Pada suatu hari, salah satu stasiun TV swasta menayangkan suatu potongan wawancara dengan Kak Seto Mulyadi. Saya tidak ingat bahasan besar dari tayangan itu, tetapi yang saya ingat dari kata-kata Kak Seto itu adalah dialognya dengan seseorang yang dikritik oleh Kak Seto karena bersikap keras kepada anaknya. Kata Kak Seto, orang itu memberi tanggapan seperti ini: "Kak Seto, ini belum apa-apa. Dulu yang saya terima dari orang tua saya empat belas kali lebih keras daripada ini."
Empat belas kali? Bagaimana menghitungnya ya?
Sekedar cerita dulu: Pada mid semester kemarin, anak saya yang pertama dan kedua memberikan surat dari sekolah. Isinya tentang pembagian rapor, tapi kali ini disertai pembahasan hasil selama tri wulan ini dengan wali kelas selama 1/2 jam. Ya, masing-masing orang tua mendapat jadwal bertatap muka secara pribadi dengan wali kelas. Semacam konsultasi, begitu lah. Jadi kali ini tidak ada pembagian rapor di mana semua orang tua siswa berkumpul di satu ruangan kemudian dipanggil satu per satu ke depan ke meja guru untuk mengambil rapor anaknya.
Cerita saya kali ini tentang pertemuan dengan wali kelas anak saya yang pertama. Isi pertemuan pada awalnya membahas pencapaian akademik anak saya ini. Lumayan juga, rerata nilainya jika dibikin peringkat untuk satu kelasnya adalah nomor dua. Tapi terus terang, saya dan istri saya sebenarnya kurang begitu peduli tentang pencapaian akademik begituan. Bukan apa-apa ya, mungkin karena kami menganggap pencapaian akademik tadi hanya sebagian dari pencapaian anak kami, bukan satu-satunya yang harus diperhatikan. Ya, masih banyak lagi pencapaian anak kami yang harus kami perhatikan: sikap, kemandirian, kedewasaan, ...
Karena hal-hal selain pencapaian akademik bagi kami juga penting, makanya saya bertanya kepada wali kelas anak saya ini, apa saja sih kekurangan anak saya ini? Dijawab oleh wali kelas anak kami ini bahwa anak kami ini kurang teliti dan kurang bisa menegur temannya yang berbuat tidak baik atau tidak semestinya. Hmm...ya, saya pikir anak kami ini memang perlu lebih teliti. Sekalipun bisa mengerjakan soal, kalau tidak teliti ya sama saja, tentu hasilnya akan jelek. Adapun kalau anak kami ini kurang bisa menegur temannya, ya mungkin saja dia masih merasa segan untuk menegur langsung temannya. Paling-paling yang dia bisa adalah menyampaikan ke wali kelasnya untuk ditindaklanjuti. Ya tidak apa-apa, mungkin masih dalam proses dalam nahy munkar.
Lebih lanjut, saya bertanya kepada wali kelas anak saya ini, apakah anak saya ini bermasalah? Langsung saja wali kelas anak saya ini menjawab: "Oh, tidak, Pak. Justru saya bersyukur punya murid seperti anak Bapak ini yang tidak bermasalah". Iseng saja saya bertanya: "Apakah ada anak yang bermasalah?" Dijawab juga langsung oleh wali kelas anak saya ini: "Oh, banyak, Pak. Terutama yang laki-laki." Wah!
Lebih lanjut lagi, wali kelas anak saya ini menuturkan kelebihan-kelebihannya, misalnya mandiri dan hal-hal lain yang dimiliknya. Wah, saya sendiri cukup terkejut. Kok bisa ya? Padahal saya sendiri suka menegur anak saya ini yang kalau mengerjakan sesuatu di rumah masih belum menunjukkan kinerja yang sesuai standar saya.
Kinerja? Kok seperti bekerja di kantor saja ya? Terus apa hubungannya dengan kata-kata Kak Seto di atas?
