Barusan sore tadi ada mahasiswa saya yang menghadap saya ke ruangan saya. Singkat kata, dia mau mengundurkan diri karena ada 2-3 mata kuliah pada semester ini yang dia tidak bisa pahami.
Saya heran karena sebenarnya mahasiswa ini sejak dia masuk, menunjukkan prestasi yang bagus. Nilainya kalau bukan A, ya B. Jadi saya pandang, dia ini punya potensi besar dalam memahami kuliah, bahkan jika dibandingkan teman-temannya yang lain. Tentu saya sekali jika potensinya "diputus" begitu saja dengan pengunduran dirinya.
Setelah saya mendengar kemauannya tersebut, saya katakan bahwa saya berkeberatan dengan pengunduran dirinya. Kemudian saya coba gali latar belakang atau sebab yang membuatnya menyatakan kemauan mengundurkan diri tersebut.
Dia bercerita bahwa pada awalnya dia mengalami kesulitan memahami beberapa mata kuliah tersebut. Dia sudah coba bertanya kepada teman-temannya yang paham, bahkan dosen-dosennya, tapi tetap saja tidak paham. Puncaknya pada saat UAS pada salah satu mata kuliah tersebut, dia tidak bisa jawab sama sekali. Lembar jawabannya sampai kosong. Sejak itulah dia down.
Saya tanyakan apakah ada kegiatan-kegiatan atau sesuatu yang lain di luar yang mengganggu belajarnya, dia katakan tidak ada. Tapi kemudian dia katakan bahwa dia merasa dengan kondisi yang dia alami di atas, nilai semester ini akan turun. Yang dia khawatirkan adalah nilai kumulatif nantinya akan turun. Selain itu juga harapan orang tuanya yang mungkin jadi tidak terpenuhi, karena nilai yang tidak sesuai ekspektasinya.
Setelah mendengar penuturannya, saya kemudian bercerita, kilas balik tentang perjalanan kuliah S1 saya. Saya ceritakan bahwa dulu nilai-nilai saya banyak C-nya. Bahkan ada kuliah-kuliah yang saya ulang sampai jadi hattrick, maksudnya diulang sampai 4 kali. Tapi saya sampaikan juga, bahwa mungkin dia dan saya berbeda. Saya katakan bahwa saya pernah beberapa kali gagal, sampai sekarang. Jadi kalau kemudian gagal lagi, ya seakan biasa saja. Sedangkan dia, mungkin selama ini selalu mendapatkan hasil yang bagus, yang sesuai keinginannya. Tapi begitu dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, langsung down. Oleh karena itu, saya sampaikan kepadanya bahwa itulah hidup, tidak semua yang dia inginkan akan dia dapatkan. Saya sampaikan bahwa mungkin ada hal lagi nantinya yang lebih parah daripada yang sekarang. Kalau dia down sekarang, bagaimana nanti?
Saudara-saudara,
Saya bukannya memberikan alasan kegagalan sehingga orang harus merasa biasa kalau gagal. Saya cuma perlu menyampaikan bahwa dalam hidup, ada saja kemungkinan di mana kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Pada sebagian kondisi/perkara, bisa saja kita sebut itu ujian. Kalau sudah begini, ingat bahwa tiap manusia pasti akan diuji. Saya ambil dari https://almanhaj.or.id/3450-setiap-muslim-akan-menghadapi-ujian-dan-cobaan.html:
لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan [Âli ‘Imrân/3 : 186]
Catatan:
Sebagai bahan pemikiran juga, perlu dilihat juga bagaimana proses pendidikan anak oleh orang tua. Orang yang pada masa kecil atau remaja selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, tidak pernah merasakan kerasnya hidup atau kegagalan, bahkan mungkin semua hal dipenuhi atau dilayani orang tua, bisa mudah down ketika mengalami sekali kegagalan atau tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Dia mungkin akan membentuk anaknya dengan cara serupa. Dan akhirnya akan membentuk karakter anaknya serupa dengan karakter dirinya.
Sekedar selingan, saya kutip potongan puisi yang katanya dari Jendral McArthur berjudul "Doa Untuk Putraku" dari http://www.kompasiana.com/elynrambukaborang/doa-untuk-putraku-dari-jenderal-douglas-macarthur_55009537a333113072511514:
----
----
Ya Tuhan, bimbinglah ia bukan di jalan yang gampang dan mudah tetapi di jalan penuh desakan, tantangan dan kesukaran Ajarilah ia: agar ia sanggup berdiri tegak di tengah badai dan belajar mengasihi mereka yang tidak berhasil
---
---
Ditulis di Bandung untuk materi Kuliah via WA grup Alumni Al-Ikhlash, Kubang Selatan, Coblong, Bandung
Aji yang sekarang bukanlah Aji... Aji yang sekarang baru menuju menjadi Aji... Aji yang sebenarnya adalah Aji saat sakaratul maut...
