainya di luaran, di jalan-jalan, kita bisa temukan ibu-ibu yang berkerudung rapi didampingi anak-anak perempuannya yang berpakaian seksi.
Dulu, saya pernah mendengar penjelasan bahwa imam-imam berpendapat bahwa anak-anak perempuan yang masih kecil sudah seharusnya menutup kepala (berhijab) sebagai bagian dari pendidikan Islam dan adab/akhlaq yang baik. Memang bagi orang tua, ini butuh perjuangan karena perlu waktu untuk memberi pengertian kepada anak yang masih kecil. Namun paling tidak, pembiasaan haruslah dilakukan supaya menjadi perilaku dahulu bagi anak dan menanamkan sifat malu kepadanya agar selalu menutup aurat, sambil lambat laun seiring bertambah mengertinya dia tentang Al-Quran dan Al-hadits, dia seharusnya diberi pengertian tentang dalil-dalil dari Al-Quran dan Al-hadits yang bersangkutan.
Mendidik anak perempuan memang butuh perjuangan khusus. Makanya tidak heran bahwa ada keutamaan mendidik anak perempuan bagi orang tua yang sabar menghadapinya dan mencukupi kebutuhannya. Mudah-mudahan Allah memudahkan urusan kami mendidik anak-anak perempuan kami. Aamiin.
Sudah beberapa tahun belakangan ini, saya selalu menemui kesulitan untuk mendapatkan sepatu sekolah pada tiap tahun ajaran baru. Dasarnya masih usia anak-anak, anak pertama saya ini ingin mendapatkan sepatu yang seperti teman-temannya punyai, katakanlah yang berwarna pink bergambar Barbie. Namun kenyataannya, selalu kami gagal mendapatkannya, sekalipun sudah mutar-muter, ngubek-ubek sekian banyak toko sepatu. Masalahnya sama: tidak ada sepatu dengan model begitu yang cukup untuknya. Semua sepatu dengan model begitu selalu tersedia dengan ukuran kecil, ukuran anak-anak. Akhirnya pada tahun ini,
dia mendapat sepatu berwarna ungu dengan ukuran yang sama dengan ukuran sepatu ibunya!!
Kata orang: anak-anak sekarang cepat gede ya. Bisa jadi. Bisa kita lihat sendiri, sekarang banyak anak-anak SD sudah terlihat sangat bongsor, bahkan tinggi badan mereka bisa melebihi tinggi badan guru-gurunya! Mungkin kalau mereka berfoto bersama guru, sang guru dari "generasi lama" akan tenggelam di tengah kumpulan murid-muridnya dari "generasi baru" karena kalah tinggi badan.
Kata orang: makanan anak-anak sekarang beda sama makanan orang-orang dulu. Bisa jadi. Inilah mungkin hasil dari makanan instan/segera siap saji dengan segala macam zat tambahan di dalamnya (sekalipun kami sudah berusaha supaya anak-anak kami tidak terbiasa jajan dan menghindari zat-zat tambahan dalam makanan, seperti MSG misalnya). Realitas di masyarakat menunjukkan kecenderungan munculnya kondisi-kondisi buruk akibat konsumsi berlebihan dari makanan seperti itu, seperti obesitas anak atau diabetes anak, yang di jaman orang tua dahulu dari generasi lama mungkin tidak kita dapati. Sebenarnya sih, yang kelihatan sangat bongsor dari anak-anak kami ya cuma anak pertama saja. Adik-adiknya cenderung punya badan
kecil-kecil. Orang bisa bilang: ini karena faktor genetika saja. Bisa jadi.
Yang jadi masalah besar akibat badan bongsor sebenarnya sih bukan urusan sepatunya. Atau lebih lanjut, bukan urusan baju yang tentu saja juga harus berukuran besar. Masalah besar sebenarnya adalah bagaimana menerapkan hukum syariat pada anak kecil yang bongsor ini. Kecil karena memang masih berusia sepuluh tahun, belum balighah, sehingga tentu saja dia belum mukallafah, yang sudah bisa menerima pembebanan syariat sehingga sudah ada hitungan pahala dan dosanya secara tegas. Tapi bongsor, yang tentu saja dalam pandangan orang lain akan terlihat sebagai anak "sudah gede".
Bagi orang tua yang paham syariat, kebingungan yang muncul, sebagai contoh, adalah karena anak kecil yang bongsor sepantasnya tidak berperilaku sebagai anak kecil lagi mengingat bentuk badan yang sudah cenderung seperti anak gede tadi, katakanlah dalam urusan berpakaian. Kalau anaknya laki-laki sih sepertinya tidak begitu masalah (mungkin...), tapi berbeda kalau anaknya perempuan. Ya tentu saja karena orang tua harus mengambil sikap: ini anak harus berpakaian sebagaimana perempuan dewasa, atau boleh seperti anak-anak kecil lainnya?