Saya pikir, saya mungkin menggunakan standar "tinggi" buat anak saya. Padahal dengan usia seukuran anak saya ini, mungkin sebenarnya kinerjanya sudah cukup bagus, paling tidak di sekolahnya. Saya pikir lebih lanjut, ya barangkali karena saya memakai standar sebagaimana yang diterapkan orang tua saya dahulu kepada saya: bekerja harus sempurna menurut standar orang tua saya dan kalau tidak sesuai, ya harus terima "konsekuensi-konsekuensinya". Ini juga yang dipikir oleh istri saya tentang saya, yaitu bahwa sedikit banyak, "ajaran" orang tua ini kemudian menurun ke saya dan berpengaruh kepada saya dalam mengajari anak saya sendiri.
Bagus? Sebentar...
Kata-kata Kak Seto di atas sebenarnya menunjukkan hal yang sama, yaitu bahwa barangkali orang tua menerapkan sesuatu yang serupa dengan yang dilakukan oleh orang tuanya dulu kepada anaknya. Memang bisa jadi lebih "ringan". Namun tetap saja terjadi kecenderungan yang sama di mana praktik yang dulu terjadi, berulang di kemudian hari. Alhamdu lillaah kalau praktik yang diulang adalah yang baik, tetapi bisa saja kan, yang berulang adalah kekerasan atau penyiksaan. Tidak mustahil, bukan?
Nah, saya pikir, sudah saatnya kita sebagai orang tua melihat kembali apakah cara-cara kita mendidik anak sudah tepat? Apakah bukan sekedar karena dahulu orang tua kita begini, maka ya sekarang kita menerapkan yang serupa. Padahal, dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada orang tua kita, belum tentu apa yang dilakukan oleh orang tua kita itu benar semua. Kenapa? Karena tetap saja orang tua kita pun punya keterbatasan, sama dengan kita. Kalau karena keterbatasan kita kemudian kita berbuat sesuatu yang tidak tepat, berarti orang tua kita dahulu juga bisa begitu juga kan?
Selain itu, sebenarnya kita perlu untuk bisa menghargai kinerja yang sudah ditunjukkan oleh anak-anak kita. Bagaimana pun, kita harus menganggap bahwa mereka juga berupaya untuk menghasilkan kinerja yang bagus. Hanya saja, mungkin karena kita menggunakan standar yang terlalu tinggi buat mereka, akhirnya kita memandang mereka tidak berkinerja bagus. Padahal yang mereka tunjukkan sudah bagus, paling tidak buat usia dan lingkungan mereka.
Aji yang sekarang bukanlah Aji... Aji yang sekarang baru menuju menjadi Aji... Aji yang sebenarnya adalah Aji saat sakaratul maut...
Tampilkan postingan dengan label Luar biasanya anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Luar biasanya anak. Tampilkan semua postingan
Rabu, Desember 11, 2013
Selasa, November 19, 2013
Itu Cuma Wadahnya, Tergantung Kita Yang mengisinya
Tahun 2013 ini adalah waktunya bagi anak kami yang ketiga untuk masuk Sekolah Dasar. Namun atas dasar pertimbangan ini dan itu, akhirnya kami mendaftarkannya ke Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) tempat kakak-kakaknya bersekolah. Sebagaimana beberapa sekolah Islam yang lain, di MIS ini dilakukan tes kematangan kepada anak-anak yang didaftarkan untuk masuk. Dan pada awal tahun ini anak kami menjalani tes kematangan tersebut di MIS itu.
Karena kebetulan saya harus bekerja dan ibunya (maksud saya: istri saya) harus mengantar jemput adiknya (anak kami yang keempat) yang bersekolah juga di suatu PAUD yang jaraknya berjauhan dengan MIS itu, maka kami orang tuanya tidak bisa menungguinya selama menjalani tes. Kami titipkan saja dia kepada kakak-kakaknya. Maksudnya titip untuk dilihat-lihat selama tes dan kalau sudah selesai tes, ya ditemani.