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan anak. Tampilkan semua postingan
Jumat, Oktober 14, 2016
Rabu, Agustus 15, 2012
Gampang Makan, Susah Shaum..Susah Makan, Gampang Shaum
Ramadhan ini kami mencoba mengajak anak ke-3 kami untuk ikut shaum. Anak kami ini laki-laki, umur hampir 5 1/2 tahun, masih sekolah di TK. Sebenarnya kami sendiri tidak begitu serius mengajaknya ikut shaum, karena maklum bahwa dia masih cukup kecil, masih suka ngemil, belum sadar benar tentang kewajiban ibadah. Namun karena kami merasa perlu melakukan pengenalan dan tentu saja pembiasaan, kami ajak begitu saja diiringi optimisme yang rendah, karena terus terang kami tidak yakin anak kami ini bisa menjalani shaum secara penuh.
Hari-hari awal Ramadhan sepertinya tidak ada yang berubah buat anak kami ini: makannya tetap saja pagi, siang, sore. Artinya belum bisa ikut shaum. Yah..tidak apa-apa, namanya juga anak-anak. Namun selanjutnya ternyata berbeda!
Hari-hari kemudiannya, ternyata dia bisa menurut ketika "ditahan" untuk tidak makan dan minum. Tentu bukan hal yang mudah buat dia, apalagi melihat adiknya yang masih sekolah di Play Group, belum berumur 4 tahun, makan siang di depannya. Tidak jarang dia merayu-rayu ibunya untuk memberinya makan juga. Namun alhamdu lillaah, cukup dengan diminta sabar sampai maghrib, mau menurut juga. Akhirnya tentu hari-hari selanjutnya bisa dilalui dengan shaum sampai maghrib. Pasti tidak mudah baginya, apalagi melihat anak-anak tetangga yang umurnya tidak jauh dengannya (bahkan ada yang di atasnya) makan siang begitu saja.
Bagi kami orang tuanya, perjuangan anak kami ini sudah dimulai dari saat sahur. Sebelum Ramadhan, biasanya anak kami ini bangun shubuh sebagaimana umumnya untuk shalat shubuh. Ini sendiri sudah menjadi sesuatu yang berat, bukan? Dan sekarang, harus bangun sebelum shubuh, yang tentu saja lebih berat lagi. Dengan masih terkantuk-kantuk, makan sendiri sahurnya merupakan proses yang panjang, karena sering terhenti karena matanya terpejam. Yah..akhirnya tentu saja, harus disuapi ibunya, sambil terus menegakkan badannya dan membukakan matanya. Kalau tidak, proses makan berhenti, badannya condong, dan akhirnya gubrak!!..berbaring lagi.
Anak kami ini sebenarnya gampang makan, suka ngemil, apalagi kalau dapat makanan yang dia sukai, sekalipun badannya sendiri cukup kecil, kurus malah (Tapi karena makannya gampang, gerak dan aktivitasnya bagus, kami tidak khawatir). Bisa dibayangkan, ketika anak yang gampang makan, tiba-tiba akses ke makanan dihentikan (maksudnya dengan shaum), tentu ini masalah besar. Berbeda dengan anak yang memang biasanya susah makan, kalaupun tidak dikasih makan sama sekali pun (ekstremnya nih), tentu "tidak menjadi masalah" (Sebenarnya masalah juga, dari mana anak ini dapat nutrisi cukup kalau makannya seperti itu?).
Sekedar cerita saja, kebetulan ada anak tetangga yang seumuran dengan anak kami ini, bahkan satu sekolah, cuma beda kelas saja. Anak tetangga kami ini susah sekali makannya, bahkan dalam 1 sampai 2 hari bisa saja tidak kemasukan nasi, sekalipun minum susunya kuat sekali. Makanya bapaknya sendiri bisa bilang bahwa bagi anaknya ini, shaum atau tidak shaum sama saja, karena dasarnya susah makan.