Bagi kami, tentu saja niat untuk mendidik anak dengan baik sesuai syariat adalah landasan bersikap yang benar. Sekalipun dari segi fiqih, anak kecil berpakaian seperti anak kecil lainnya mungkin tidak mengapa, kami sendiri tidak ingin bahwa "pembiaran" ini melenakan sehingga menjadi "keterlanjuran". Maksudnya adalah karena orang tua membiarkan anak perempuannya yang bongsor itu berpakaian tanpa menutup aurat dengan benar (karena masih dianggap seperti anak kecil), si anak akhirnya merasa nyaman berpakaian seperti itu, hingga ketika dia sudah mencapai usia balighah, dia masih saja berpakaian seperti itu. Makanya jangan heran, seandainya di luaran, di jalan-jalan, kita bisa temukan ibu-ibu yang berkerudung rapi didampingi anak-anak perempuannya yang berpakaian seksi.
Dulu, saya pernah mendengar penjelasan bahwa imam-imam berpendapat bahwa anak-anak perempuan yang masih kecil sudah seharusnya menutup kepala (berhijab) sebagai bagian dari pendidikan Islam dan adab/akhlaq yang baik. Memang bagi orang tua, ini butuh perjuangan karena perlu waktu untuk memberi pengertian kepada anak yang masih kecil. Namun paling tidak, pembiasaan haruslah dilakukan supaya menjadi perilaku dahulu bagi anak dan menanamkan sifat malu kepadanya agar selalu menutup aurat, sambil lambat laun seiring bertambah mengertinya dia tentang Al-Quran dan Al-hadits, dia seharusnya diberi pengertian tentang dalil-dalil dari Al-Quran dan Al-hadits yang bersangkutan.
Mendidik anak perempuan memang butuh perjuangan khusus. Makanya tidak heran bahwa ada keutamaan mendidik anak perempuan bagi orang tua yang sabar menghadapinya dan mencukupi kebutuhannya. Mudah-mudahan Allah memudahkan urusan kami mendidik anak-anak perempuan kami. Aamiin.
Rabu, Maret 12, 2008
Jangan Meremehkan Pertanyaan Anak
Saya ingat pada saat musim kemarau yang baru lalu ketika pulang dari masjid bersama anak pertama saya, ia bertanya kenapa tidak turun hujan. Saya jawab bahwa sekarang musim kemarau sehingga tidak turun hujan.
Suatu saat (masih dalam musim kemarau), ketika lagi-lagi saya pergi berboncengan naik motor bersama anak pertama saya, kami melewati sebuah jalan yang di sampingnya terdapat pohon-pohon yang berguguran daunnya dengan jumlah yang sangat banyak sehingga menutupi sebagian besar badan jalan itu. Di situ saya berkata kepadanya, “Di musim kemarau pohon-pohon ini meranggas, artinya mengugurkan daun-daunnya supaya mereka tidak cepat kekeringan.”
Sekarang tibalah akhir musim kemarau yang kebetulan juga disertai dengan beberapa kali hujan (Kata orang BMG mah: “Kemarau Basah”). Pada saat itu saya bepergian naik motor bersama anak pertama saya lagi melewati suatu jalan besar yang tertutupi sebagian badannya oleh dedaunan pohon-pohon yang meranggas. Oh ya, kebetulan kemarin hujan. Melihat dedaunan yang banyak ini, anak saya kemudian berkata: “Ayah, sekarang kemarau, tapi kemarin hujan.”
Kata-kata anak saya ini memang pendek, tapi membuat saya jadi berpikir bahwa anak ini mengingat penjelasan-penjelasan saya yang dulu, menyambungnya, lalu membuat kesimpulan dengan logika yang berbeda dengan penjelasan saya, tapi benar. Dengan kata lain, sebenarnya anak saya juga mempertanyakan penjelasan saya yang dulu itu.
Benar bahwa pada dasarnya anak punya keinginan untuk tahu, kemampuan untuk menyerap suatu informasi dari mana saja (bahkan yang cuma terlintas sepersekian detik), mengingat, menalar, dan mengambil kesimpulan, tidak peduli apakah informasi yang diterimanya lengkap atau tidak, atau kesimpulannya benar atau tidak. Karena ini pula, saya dan istri berusaha menjawab pertanyaan dengan jujur, tentunya disesuaikan dengan umur anak. Kalau sekiranya jawaban yang sebenarnya belum bisa dimengerti begitu saja oleh anak saya, ya terpaksa diberi jawaban lain yang juga benar karena kami tidak mau berbohong. Contohnya ketika istri saya mengalami haidh sehingga tidak melaksanakan shalat. Kalau anak-anak (yang pertama dan kedua) saya ajak ke masjid untuk shalat maghrib atau isya’ (saya sampai di rumah sepulang kerja sudah malam), mereka suka bertanya: “Ibu tidak shalat?”. Terus terang saya merasa anak-anak seumur mereka belum waktunya dijelaskan tentang haidh. Makanya saya jawab saja: “Ibu mau neteki dede bayi dulu.” Ini sebenarnya bukan jawaban sesungguhnya kenapa ibu mereka tidak shalat, tapi pada saat mereka bertanya memang merupakan saat tidurnya adik bayi mereka yang perlu diteteki dulu. Jadi benar juga, tidak bohong.