Setelah menjemput anak kami yang keempat, istri saya langsung menjemput anak kami yang ketiga. ALhamdu lillaah anak kami ini bisa menjalani tes dengan lancar. Setelah selesai tes juga tidak ribut mencari-cari orang tuanya. Kata istri saya, anak kami ini setelah selesai tes, ya asyik saja lihat kakak-kakaknya bermain bersama teman-temannya. Bahkan ketika dia diajak pulang pun, masih sempat berkata "tunggu dulu". Mungkin masih merasa asyik melihat calon kakak-kakak angkatannya bermain-main di sekolah itu.
Beberapa bulan kemudian, ada undangan atau panggilan dari pihak sekolah (MIS di atas) kepada kami untuk melakukan konsultasi dengan psikolog yang melakukan tes kematangan pada anak kami. Karena istri saya tidak bisa hadir, akhirnya saya yang hadir sendirian untuk keperluan konsultasi ini. Dan singkat cerita, akhirnya saya datang pada hari dan jam yang ditentukan untuk konsultasi dengan sang psikolog.
Pada sesi konsultasi di atas, sang psikolog menerangkan terlebih dahulu istilah-istilah dan pengertian-pengertiannya dari skala yang dipakai untuk mengukur kematangan anak kami. Dan singkat cerita, pada kesempatan itu, sang psikolog menyampaikan bahwa anak kami mempunyai tingkat kemampuan yang di atas rata-rata, bahkan untuk beberapa hal, kemampuannya setingkat dengan anak yang usianya jauh di atasnya.
Saya pikir, "Ah masa sih?". Saya sendiri merasa bahwa anak saya itu biasa-biasa saja. Memang ada hal-hal yang sejujurnya saya bisa katakan istimewa atau tidak biasa pada anak saya itu, dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya (paling tidak yang kami kenal/temui). Makanya saya kemudian menanyakan, bagaimana metode yang dipakai untuk pengukuran itu, demi untuk meyakinkan diri saya sendiri atas pernyataan sang psikolog. Sang psikolog kemudian membeberkan secara singkat metode-metode yang dipakai dalam pengukuran untuk menjawab pertanyaan saya di atas. Memang ada hal-hal yang tetap tidak bisa saya mengerti, tapi secara umum saya bisa terima penjelasannya.
Ada hal yang cukup membuat saya berpikir cukup dalam dari penjelasan sang psikolog, yaitu kemampuan-kemampuan anak kami yang di atas rata-rata anak seusianya menurut hasil tes: "Itu cuma wadahnya saja, tergantung kita yang mengisinya". Saya memahaminya seperti ini: Hasil tes cuma menunjukkan potensi-potensinya saja, tergantung orang tuanya untuk menumbuhkembangkannya setelah itu dalam proses pendidikan anaknya.
Saya jadi teringat hadits Nabi Muhammad SAW di mana beliau menyebutkan bahwa tiap anak itu dilahirkan atas fitrahnya. Kemudian orang tuanya yang akan mengislamkannya, atau membuatnya jadi yahudi, nasrani, atau majusi. Dalam hadits ini jelas sekali diindikasikan bahwa anak itu sudah diberi potensi untuk baik dan dipastikan bahwa orang tua sangat berperan dalam membentuk si anak tersebut.
Makanya saya kemudian berpikir bahwa bisa jadi pada anak yang dipandang orang tuanya biasa-biasa saja, terdapat potensi yang besar sekali. Tinggal orang tuanya apakah bisa melihat potensi tersebut ataukah tidak. Mungkin perlu bantuan orang lain dalam menggali potensi anak (Kenapa tidak?). Kemudian ya tinggal orang tuanya lagi yang harus bisa membentuk anak dengan segala potensinya itu untuk tumbuh dan berkembang dengan baik.
Semoga Allah SWT memudahkan jalan kami dalam mendidik anak-anak kami sehingga dapat menjadi orang-orang yang shalih-shalihah yang dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain/masyarakat.
Karena kebetulan saya harus bekerja dan ibunya (maksud saya: istri saya) harus mengantar jemput adiknya (anak kami yang keempat) yang bersekolah juga di suatu PAUD yang jaraknya berjauhan dengan MIS itu, maka kami orang tuanya tidak bisa menungguinya selama menjalani tes. Kami titipkan saja dia kepada kakak-kakaknya. Maksudnya titip untuk dilihat-lihat selama tes dan kalau sudah selesai tes, ya ditemani.