Alhamdu lillaah, anak ke-3 kami ini bisa menjalani shaum sampai hari-hari terakhir Ramadhan dengan lancar. Godaan baginya tentu saja ada terus, apalagi pada hari-hari terakhir ini, waktunya bikin kue-kue lebaran (Kebetulan anak-anak kami sudah masuk libur lebaran. Untuk mengisi waktu, di samping membaca Al-Quran, mengaji di masjid dsb, anak-anak ingin membuat kue-kue lebaran. Ya sudah, akhirnya istri saya membeli bahan-bahannya untuk dibikin bersama-sama). Kegiatan membikin kue-kue ini tentu kegiatan yang menyenangkan, tapi sekaligus menggoda. Kenapa? Karena anak-anak membikin kue-kue kesukaan mereka, seperti Putri Salju dsb. Bagi anak-anak kami yang sudah besar, tentu saja sudah bukan masalah, tapi tidak bagi anak ke-3 kami ini. Lagi-lagi, dia merayu-rayu ibunya untuk mencicipi, sedikit saja. Tapi lagi-lagi, alhamdu lillaah dengan diminta sabar sampai maghrib, sudah cukup baginya sebagai penahan.
Menurut kami orang tuanya, anak ke-3 kami ini bukan tipe anak yang suka menuntut kalau punya mau, apalagi sampai tantrum segala. Mudah diberi pengertian, tidak suka protes kalau tidak mendapat apa yang dia maui. Pendeknya, gampang lah kalau berurusan dengan anak kami ini, termasuk urusan shaum ini.
Alhamdu lillaah...
Hari-hari awal Ramadhan sepertinya tidak ada yang berubah buat anak kami ini: makannya tetap saja pagi, siang, sore. Artinya belum bisa ikut shaum. Yah..tidak apa-apa, namanya juga anak-anak. Namun selanjutnya ternyata berbeda!
Hari-hari kemudiannya, ternyata dia bisa menurut ketika "ditahan" untuk tidak makan dan minum. Tentu bukan hal yang mudah buat dia, apalagi melihat adiknya yang masih sekolah di Play Group, belum berumur 4 tahun, makan siang di depannya. Tidak jarang dia merayu-rayu ibunya untuk memberinya makan juga. Namun alhamdu lillaah, cukup dengan diminta sabar sampai maghrib, mau menurut juga. Akhirnya tentu hari-hari selanjutnya bisa dilalui dengan shaum sampai maghrib. Pasti tidak mudah baginya, apalagi melihat anak-anak tetangga yang umurnya tidak jauh dengannya (bahkan ada yang di atasnya) makan siang begitu saja.
Bagi kami orang tuanya, perjuangan anak kami ini sudah dimulai dari saat sahur. Sebelum Ramadhan, biasanya anak kami ini bangun shubuh sebagaimana umumnya untuk shalat shubuh. Ini sendiri sudah menjadi sesuatu yang berat, bukan? Dan sekarang, harus bangun sebelum shubuh, yang tentu saja lebih berat lagi. Dengan masih terkantuk-kantuk, makan sendiri sahurnya merupakan proses yang panjang, karena sering terhenti karena matanya terpejam. Yah..akhirnya tentu saja, harus disuapi ibunya, sambil terus menegakkan badannya dan membukakan matanya. Kalau tidak, proses makan berhenti, badannya condong, dan akhirnya gubrak!!..berbaring lagi.
Anak kami ini sebenarnya gampang makan, suka ngemil, apalagi kalau dapat makanan yang dia sukai, sekalipun badannya sendiri cukup kecil, kurus malah (Tapi karena makannya gampang, gerak dan aktivitasnya bagus, kami tidak khawatir). Bisa dibayangkan, ketika anak yang gampang makan, tiba-tiba akses ke makanan dihentikan (maksudnya dengan shaum), tentu ini masalah besar. Berbeda dengan anak yang memang biasanya susah makan, kalaupun tidak dikasih makan sama sekali pun (ekstremnya nih), tentu "tidak menjadi masalah" (Sebenarnya masalah juga, dari mana anak ini dapat nutrisi cukup kalau makannya seperti itu?).
Sekedar cerita saja, kebetulan ada anak tetangga yang seumuran dengan anak kami ini, bahkan satu sekolah, cuma beda kelas saja. Anak tetangga kami ini susah sekali makannya, bahkan dalam 1 sampai 2 hari bisa saja tidak kemasukan nasi, sekalipun minum susunya kuat sekali. Makanya bapaknya sendiri bisa bilang bahwa bagi anaknya ini, shaum atau tidak shaum sama saja, karena dasarnya susah makan.