Sebagian orang mengatakan bahwa orang tua jangan menjawab “tidak tahu” atas pertanyaan anak. Bagi saya, tidak apa-apa orang tua menjawab “tidak tahu” kalau memang tidak tahu, daripada berbohong atau asal menjawab yang ujung-ujungnya bikin susah sendiri. Lebih baik apa adanya, tapi di lain waktu ketika kita sudah dapat jawabannya, kita berikan jawaban itu kepada mereka. Ingat, nanti pun dengan semakin besar dan semakin dewasanya anak-anak kita, mereka akan dapat tahu bahwa dahulu kita orang tua mereka menjawab dengan kebohongan atau asal.
Anak-anak kita itu makhluk luar biasa, cuma badannya saja yang masih kecil sehingga banyak orang tua “mengecilkan” mereka….
Kamis, November 15, 2007
Membentuk karakter anak
Suatu saat saya pernah melihat secara sekilas sinetron “Bajaj Bajuri” di TV. Dalam sinetron itu si Oneng sering disebut oleh Emak, ibunya Oneng, dengan “Blo’on” atau suaminya dengan “O’on”. Saya jadi teringat pembahasan sikap ibunya ini dalam majalah “Auladi” (http://www.klik-auladi.com/) oleh seorang pakar di mana disebutkan di situ bahwa sikap Emak tersebut tidaklah semestinya karena kata-kata ibu itu merupakan doa bagi anaknya. Makanya jangan heran kalau Oneng blo’on karena didoakan terus oleh si Emak untuk jadi blo’on.
Tidak bisa dipungkiri bagaimana kata-kata orang tua dapat membentuk karakter anak. Contohnya seperti cerita di atas. Contoh lain dalam hal peniruan anak terhadap contoh dari orang taunya. Salah seorang kerabat saya mempunyai anak kecil yang suka membentak dan membangkang ibunya. Saya tidak heran karena ibunya sendiri suka membentak dan membangkang nenek anaknya (ibunya si ibu itu) di hadapan anaknya itu. Contoh lain lagi adalah tetangga saya yang mempunyai anak kecil juga yang suka memaki-maki. Saya tidak heran juga karena bapak dan ibunya memang suka memaki-maki. Hal seperti ini biasa terjadi kalau orang tua tidak bisa mengendalikan emosinya. Makanya kalau kita orang tua sedang marah ke anak, jangan sebut ia dengan sebutan-sebutan yang jelek. Panggil saja dengan “Sholeh!” (kalau anak laki-laki) atau “Sholehah!” (kalau anak perempuan). Biar mereka jadi anak sholeh/ah gitu, sekalipun kita lagi jengkel dengan sikap mereka.
Makanya saya jadi berhati-hati kalau berbicara dan bersikap di depan anak-anak saya. Untungnya kalau saya salah, istri saya suka menegur. Bahkan anak-anak saya juga kalau mendapati saya bersikap tidak baik yang tidak sesuai dengan kata-kata yang saya berikan kepada mereka, mereka bisa mengkritik. Dan biasanya saya langsung meminta maaf di hadapan mereka dan saya katakan bahwa saya tidak akan lagi bersikap begitu (Begitulah, orang tua tidak perlu malu meminta maaf kepada anak-anaknya).
Bahkan Nabi Muhammad telah memberi tuntunan kepada para suami yang mau “mendatangi” istrinya untuk berdoa sebelumnya dengan: “Bismillaah, Allaahumma jannibnasy-syaithaana wa jannibisy-syaithaana maa razaqtanaa” yang artinya kurang lebih: “Dengan nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah kami dari syetan dan jauhkanlah syetan dari apa yang Engkau rizqikan kepada kami (yaitu anak)”. Berarti dengan begini, orang tua sudah secara nyata membangun proteksi bagi anaknya, bahkan sebelum si anak itu “ada”. Tentunya proteksi dari syetan ini mempunyai maksud agar si anak tidak mudah tergelincir oleh syetan dan mempunyai “perilaku syetan”.
Disadari atau tidak, diakui atau tidak, kita sebagai orang tua berperan membentuk karakter anak-anak kita. Mau jadi apa dan mau bagaimana mereka, ya tergantung kita juga. Tinggal bagaimana kita bersikap yang semestinya.
Mudah-mudahan dapat menambah pencerahan yang sudah ada...
Langganan:
Postingan (Atom)