Setelah menjemput anak kami yang keempat, istri saya langsung menjemput anak kami yang ketiga. ALhamdu lillaah anak kami ini bisa menjalani tes dengan lancar. Setelah selesai tes juga tidak ribut mencari-cari orang tuanya. Kata istri saya, anak kami ini setelah selesai tes, ya asyik saja lihat kakak-kakaknya bermain bersama teman-temannya. Bahkan ketika dia diajak pulang pun, masih sempat berkata "tunggu dulu". Mungkin masih merasa asyik melihat calon kakak-kakak angkatannya bermain-main di sekolah itu.
Beberapa bulan kemudian, ada undangan atau panggilan dari pihak sekolah (MIS di atas) kepada kami untuk melakukan konsultasi dengan psikolog yang melakukan tes kematangan pada anak kami. Karena istri saya tidak bisa hadir, akhirnya saya yang hadir sendirian untuk keperluan konsultasi ini. Dan singkat cerita, akhirnya saya datang pada hari dan jam yang ditentukan untuk konsultasi dengan sang psikolog.
Pada sesi konsultasi di atas, sang psikolog menerangkan terlebih dahulu istilah-istilah dan pengertian-pengertiannya dari skala yang dipakai untuk mengukur kematangan anak kami. Dan singkat cerita, pada kesempatan itu, sang psikolog menyampaikan bahwa anak kami mempunyai tingkat kemampuan yang di atas rata-rata, bahkan untuk beberapa hal, kemampuannya setingkat dengan anak yang usianya jauh di atasnya.
Saya pikir, "Ah masa sih?". Saya sendiri merasa bahwa anak saya itu biasa-biasa saja. Memang ada hal-hal yang sejujurnya saya bisa katakan istimewa atau tidak biasa pada anak saya itu, dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya (paling tidak yang kami kenal/temui). Makanya saya kemudian menanyakan, bagaimana metode yang dipakai untuk pengukuran itu, demi untuk meyakinkan diri saya sendiri atas pernyataan sang psikolog. Sang psikolog kemudian membeberkan secara singkat metode-metode yang dipakai dalam pengukuran untuk menjawab pertanyaan saya di atas. Memang ada hal-hal yang tetap tidak bisa saya mengerti, tapi secara umum saya bisa terima penjelasannya.
Ada hal yang cukup membuat saya berpikir cukup dalam dari penjelasan sang psikolog, yaitu kemampuan-kemampuan anak kami yang di atas rata-rata anak seusianya menurut hasil tes: "Itu cuma wadahnya saja, tergantung kita yang mengisinya". Saya memahaminya seperti ini: Hasil tes cuma menunjukkan potensi-potensinya saja, tergantung orang tuanya untuk menumbuhkembangkannya setelah itu dalam proses pendidikan anaknya.
Saya jadi teringat hadits Nabi Muhammad SAW di mana beliau menyebutkan bahwa tiap anak itu dilahirkan atas fitrahnya. Kemudian orang tuanya yang akan mengislamkannya, atau membuatnya jadi yahudi, nasrani, atau majusi. Dalam hadits ini jelas sekali diindikasikan bahwa anak itu sudah diberi potensi untuk baik dan dipastikan bahwa orang tua sangat berperan dalam membentuk si anak tersebut.
Makanya saya kemudian berpikir bahwa bisa jadi pada anak yang dipandang orang tuanya biasa-biasa saja, terdapat potensi yang besar sekali. Tinggal orang tuanya apakah bisa melihat potensi tersebut ataukah tidak. Mungkin perlu bantuan orang lain dalam menggali potensi anak (Kenapa tidak?). Kemudian ya tinggal orang tuanya lagi yang harus bisa membentuk anak dengan segala potensinya itu untuk tumbuh dan berkembang dengan baik.
Semoga Allah SWT memudahkan jalan kami dalam mendidik anak-anak kami sehingga dapat menjadi orang-orang yang shalih-shalihah yang dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain/masyarakat.