Alhamdu lillaah, anak ke-3 kami ini bisa menjalani shaum sampai hari-hari terakhir Ramadhan dengan lancar. Godaan baginya tentu saja ada terus, apalagi pada hari-hari terakhir ini, waktunya bikin kue-kue lebaran (Kebetulan anak-anak kami sudah masuk libur lebaran. Untuk mengisi waktu, di samping membaca Al-Quran, mengaji di masjid dsb, anak-anak ingin membuat kue-kue lebaran. Ya sudah, akhirnya istri saya membeli bahan-bahannya untuk dibikin bersama-sama). Kegiatan membikin kue-kue ini tentu kegiatan yang menyenangkan, tapi sekaligus menggoda. Kenapa? Karena anak-anak membikin kue-kue kesukaan mereka, seperti Putri Salju dsb. Bagi anak-anak kami yang sudah besar, tentu saja sudah bukan masalah, tapi tidak bagi anak ke-3 kami ini. Lagi-lagi, dia merayu-rayu ibunya untuk mencicipi, sedikit saja. Tapi lagi-lagi, alhamdu lillaah dengan diminta sabar sampai maghrib, sudah cukup baginya sebagai penahan.
Menurut kami orang tuanya, anak ke-3 kami ini bukan tipe anak yang suka menuntut kalau punya mau, apalagi sampai tantrum segala. Mudah diberi pengertian, tidak suka protes kalau tidak mendapat apa yang dia maui. Pendeknya, gampang lah kalau berurusan dengan anak kami ini, termasuk urusan shaum ini.
Alhamdu lillaah...
Rabu, Maret 12, 2008
Jangan Meremehkan Pertanyaan Anak
Saya ingat pada saat musim kemarau yang baru lalu ketika pulang dari masjid bersama anak pertama saya, ia bertanya kenapa tidak turun hujan. Saya jawab bahwa sekarang musim kemarau sehingga tidak turun hujan.
Suatu saat (masih dalam musim kemarau), ketika lagi-lagi saya pergi berboncengan naik motor bersama anak pertama saya, kami melewati sebuah jalan yang di sampingnya terdapat pohon-pohon yang berguguran daunnya dengan jumlah yang sangat banyak sehingga menutupi sebagian besar badan jalan itu. Di situ saya berkata kepadanya, “Di musim kemarau pohon-pohon ini meranggas, artinya mengugurkan daun-daunnya supaya mereka tidak cepat kekeringan.”
Sekarang tibalah akhir musim kemarau yang kebetulan juga disertai dengan beberapa kali hujan (Kata orang BMG mah: “Kemarau Basah”). Pada saat itu saya bepergian naik motor bersama anak pertama saya lagi melewati suatu jalan besar yang tertutupi sebagian badannya oleh dedaunan pohon-pohon yang meranggas. Oh ya, kebetulan kemarin hujan. Melihat dedaunan yang banyak ini, anak saya kemudian berkata: “Ayah, sekarang kemarau, tapi kemarin hujan.”
Kata-kata anak saya ini memang pendek, tapi membuat saya jadi berpikir bahwa anak ini mengingat penjelasan-penjelasan saya yang dulu, menyambungnya, lalu membuat kesimpulan dengan logika yang berbeda dengan penjelasan saya, tapi benar. Dengan kata lain, sebenarnya anak saya juga mempertanyakan penjelasan saya yang dulu itu.
Benar bahwa pada dasarnya anak punya keinginan untuk tahu, kemampuan untuk menyerap suatu informasi dari mana saja (bahkan yang cuma terlintas sepersekian detik), mengingat, menalar, dan mengambil kesimpulan, tidak peduli apakah informasi yang diterimanya lengkap atau tidak, atau kesimpulannya benar atau tidak. Karena ini pula, saya dan istri berusaha menjawab pertanyaan dengan jujur, tentunya disesuaikan dengan umur anak. Kalau sekiranya jawaban yang sebenarnya belum bisa dimengerti begitu saja oleh anak saya, ya terpaksa diberi jawaban lain yang juga benar karena kami tidak mau berbohong. Contohnya ketika istri saya mengalami haidh sehingga tidak melaksanakan shalat. Kalau anak-anak (yang pertama dan kedua) saya ajak ke masjid untuk shalat maghrib atau isya’ (saya sampai di rumah sepulang kerja sudah malam), mereka suka bertanya: “Ibu tidak shalat?”. Terus terang saya merasa anak-anak seumur mereka belum waktunya dijelaskan tentang haidh. Makanya saya jawab saja: “Ibu mau neteki dede bayi dulu.” Ini sebenarnya bukan jawaban sesungguhnya kenapa ibu mereka tidak shalat, tapi pada saat mereka bertanya memang merupakan saat tidurnya adik bayi mereka yang perlu diteteki dulu. Jadi benar juga, tidak bohong.
Sebagian orang mengatakan bahwa orang tua jangan menjawab “tidak tahu” atas pertanyaan anak. Bagi saya, tidak apa-apa orang tua menjawab “tidak tahu” kalau memang tidak tahu, daripada berbohong atau asal menjawab yang ujung-ujungnya bikin susah sendiri. Lebih baik apa adanya, tapi di lain waktu ketika kita sudah dapat jawabannya, kita berikan jawaban itu kepada mereka. Ingat, nanti pun dengan semakin besar dan semakin dewasanya anak-anak kita, mereka akan dapat tahu bahwa dahulu kita orang tua mereka menjawab dengan kebohongan atau asal.
Anak-anak kita itu makhluk luar biasa, cuma badannya saja yang masih kecil sehingga banyak orang tua “mengecilkan” mereka….
Kamis, November 15, 2007
Membentuk karakter anak
Suatu saat saya pernah melihat secara sekilas sinetron “Bajaj Bajuri” di TV. Dalam sinetron itu si Oneng sering disebut oleh Emak, ibunya Oneng, dengan “Blo’on” atau suaminya dengan “O’on”. Saya jadi teringat pembahasan sikap ibunya ini dalam majalah “Auladi” (http://www.klik-auladi.com/) oleh seorang pakar di mana disebutkan di situ bahwa sikap Emak tersebut tidaklah semestinya karena kata-kata ibu itu merupakan doa bagi anaknya. Makanya jangan heran kalau Oneng blo’on karena didoakan terus oleh si Emak untuk jadi blo’on.
Tidak bisa dipungkiri bagaimana kata-kata orang tua dapat membentuk karakter anak. Contohnya seperti cerita di atas. Contoh lain dalam hal peniruan anak terhadap contoh dari orang taunya. Salah seorang kerabat saya mempunyai anak kecil yang suka membentak dan membangkang ibunya. Saya tidak heran karena ibunya sendiri suka membentak dan membangkang nenek anaknya (ibunya si ibu itu) di hadapan anaknya itu. Contoh lain lagi adalah tetangga saya yang mempunyai anak kecil juga yang suka memaki-maki. Saya tidak heran juga karena bapak dan ibunya memang suka memaki-maki. Hal seperti ini biasa terjadi kalau orang tua tidak bisa mengendalikan emosinya. Makanya kalau kita orang tua sedang marah ke anak, jangan sebut ia dengan sebutan-sebutan yang jelek. Panggil saja dengan “Sholeh!” (kalau anak laki-laki) atau “Sholehah!” (kalau anak perempuan). Biar mereka jadi anak sholeh/ah gitu, sekalipun kita lagi jengkel dengan sikap mereka.
Makanya saya jadi berhati-hati kalau berbicara dan bersikap di depan anak-anak saya. Untungnya kalau saya salah, istri saya suka menegur. Bahkan anak-anak saya juga kalau mendapati saya bersikap tidak baik yang tidak sesuai dengan kata-kata yang saya berikan kepada mereka, mereka bisa mengkritik. Dan biasanya saya langsung meminta maaf di hadapan mereka dan saya katakan bahwa saya tidak akan lagi bersikap begitu (Begitulah, orang tua tidak perlu malu meminta maaf kepada anak-anaknya).
Bahkan Nabi Muhammad telah memberi tuntunan kepada para suami yang mau “mendatangi” istrinya untuk berdoa sebelumnya dengan: “Bismillaah, Allaahumma jannibnasy-syaithaana wa jannibisy-syaithaana maa razaqtanaa” yang artinya kurang lebih: “Dengan nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah kami dari syetan dan jauhkanlah syetan dari apa yang Engkau rizqikan kepada kami (yaitu anak)”. Berarti dengan begini, orang tua sudah secara nyata membangun proteksi bagi anaknya, bahkan sebelum si anak itu “ada”. Tentunya proteksi dari syetan ini mempunyai maksud agar si anak tidak mudah tergelincir oleh syetan dan mempunyai “perilaku syetan”.
Disadari atau tidak, diakui atau tidak, kita sebagai orang tua berperan membentuk karakter anak-anak kita. Mau jadi apa dan mau bagaimana mereka, ya tergantung kita juga. Tinggal bagaimana kita bersikap yang semestinya.
Mudah-mudahan dapat menambah pencerahan yang sudah ada...
Langganan:
Postingan (Atom)