Rabu, Maret 12, 2008
Jangan Meremehkan Pertanyaan Anak
Saya ingat pada saat musim kemarau yang baru lalu ketika pulang dari masjid bersama anak pertama saya, ia bertanya kenapa tidak turun hujan. Saya jawab bahwa sekarang musim kemarau sehingga tidak turun hujan.
Suatu saat (masih dalam musim kemarau), ketika lagi-lagi saya pergi berboncengan naik motor bersama anak pertama saya, kami melewati sebuah jalan yang di sampingnya terdapat pohon-pohon yang berguguran daunnya dengan jumlah yang sangat banyak sehingga menutupi sebagian besar badan jalan itu. Di situ saya berkata kepadanya, “Di musim kemarau pohon-pohon ini meranggas, artinya mengugurkan daun-daunnya supaya mereka tidak cepat kekeringan.”
Sekarang tibalah akhir musim kemarau yang kebetulan juga disertai dengan beberapa kali hujan (Kata orang BMG mah: “Kemarau Basah”). Pada saat itu saya bepergian naik motor bersama anak pertama saya lagi melewati suatu jalan besar yang tertutupi sebagian badannya oleh dedaunan pohon-pohon yang meranggas. Oh ya, kebetulan kemarin hujan. Melihat dedaunan yang banyak ini, anak saya kemudian berkata: “Ayah, sekarang kemarau, tapi kemarin hujan.”
Kata-kata anak saya ini memang pendek, tapi membuat saya jadi berpikir bahwa anak ini mengingat penjelasan-penjelasan saya yang dulu, menyambungnya, lalu membuat kesimpulan dengan logika yang berbeda dengan penjelasan saya, tapi benar. Dengan kata lain, sebenarnya anak saya juga mempertanyakan penjelasan saya yang dulu itu.
Benar bahwa pada dasarnya anak punya keinginan untuk tahu, kemampuan untuk menyerap suatu informasi dari mana saja (bahkan yang cuma terlintas sepersekian detik), mengingat, menalar, dan mengambil kesimpulan, tidak peduli apakah informasi yang diterimanya lengkap atau tidak, atau kesimpulannya benar atau tidak. Karena ini pula, saya dan istri berusaha menjawab pertanyaan dengan jujur, tentunya disesuaikan dengan umur anak. Kalau sekiranya jawaban yang sebenarnya belum bisa dimengerti begitu saja oleh anak saya, ya terpaksa diberi jawaban lain yang juga benar karena kami tidak mau berbohong. Contohnya ketika istri saya mengalami haidh sehingga tidak melaksanakan shalat. Kalau anak-anak (yang pertama dan kedua) saya ajak ke masjid untuk shalat maghrib atau isya’ (saya sampai di rumah sepulang kerja sudah malam), mereka suka bertanya: “Ibu tidak shalat?”. Terus terang saya merasa anak-anak seumur mereka belum waktunya dijelaskan tentang haidh. Makanya saya jawab saja: “Ibu mau neteki dede bayi dulu.” Ini sebenarnya bukan jawaban sesungguhnya kenapa ibu mereka tidak shalat, tapi pada saat mereka bertanya memang merupakan saat tidurnya adik bayi mereka yang perlu diteteki dulu. Jadi benar juga, tidak bohong.
Sebagian orang mengatakan bahwa orang tua jangan menjawab “tidak tahu” atas pertanyaan anak. Bagi saya, tidak apa-apa orang tua menjawab “tidak tahu” kalau memang tidak tahu, daripada berbohong atau asal menjawab yang ujung-ujungnya bikin susah sendiri. Lebih baik apa adanya, tapi di lain waktu ketika kita sudah dapat jawabannya, kita berikan jawaban itu kepada mereka. Ingat, nanti pun dengan semakin besar dan semakin dewasanya anak-anak kita, mereka akan dapat tahu bahwa dahulu kita orang tua mereka menjawab dengan kebohongan atau asal.
Anak-anak kita itu makhluk luar biasa, cuma badannya saja yang masih kecil sehingga banyak orang tua “mengecilkan” mereka….
Langganan:
Postingan (Atom)